Tampilkan postingan dengan label obrolan serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obrolan serius. Tampilkan semua postingan

life



manusia adalah bagaikan aktor dan aktris sebuah film dalam episode tak terhingga, dalam genre yang tak terduga. kadang bahagia, kadang sedih. kalau kemarin genrenya drama comedy, besok drama romantic, lusa tragedy, hari berikutnya bisa saja tragic comedy.  habis tertawa, bisa tiba-tiba saja menangis. habis sedih bisa tiba-tiba senang sekali. sang sutradara begitu pintar menyimpan alur cerita, saking pintarnya hingga kita tidak bisa mengintip sama sekali apa yang akan terjadi dalam scene selanjutnya. ya, kita semua sepakat- kita tidak pernah bisa menebak apa ending di balik drama misterius ini.

saya adalah salah satunya, aktor dalam drama yang tidak pernah saya tau kapan dan bagaimana akhirnya. bahkan, untuk memahami alur satu scene saja saya suka kelimpungan sendiri. maklum, saya termasuk orang yang agak 'lamban'. dan  sebagai aktor, rasa penasaran saya terhadap alur cerita selanjutnya tak bisa dipungkiti. saya ingin membaca bagaimana alur cerita drama ini dengan lengkap dari awal hingga akhir supaya saya bisa mengira-ngira kapan saya harus mengeluarkan air mata dan kapan saya harus tertawa lebar-lebar. ya, inilah kehidupan, kita memang tidak akan pernah tau apa yang terjadi besok, bahkan hari ini. tapi satu hal yang pasti, kejadian demi kejadian tidak pernah berlalu begitu saja- kita perlu 'mengalami' dan 'memaknai' setiap adegan dengan cara yang luar biasa.








penderitaan?

hari ini hari selasa,
tapi saya ingin menuliskan kisah hari minggu,
boleh dong? :)

Namanya Bapak Pangulu, seorang Batak-Cina, suaranya menggelegar. ia membawakan kotbah pada hari minggu kemarin di ibadah korem. oke, saya tidak sedang ingin membicarakan pembicara yang katanya masih single itu. saya ingin bicara tentang isi kotbahnya.

"Tuhan membentukku" itu adalah tema ibadah kemarin. ayat diambil dari Ibrani 12:3-12. intinya, Tuhan menyesah orang-orang yang dikasihinya. silahkan baca dan renungkan ayatnya, anda akan merasakan getarannya sendiri.

dalam kotbahnya, beliau berkata... kadang-kadang kita terlalu percaya diri merasa dosa-dosa kita telah mati. padahal?yang sesungguhnya terjadi?

kita memang telah diangkat dari anak-anak sembarang menjadi anak-anak Allah. tapi apa lantas sifat dan natur kita berubah? status kita tentu berubah, tapi kebiasaan kita? karakter dan natur asal kita? tentu saja masih sama. tidak bisa tiba-tiba instan berubah...semuanya butuh proses, butuh diajar, butuh pembentukkan Tuhan

bicara soal pembentukkan, erat kaitannya dengan penderitaan.
penderitaan? iya. benar, penderitaan.
sedikit sekali orang yang mau cari Tuhan ketika dalam keadaan diatas awan.
justru kebanyakan orang mencari Tuhan pada saat dalam keadaan menderita

C.S Lewis, pengarang buku Chronicles of Narnia berkata "penderitaan adalah megafon Allah". ketika anda dalam keadaan yang bahagia, Allah hanya berbisik pada anda dan dalam penderitaan Allah berteriak pada anda. 

kehidupan manusia dalam dunia ini tidak pernah lepas dari pendertitaan kan? dalam kotbahnya, Bapak Pangulu bertanya "siapa disini yang tidak pernah menderita?". tidak ada- semua manusia pasti pernah menderita.Sekarang, masalahnya tinggal bagaimana kita memandang dan menyikapi penderitaan yang kita alami. 

