waiting


hello world. bonsoar !

malam hari. lelah. ngantuk. habis kuliah. terjebak. menunggu. menunggu. dan sedang menunggu.

yap, sekarang ini saya sedang duduk manis didepan sebuah komputer di sebuah restoran cepat saji. ya, fasilitas komputer beserta wifi nya memang marak disediakan oleh banyak restoran-cafe-bar di ibukota. simbiosis mutualisme, banyak orang ramai-ramai menggunakan fasilitas yang menyenangkan - restoran menjadi ramai, saling menguntungkan bukan?

yak, beruntung. di malam yang tiba-tiba suntuk ini, ketika saya diharuskan menunggu seseorang dengan waktu yang lama, saya beruntung menemukan tempat ini.

ya, menunggu memang tidak melulu jadi sebuah bencana,  sebenarnya toh kita bisa melakukan banyak hal yang kadang malah tidak bisa kita lakukan di keadaan yang berbeda..misalkan saja menengok kembali blog yang ternyata sudah mulai berdebu, mendapat inspirasi menulis, lalu berceloteh tidak karuan disini...dan sama seperti suatu ketika saya harus menunggu teman di sebuah tempat, saat itu saya tersadar... ternyata saya butuh waktu berkualitas buat diri saya sendiri. waktu menunggu saya gunakan untuk berbincang dengan diri sendiri, mengamati dan membenahi jadwal harian di agenda, atau sekedar membalas sms yang terlewat untuk di balas.

terkadang malah kita nampaknya butuh waktu-waktu dimana kita memang harus "terjebak", "sendiri", untuk melakukan banyak sekali hal yang tidak bisa kita lakukan dalam keadaan berbeda (coba pikirkan)


masalah

hidup bukanlah melulu tentang seberapa pintar kita bisa mencari jalan keluar atas permasalahan.
hidup juga bukan tentang bagaimana caranya kita bisa menghindar dari permasalahan.
hidup bukan pula tentang menyalah-nyalahkan diri sendiri atau orang lain atas permasalahan yang terjadi.

sederhana, harusnya kita bisa lebih bijaksana sebelum semuanya terjadi,
sebelum kesalahan demi kesalahan kita buat, baik disengaja maupun tidak.
sebelum satu persatu masalah muncul untuk kita selesaikan,
sebelum setiap kesalahan harus kita benarkan,
seharusnya kita bisa lebih hati-hati.

otak manusia yang terbuat dari plastik ini harusnya bisa melakukan antisipasi.
kita, yang katanya orang-orang pintar, yang katanya punya akal dan beradat pasti bisa.
jangan mengharapkan kesalahan untuk kita betulkan,
sedini mungkin antisipasi kesalahan.
tanggungjawab itu perlu, setiap hal, kita perlu sungguh-sunguh dan tanggung jawab dalam setiap hal.

tapi, bagaimanapun juga, namanya tetap hidup.
hidup tidak pernah terlepas dari masalah, tidak pernah lepas dari kesalahan dan kesalahan, yang sama ataupun yang baru lagi. yang pernah dilakukan sebelumnya, maupun yang baru pertama kita temui.

namanya hidup,kita harus menghadapi masalah,
membenarkan kesalahan,
dan belajar daripadanya

yang pasti, kita tidak perlu menyalah-nyalahkan, apalagi lari dari masalah,
hanya perlu pribadi yang gentle, mental yang kuat untuk menghadapi setiap masalah,
dengan tulus.




selamat jalan


lahir selalu bergandengan dengan mati.
tawa selalu berdampingan dengan tangis
kita mengenal teman dan musuh
anehnya, kita tidak bisa memusuhi kematian

segala sesuatu ada masanya
yang kecil  tiba-tiba menjadi besar
yang muda kemudian menjadi tua
yang datang bisa tiba-tiba saja pergi.

kita tak bisa memusuhi masa ini,
saat yang datang harus pergi
saat hari kemarin harus diakhiri
saat yang tua harus mati

lorong jalan ini tiba-tiba basah
pria itu telah pergi untuk selamanya
meninggalkan yang kecil,
yang sedang tumbuh dewasa
meninggalkan yang sedih,
yang sedang butuh dihibur,
meninggalkan yang sedang tertawa,
yang sebentar lagi mungkin akan menangis


selamat jalan.

