Setiap kali kita berani melangkahkan kaki ke suatu tempat, berarti kita telah memutuskan untuk menjadi bagian sejarah disana.
hari itu adalah hari kamis. berawal dari bbm an biasa saja dengan seorang teman, lalu pembicaraan bermuara pada sebuah ajakan untuk membawa materi di sebuah sekolah swasta, tanpa imbalan. di tengah jadwal agenda yang hampir penuh saya tiba-tiba ditawari satu kegiatan lagi. dan, tidak mengerti bagaimana, ketika ditawari ajakan demikian saya langsung meng-iya-kan saja. 'buat pengalaman' saya langsung membatin. pada dasarnya saya memang orang yang suka melakukan hal-hal yang baru. saya suka mengoleksi 'pelajaran' dari 'pengalaman'. lagipula saya juga suka bertemu dengan orang-orang baru, apalagi anak-anak.
tidak lama setelah meng-iya-kan tawaran itu saya melongok ke agenda saya. satu minggu itu, jadwalnya memang sedang padat-padatnya. alamak. besoknya, jumat-minggu saya ada acara gereja di puncak, senin pagi hingga sore saya ada briefing pengenalan universitas, dan kegiatan yang sudah terlanjur saya 'iya-kan' itu jatuh di hari selasa pagi. pada hari selasa, agenda saya juga sebenarnya sudah cukup penuh-siang harinya, saya ada jadwal konsultasi dengan dosen pembimbing akademik, sorenya saya harus 'mampir' ke kantor M&PR, dan malamnya saya sudah ada janji untuk makan malam bersama di sebuah mal. belum lagi masih ada deadline pekerjaan sebuah design yang harus saya selesaikan. sesaat setelah menelusuri agenda, saya tiba-tiba jadi galau. "wah, kapan preparationnya nih?", dan lagipula "pasti akan capek-capek banget deh"
**
Akhirnya hari itu pun tiba.
selasa pagi di sebuah sekolah di bilangan juanda, kagetnya bukan main. ternyata anak-anak yang menunggu begitu banyak jumlahnya. ketika membicarakan tentang ini, teman saya sama sekali tidak mengatakan auditoriumnya akan sebesar itu dan anak-anaknya akan sebanyak itu. dua angkatan, beberapa kelas dalam satu angkatan.
menit demi menit berlalu, teman saya melakukan bagiannya dengan cukup rapih. lalu kami masuk ke dalam dinamika, kami bermain bersama, bercanda dan tertawa bersama. ke-dingin-an mulai mencair. saya mulai bisa merasakan aura anak-anak SMP di ruangan itu. seorang anak, namanya felix- ia duduk dibarisan belakang, dengan begitu berani ia mengacungkan jari ketika teman saya melempar pertanyaan. lain lagi dengan bambang, anak laki-laki bertubuh tambun dan berwajah oriental ini sepertinya favorit teman-temannya, ia sering di elu-elukan teman-temannya. bambang adalah anak yang friendly dan pemberani. dalam kelompok lain lagi, ada kumpulan anak laki-laki yang kelihatan nakal dan berisik, tapi ketika disuruh maju ke depan mereka sangat malu-malu dan melakukan tingkah konyol. ya, mereka mengingatkan saya akan tahun-tahun yang telah saya lalui kala saya masih seusia mereka.
sesi pertama selesai, anak-anak pergi kembali ke kelas. kini, yang kami hadapi adalah anak-anak dengan wajah lebih polos. malu-malu, mungkin itu adalah kata yang tepat menggambarkan mereka saat itu.keluguan jelas tersirat dari wajah mereka. favorit saya, salah satunya adalah Jordan. anak laki-laki mungil-tampan-cerdas ini duduk di barisan paling depan. ia sangat lugu, mengaku suka bertengkar dengan temannya, setelah ditanya lebih lanjut "berantemnya lewat facebook" begitu ujarnya. "dasar anak jaman sekarang", ujar saya membatin sambil tersenyum. ada lagi yang lainnya, anak perempuan bertubuh agak gemuk, chinese, berkulit putih, berkacamata, berkepang dua, tiba-tiba mimisan ketika bermain. entah mungkin kelelahan atau mungkin ada penyebab lainnya, ia langsung dibawa keluar auditorium. dan lain lagi seorang anak perempuan yang duduk dibarisan kanan, mungil, berambut pendek, bermata besar, berkacatmata, sejak awal memandangi saya terus dengan lugu. bagaimanapun rupa-nya, apapun yang mereka perbuat, anak-anak ini sangatlah menyenangkan.
'rasa capek' yang saya khawatirkan sejak awal sepertinya tidak terasa. bertemu dengan anak-anak ini adalah pengalaman yang mengesankan. saya perhatikan wajahnya beberapa, lucu-polos-lugu-nakal. seperti ada cercah harapan dalam setiap keluguan itu, "ini adalah anak-anak penentu masa depan", mereka nantinya akan tumbuh besar seperti saya, dan mereka masing-masing akan menjadi sesuatu. selamat bertumbuh adik-adik ! pertemuan di selasa pagi itu memang sangatlah singkat, namun pengalaman ini tidak akan pernah singkat- ia telah menjadi bagian dalam sejarah saya. tiga jam yang luar biasa, anak-anak yang luar biasa.
ps: terimakasih sobat, sudah menawarkan ajakan itu pada saya, terimakasih sudah mengizinkan saya mengalami tiga jam yang luar biasa dengan anak-anak yang luar biasa. dan tentunya dengan anda juga, sahabat saya yang luar biasa