Orang yang beriman, menganggap penderitaan sebagai pembentukkan Allah. dalam keadaan menderita, berusaha mencari tau apa yang Allah kehendaki melalui penderitaan itu. tapi, sebaliknya... orang yang tidak beriman menggunakan penderitaan sebagai alasan untuk menghujat Allah.

penderitaan akan menjadi sesuatu yang berharga dan berdampak indah jika kita mengaitkannya dengan Firman :)

selamat terus bertumbuh ya, kawan!
Tuhan berkati


kesetiaan

akhirnya saya kembali lagi kesini, melanjutkan apa yang pernah saya mulai...

dan mendapati kesetiaan adalah sesuatu yang sangat teramat mahal harganya. 


"orang bisa saja memiliki ide hebat, tapi tak akan terwujud tanpa ada kesetiaan untuk mengerjakannya. orang bisa saja memiliki cinta yang besar, tapi tak akan bertahan tanpa kesetiaan untuk mencintai. orang bisa saja memiliki janji suci, tapi tak akan sempurna tanpa sebuah kesetiaan untuk memenuhinya".

inilah yang sering dilupakan itu, namanya "kesetiaan". sering dipandang sebelah mata, namun sebenarnya tidak pantas diperlakukan begitu. entah ada berapa banyak proyek tidak selesai karena tidak ada kesetiaan dalam mengerjakannya? entah berapa sering niat tulus tidak terwujud karena tidak ada kesetiaan untuk mewujudkannya? dan entah berapa banyak hubungan relasi pertemanan, kekasih, suami-isteri rusak karena kurangnya kesetiaan?

bukan saja mengenai hubungan antar manusia, tapi juga hubungan antara manusia dengan apa yang dikerjakannya. dan, siang ini saya kembali kesini, melanjutkan apa yang telah saya mulai sebelumnya.



pembekuan sperma

Hari minggu kemarin saya nonton satu acara talkshow terkenal di televisi. Acara tersebut menghadirkan bintang tamu, yaitu para ilmuwan berprestasi.

Semua ilmuwan yang dihadirkan sebagai bintang tamu merupakan "anak Indonesia asli". Sekarang mereka bertebaran di berbagai belahan dunia dan berprestasi disana, seperti: Malaysia, Amerika, Jepang, Australia, Belanda. Masing-masing dari mereka punya spesifikasi sendiri. Ada ilmuwan yang melakukan riset  tentang IT dan masyarakat pedesaan, ilmuwan yang mensingkronisasi antara IT dan humanisme, ilmuwan teknologi makanan dan Gizi, Ilmuwan tentang antartika. Ada yang berhasil menemukan planet, ada yang berhasil menemukan alat komunikasi 4G, berhasil menemukan sensor untuk lemak babi, dan yang paling menarik adalah berhasil menemukan cara untuk pembekuan sperma manusia dengan murah meriah.

Pembekuan sperma? yang terakhir ini adalah yang paling menarik untuk saya. Pembekuan sperma ini konon katanya digunakan untuk orang yang ingin melaksanakan proses bayi tabung. Seorang wanita yang tidak bisa hamil dipaksa untuk hamil dengan proses bayi tabung.

Apa yang terlintas di dalam pikiran anda? Semua orang di dalam acara tersebut jelas terkagum-kagum. Atau bahkan penghargaan yang berhasil diraih oleh ilmuwan tersebut menggambarkan betapa banyaknya orang yang mengakui keberhasilannya. Penemuan akan bayi tabung sendiri sebenarnya sudah sangat lama, sedangkan ilmuwan yang menjadi bintang tamu di acara tersebut menemukan cara pembekuan sperma dengan biaya yang murah.

Berbicara soal bayi tabung.

Yang menarik buat saya adalah, “apakah bayi tabung yang dipandang terobosan hebat itu memang dikehendaki sang Pencipta atau tidak?”, logikanya begini, sepasang suami istri menikah, kemudian Tuhan percayakan kehamilan pada rahim sang istri melalui pertemuan sel telur dan sel sperma , lalu jadilah janin, lahirlah bayi. Tapi kalau seandainya yang terjadi sebaliknya bagaimana? Laki-laki dan perempuan menikah, kemudian tidak ada kehamilan, tidak ada keturunan, berarti bisa disimpulkan bahwa ‘’sang Pencipta tidak atau belum berkehendak akan kehamilan itu bukan?’