Presiden

Dalam bahasa yang paling sederhana, pemimpin adalah orang yang tahu benar kemana dia ingin pergi, lalu bangkit dan mulai berjalan. - John Erskine


 "saya tidak ingin memberi angin surga, permasalahan yang sedang kita alami tidaklah ringan. Namun jika kita mau bergandengan tangan dan terus berikhtiar..... " demikian sepenggal kalimat akhir pidato Pak Presiden di Instana Negara malam tadi.

mendengar pidato malam tadi, saya tiba-tiba curiga.. "hari gini, apa masih ada yang mau denger pidato presiden ya?" boro-boro denger pidato, yang ada bukannya selalu mengkritik, komentar, menghina, sampe paling ekstrim mengutuki presiden ya? ya saya cuma sedang berpikir-pikir, saya hanya melihat sebagian (bukan seluruh) warga Indonesia yang tidak lagi respek dengan keberadaan SBY sebagai presiden.

kadang-kadang saya merasa sangat lucu. orang bisa tiba-tiba berkomentar penuh emosi menggebu-gebu tentang SBY. dengan gampang dan sangat sederhana menilai "SBY payah", "SBY lamban", dan sebagainya hanya karena mendengar satu dua berita di TV yang durasi liputannya bahkan kurang dari 30 menit, itupun terpotong iklan beberapa kali. belum lagi bahasa pemberitaan yang kadang (maaf) terlalu berlebihan dan tidak bertanggung jawab menurut saya.  yang bahkan, orang-orang pembaca berita itu jika ditanya tentang program kerja SBY, saya berani jamin mereka tidak tahu apa-apa. tapi anehnya, selalu dan tetap gemar menilai, gemar menghujat walau sebenarnya tidak ada landasan yang jelas.

hem,  saya jadi penasaran...jadi apa sih yang dicari rakyat Indonesia? Presiden yang bisa menghasilkan pohon uang? atau presiden yang bisa merubah Indonesia jadi negara bersalju? atau presiden yang bisa merubah dunia jadi surga? SBY tetaplah SBY, saat ia masih menjabat sebagai Presiden RI, dia tetaplah pemimpin kita, bapak presiden kita yang seharusnya kita hargai, kita hormati, kita dukung dengan sepenuh hati. kalau pemimpinnya saja tidak kita hargai, mau jadi apa negara kita ke depan?

Hargai presiden kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. percayalah, ia tau kemana ia ingin berjalan, hanya saja urusan negara sangatlah kompleks. urusan berpendapat adalah hal yang berbeda. pendapat memang hak setiap rakyat. tapi sebagai rakyat yang "berkualitas", kita perlu betul-betul membaca, meneliti, mencari tau, mengamati SBY... baru bisa menilai dengan bijak :)


selamat jadi rakyat Indonesia yang berkualitas :)




" memangnya apa sih tolak ukurnya hingga sebuah karya seni dikata bagus atau tidak bagus, biasa atau istimewa? sedangkan seni itu sendiri tak bisa diungkap lewat kata-kata"

saya seringkali agak rancu ketika seseorang berpendapat bagus atau tidak bagus tentang sebuah karya seni; tentang sebuah lagu, tentang sebuah permainan musik, tentang sebuah lukisan, sebuah tulisan, sebuah pahatan. memangnya, atas dasar apa ya pendapat bagus atau tidak bagus itu? sebuah karya dinilai bagus oleh seseorang atau sekelompok orang belum tentu demikian juga pendapat yang lainnya, bukannya begitu?

mengapa? simpel, alasannya selera orang beda-beda.

selera? ya, bicara soal seni, tidak akan pernah lepas dengan kata selera. setiap pekerja seni punya selera yang berbeda-beda, itu yang membuat kita kaya. bicara soal lukisan, alirannya banyak. bicara soal musik, alirannya juga tak kalah banyak. tarian, demikian pula. dan, tak kalah dengan tokoh utama yaitu sang pekerja seni, para penikmat pun tentu menikmati yang sesuai selera mereka. singkatnya, setiap artist memiliki aliran dan pengikut masing-masing.

tidak ada karya seni yang bagus dan tidak bagus. sekali lagi, seni adalah soal selera. sebagai penikmat, kita bebas memilih mana yang sesuai atau tidak sesuai selera. kita tidak perlu tetap tinggal untuk menikmati apa yang bukan selera kita, pula tidak boleh mengatakan apa yang bukan selera kita sebagai karya yang tidak bagus. menghargai karya seni berarti menghargai selera dan menghargai kehidupan. karena perbedaan ada dalam kehidupan.