Kabar baiknya, manusia dibekali otak yang luar biasa hebat. Apa yang tidak ada, bisa dibuat menjadi ada- termasuk untuk menciptakan kehamilan melalui bayi tabung. Kontroversial bukan? Disatu sisi kehamilan itu harusnya bersifat alamiah dari Allah. disisi lain, otak yang pintar, teknologi yang hebat, itupun terjadi atas anugerah Allah, otak yang hebat itupun pemberian Allah. Lalu, bagaimana anda menilainya?

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu menguasai kehidupan manusia, ternyata ada kalanya kita harus berdiam diri sejenak, meresapi dalam-dalam bahwa “itu semua hanyalah pemberian”  yang seharusnya “digunakan dengan kebijaksanaan” untuk “menyenangkan hati sang pemberi itu sendiri”.


*tulisan dalam postingan ini telah tersimpan lama dalam draft entry. waktu penayangan acara yang saya maksudkan adalah berbulan-bulan yang lalu.


penyakit fatal

sadar atau nggak sadar, tiap orang pasti punya minimal satu sifat buruk dalam hidupnya. ya kalo saya, tentu saja lebih dari satu. tapi, kali ini saya mau bicara sifat yang terburuk dan terfatal (dalam konteks hari-hari belakangan ini).

ketika saya memutuskan untuk menulis postingan ini, otak saya sedang penuh dengan segala macam to do list yang harus segera dikerjakan, deadline-deadline yang terbengkalai, pergumulan-pergumulan yang masih pending, keputusan-keputusan yang tertunda, relasi-relasi yang 'mulai' tak terjaga dengan baik, dan masih banyak lagi pikiran-pikiran lainnya yang disebabkan oleh satu sifat fatal, yang pada pagi ini saya deklarasikan sebagai penyakit yang fatal

Saya tau saya manusia biasa, belum punya sayap dan lingkaran putih diatas kepala macam mailakat. saya tau, manusia tidak ada yang sempurna, tapi, sifat ini benar-benar fatal. saya terlalu sering dan terlalu memberikan banyak toleransi untuk diri saya sendiri. yak, satu kalimat "saya terlalu sering menunda-nunda" dan saya sama sekali tidak bangga akan hal ini. 

Dari awal kalimat hingga paragraf diatas ini, mungkin kalian sering menemukan kata 'fatal'. yak, saya tidak berlebihan dan tidak sedang mengawang-awang. kebiasaan buruk ini telah menciptakan beberapa kefatalan, dan tentu saja sifat buruk ini tidak memuliakan Allah.

...
Hemmmm *tariknapas* oke, setelah menulis beberapa baris, hati saya semakin tenang (inilah keindahan seni menulis). paling tidak, pertama "saya masih diberikan kesempatan untuk sadar bahwa sifat menunda itu adalah sifat yang buruk", kedua "saya tidak bangga sama sekali dengan sifat ini", ketiga"saya cenderung menganggapnya fatal, secara tidak langsung saya menganggap ini serius", keempat "saya mau berubah(mau banget)", dan kelima "saya tau, kalian yang membaca ini akan dukung dan doakan saya"

Pada akhirnya, saya mau bilang... menyadari sifat buruk kita adalah suatu hal yang penting. jujur, sebenarnya saya menyadari ini sejak lama, tapi tidak saya akui dengan tegas. malahan saya menyalahkan 'keadaan' yang membuat saya menunda-nunda ini dan itu. oke, berarti setelah disadari, diakui, maka harus ditindaklanjuti dengan tegas. setelah postingan ini saya post, saya yakin sifat tersebut masih ada (tidak tiba-tiba hilang) tapi paling tidak, ada semangat baru, ada gairah untuk melawan dengan tefas sifat menunda-nunda ini :)

dan akhir kalimat, selamat menemukan sifat buruk guys, menyadarinya, lalu berusaha membasminya! :)

bersahabatlah karena butuh

Saya baru saja dikejutkan dengan pernyataan sahabat dekat saya yang isinya begini ''sebagai sahabat, aku ga diperlakuin sebagai sahabat, aku ngerasa dicari kalo lagi butuh doang''

Pernyataan yang memaksa mata saya terbuka lebar-lebar itu tidak muncul begitu saja. ada sebab, hingga pembicaraan kami berakhir di pernyataan macam itu.

Awalnya, saya dan dia sedang chatting . Lalu, karena ada keanehannya yang saya rasakan(memang rasanya ada yang sedang tidak beres diantara kami), saya lantas bertanya dengan pertanyaan yang menukik tajam, ''kenapa kamu?'' dia diam, hening. Saya menunggu beberapa waktu sambil terus menanyakan hal yang sama. tak ada hasil, lalu saya bertanya lagi ''kenapa kamu selalu diam, selalu tertutup?'' dia hening. Lalu, saya lanjutkan dengan satu kalimat tanya ''gimana ya rasanya kalo seorang sahabat diperlakukan tidak sebagai sahabat?'' lantas, dia menjawab ''sebagai sahabat, aku engga diperlakuin sebagai sahabat, aku dicari kalau lagi butuh aja'' ini adalah pernyataan yang frontal, tidak kalah menukik dibanding dengan kalimat tanya yang saya lontarkan.

Saya spontan menjawab,

Sahabat bukannya ada untuk membutuhkan dan dibutuhkan ya? bukannya harusnya semakin merasa senang kalau dibutuhkan? Dan, bukannya memang pada kodratnya manusia hidup saling membutuhkan? Kasarnya, kalau tidak ada kebutuhan, justru terasa hampa bukan? ironisnya, mungkin bisa jadi kehilangan topik pembicaraan, atau bingung apa yang akan dilakukan, betul tidak ?

Saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan pernyataan yang dianggap frontal tersebut. Justru saya merasa sepaham dengan hal tersebut. Saya memang begitu.

Saya mencari sahabat saya dikala butuh. Secara kasat mata, ketika saya butuh pendapat, butuh dibantu ini itu, butuh didengar,dsb saya akan mencari sahabat saya. Tapi, jangan lupa ! ada kebutuhan tersirat yang tidak bisa dimaklumi secara asal. Ketika saya peduli, ketika saya ingin tau keadaan mereka, ketika saya memperhatikan mereka walau hanya dari kejauhan, ketika saya mau ikut campur dengan urusan mereka, kala itu saya butuh merasa dibutuhkan sebagai sahabat. Sahabat yang memang berperan sebagai 'sahabat'. kala itu pula saya butuh mengaktualisasikan diri sebagai sahabat yang sesungguhnya.

Misalkan sebaliknya, ada sahabat yang justru jarang mencari sahabatnya, untuk hanya sekedar sharing pun tidak. nampak tidak ada kebutuhan akan kehadiran sahabatnya. Lalu, bagaimana kira-kira rasanya sebagai sahabatnya? Merasa tidak dibutuhkan? merasa jangan-jangan saya bukan sahabatnya? Betul tidak?

Jadi, menurut saya, bersahabatlah karena butuh. merasa dibutuhkan itu penting, merasa membutuhkan juga tidak kalah penting, dan seorang sahabat harus tau kalau ia merangkap keduanya, sebagai orang yang membutuhkan dan dibutuhkan :)

...

Walau barangkali hanya bisa menatap dari kejauhan, walau barangkali mereka tidak menyadari ada sepasang bola mata yang terus memperhatikan, tidak apa-apa. Saya tau, sudah sejak jauh hari hati ini mengatakannya: aku butuh mereka, aku sayang mereka, dan mereka akan tetap menjadi sahabat sampai selama-lamanya.

Regards, joey :')  

selamat berkembang

dulu, puluhan tahun yang lalu  ketika saya masih duduk dibangku sekolah, ketika saya masih manis dengan kemeja seragam saya, ketika saya masih culun-culunnya (sampai sekarang juga barangkali) saya punya teman. tidak terlalu dekat sih, tapi sempat sekelas dengannya. ia adalah seorang remaja laki-laki; nakal, playboy, sangat nggak jelas, melihat tingkahnya sungguh membuat malas. ia terkenal suka menggoda para perempuan (males kan?), suka mengerjai orang,  dan ini sudah menjadi rahasia umum. intinya, saya memberikan cap "nggak banget" padanya, malas bergaul dengannya, bahkan enggan berkomunikasi dengannya. akhirnya takdir memisahkan kami, ia tidak naik kelas.

hari, bulan, tahun berlalu. cap buruk tersebut terus melekat. bukan hanya saya, tapi hampir seluruh teman-teman yang pernah mengetahui dan mengalami kenakalannya. saya pun akhirnya lulus dari sekolah tersebut. saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya (tepatnya, tidak mau tahu). 

Well, setelah beberapa tahun lamanya, saya baru tahu... ternyata ia telah menjadi ''seseorang'' sekarang. terlepas dari apakah ia masih suka menggoda perempuan atau tidak, terlepas dari bagaimana caranya ia dapat berubah, yang saya tahu sekarang ia telah menjadi mahasiswa ''pintar'' yang menjadi pelopor berbagai kegiatan. ia juga menekuni bidang yang menurut saya tidak mudah, ia menjadi seseorang yang memiliki masa depan.

hebat, dua jempol saya terangkat. saya tidak menyangka, orang yang seperti itu, yang dulunya sangat malas, sangat nakal, sekarang menjadi orang yang pintar, serius, dan hebat. 

kejadian macam ini tentu saja bukan yang pertama kalinya. ada berbagai kejadian serupa, yang sebenarnya mirip namun konteksnya berbeda. tapi semuanya bermuara pada satu kesimpulan yang sama, setiap harinya orang bisa berubah-ubah, manusia akan berkembang. kita belajar, kita berusaha, kita mengalami ini-itu yang membuat kita menjadi sesuatu. segala hal diubahkan, ada yang baik dan ada yang tidak- kita yang memilih kemana kita akan berkembang, dan seperti apa kita di keesokkan hari. pelajaran yang sangat penting, kita (saya dan anda) seringkali terlalu percaya diri, menaruh cap pada diri seseorang. "ia adalah orang yang begini........... begitu.........".  padahal kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada seseorang (juga pada diri kita), kita tidak akan pernah tau apa yang akan kita alami, kita tidak bisa mengira-ngira pembelajaran apa yang mungkin kita dapatkan. kita hanya bisa terkagum-kagum keheranan ketika menyadari ternyata semuanya bisa berubah dan sudah berubah.c'est la vie ! :)

"manusia akan terus berkembang sampai akhir hayatnya- ini yang membedakannya dengan robot. manusia bukan robot" ia yang kamu lihat kemarin, belum tentu kamu temui hari ini. ia yang kamu temui hari ini, belum tentu sama pada esok hari. 

selamat terus berkembang ya !

perubahan serius

Kata orang, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang represif. Katanya, kita tidak biasa mengekspresikan apa yang kita punya dalam hati. Tidak seperti masyarakat lainnya yang tinggal di benua berbeda-mereka katanya dan kelihatannya dengan mudah berekspresi, makanya orang bilang mereka ekspresif dan kita represif. mereka juga lebih berani, orang-orangnya memiliki prinsip dan berani menunjukkan diri

Lalu ini salah siapa? Kebudayaankah? Masalalu bangsakah? Bisa jadi. Barangkali setelah direnggut kebebasannya sekitar 30 tahunan oleh Rezim orde baru, masyarakat Indonesia menjadi tulang belulang hidup- terbiasa menerima semua dengan pasrah, tidak peduli, atau mungkin terbiasa hanya ''ikut-ikutan'' orang lain.

Dipikir-pikir, ada baiknya juga- toh manusia pada akhirnya harus pasrah, harus menyerah. tapi pada yang kuasa! Bukan menyerah pada yang salah, bukan pasrah pada keadaan atau sistem yang melulu berulang-ulang bertahun-tahun. Ya,memang... sedikit banyak Indonesia telah berubah, entah perubahannya semakin baik atau tidak. entah perubahannya dirasakan hanya segelintir orang atau keseluruhan, entah perubahannya benar-benar perubahan atau sebenarnya tidak ada yang berubah.

Yang jelas demi perubahan yang baik untuk negeri ini, harus dimulai dari diri kita sendiri- lalu mengajak yang lainnya-menularkan semangat ini pada yang di sekeliling kita :)

gerakan kaki kita untuk perubahan positif, mulailah saat ini juga !

berorganisasi

Dulu, saya bukan tipe orang yang suka berorganisasi. Saya lebih sering memilih untuk pulang segera dari sekolah, tidur di rumah atau sekedar santai bermain-main dengan teman. Saya hanya terlibat dalam organisasi gereja, dan itupun judulnya pelayanan.

Selama melakoni sebagai pribadi demikian, rasanya sih saya senang-senang saja. Hidup rasanya sangat tenteram, bisa bermalas-malasan karena sangat banyak waktu kosong di rumah. Demikian pula pikiran, rasanya tidak terlalu terganggu, tiada beban ekstra yang berlebih-lebihan. Toh, tidak ada deadline yang harus dipikirkan? Tidak perlu pusing memikirkan ini dan itu yang notabenenya bukan urusan saya pribadi juga. Tidak perlu berurusan dengan orang banyak dan tidak perlu mengorbankan apa-apa.

Saya pernah menikmati masa-masa seperti itu. Saya lebih setuju menikmati waktu pribadi dirumah untuk tidur, menonton televisi, dsb dibanding bersosialisasi atau berorganisasi di luar sana.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai perlahan-lahan berubah. Sedikit demi sedikit merasakan adanya hal-hal yang janggal dengan kebiasaan lama saya itu.
Pertama dimulai dengan menyadari hal-hal kecil, lalu hal-hal besar, sampai akhirnya mengalami perubahan yang radikal.

Rasanya, ada yang hilang jika saya hanya berdiam diri di rumah. Rasanya saya merugi jika tidak mau bersosialisasi atau ikut berorganisasi.

Perlahan tapi pasti, saya mulai membuka diri terhadap tawaran organisasi. dan, benar saja... Saya merasa banyak sekali keuntungan daripadanya. Memang sih, banyak orang berpendapat, ngapain sih capek-capek ngurusin urusan yang bukan buat kepentingan kita?-kadang orang memilih untuk tidak ambil repot. Tapi justru dari situlah kita belajar. Yang paling berharga, belajar untuk tidak egois. yang kita urus itu bukan kepentingan kita pribadi. Secara tidak langsung, kita mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kepentingan orang lain secara cuma-cuma. Dari situ Kita belajar bagaimana caranya melayani dengan tulus. belajar untuk hidup tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi juga berjuang untuk kepentingan orang lain. Bonusnya, kita belajar bagaimana caranya bersosialisasi, belajar untuk berkorban, belajar bertanggungjawab dan pastinya berkomitmen.

Tidak jarang pula, melalui organisasi saya dilatih untuk belajar memahami karakter orang lain, lalu belajar beradaptasi dengan karakter orang yang sudah tentu berbeda beda dengan saya. memahami karakter orang biasanya akan lebih mudah jika kita pernah bekerja bersama dengan orang tersebut. Dan belajar beradaptasi dengan orang yang memiliki sifat berbeda bukanlah hal yang sulit. Butuh pengorbanan dan butuh kedewasaan. Saya pun Belajar membuka diri, belajar menerima masukan dan memberi masukan, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk menerima orang lain apa adanya (dan cenderung memotivasi mereka) dan tentunya belajar untuk tidak mudah tersinggung.

Selain belajar banyak hal, tentunya saya juga merasa ditambahkan banyak hal. secara kasat mata jelas saja teman-teman saya bertambah. Beberapa diantaranya justru menjadi teman dekat. Dan bonusnya, kadang saya diijinkan mendalami kehidupan mereka,yang secara tidak langsung membuat jiwa saya semakin kaya.

Selain hal yang saya sebutkan itu, wawasan saya pastinya juga bertambah terus menerus. Dan tidak lupa, yang pasti dan sangat berharga adalah ''pengalaman''. Tidak bisa dipungkiri, saya selalu saja memperoleh pengalaman baru. Baik melalui hubungan dengan rekan-rekan, melalui kegiatan yang sedang dilakoni, ataupun momen yang saya alami.

Kalau dulu saya mati-matian menghindari keterlibatan dalam organisasi, sekarang saya malah ketagihan :p saya sekarang sedang terlibat banyak kegiatan organisasi. Saya menikmatinya!:) saya lelah, namun saya bahagia. Saya mati-matian berjuang bagaimana caranya memanajemen waktu dengan baik dengan banyaknya kegiatan, tugas, dan tanggung jawab yang harus saya penuhi. saya harus bisa memberikan porsi yang seimbang dan tepat: selain kegiatan organisasi, kuliah, tugas, saya punya keluarga yang harus diperhatikan. saya punya komitmen pelayanan, saya punya sahabat-sahabat, saya punya teman-teman yang harus saya berikan(bukan sisakn) waktu yang berkualitas. Memang sih terkadang rasanya ingin menyerah. manajemen waktu itu sangat suliiittt bagi saya, kadang saya juga merasa amat kelelahan (pikiran, emosi-jiwa, tenaga). Belum lagi ditambah dengan percikan konflik, masalah dengan rekan kerja yang banyak macamnya, dan banyak hal lainnya yang menguras emosi. Kadang, hal-hal tersebut juga menjadi stressor yang besar bagi saya. alhasil tidak jarang saya putus asa, ingin mundur. tapi masalahnya, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak? justru akhirnya saya memandang ini sebagai tantangan. Seharusnya semakin sering berorganisasi semakin pintar pula jadinya dalam memanajemen waktu, makin pandai pula mengelola emosi.

berorganisasi memang sangat melelahkan. tapi percayalah, ini sangat indah. Dan organisasi adalah satu tempat belajar yang perlu diperhitungkan. disini saya berbagi visi, berbagi pengalaman, berbagi hidup bersama orang lain. it,s nice !nDan, semakin banyak orang yang saya kenal, semakin besar pula kesempatan saya menjalakan misi hidup saya. Benar kan? :)



Soli deo Gloria

alive

''do not ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world need is people who have come alive'' - Howard Thurman.

Jangan tanyakan apa yang dunia butuhkan. Tanyakan apa yang membuatmu merasa hidup, lakukanlah itu. Karena apa yang dunia butuhkan adalah orang yang merasa hidup.

Kuotes yang diciptakan oleh teolog sekaligus aktivis dari Amerika ini menjadi inspirasi bagi saya hari ini. Sebelumnya, saya pernah mendapat kuotes tersebut dari seseorang. Tapi, kali ini maknanya lebih luas,setelah kedua atau ketiga kalinya membaca saya baru menemukan sesuatu yang lebih.

guys, kalau dipikir-pikir dengan seksama, saya (dan kalian) setiap hari pasti ''merasa hidup'' dalam kehidupan ini. toh setiap hari kita bernapas, kita bergerak, kita beraktivitas, dan kita punya rutinitas. tapi guys... masalahnya, apa benar yang selama ini kita anggap ''hidup'' dan kita sebut kehidupan, memang benar-benar adalah sesuatu yang disebut ''hidup''? Jadi, selama ini, di bumi ini, apakah kita benar-benar hidup Ataukah kita hanya mengikuti kehidupan?

Lalu, saya jadi berpikir...apa ya indikasi seseorang bisa dikatakan benar-benar hidup? apa setiap orang yang bernafas, yang punya kesibukan, lalu sudah bisa dikatakan ''hidup''?

Pepatah singkat diatas menjadi inspirasi saya sebagai pribadi; memaknai hidup- ''hidup yang sebenarnya'' adalah jika kita sebagai pribadi merasa benar-benar hidup- oleh apapun juga, baik karena perasaan, hasrat, kegiatan, suatu hal, seseorang, dan apapun juga.

sebagai pribadi, ada banyak hal yang membuat saya merasa benar-benar hidup. bukan, bukan hanya sekedar 'merasa' hidup, tapi ada dampak dari kehidupan itu sendiri baik bagi saya sendiri maupun orang lain.
Kita sebut saja contohnya ketika kita menolong orang lain, ketika kita melakukan kegiatan dengan menggunakan kemampuan otak kita(berdiskusi, belajar), ketika kita mendapat prestasi yang baik, ketika kita menghasilkan sebuah karya, ketika kita bisa menyayangi orang lain, dan ketika apapun juga-dimana dengan melakukan hal-hal tersebut, biasanya kita merasa diri kita 'ada' dan kita 'hidup'.

saya, sebagai pribadi memiliki segudang hal dan kegiatan yang membuat saya merasa benar-benar hidup. Bagaimana dengan kamu? if you passionate with something, just go for it! Everything's makes you come alive, just go do it.

...

yang namanya hidup, ya harus ''hidup''. Bukan sekedar ada dalam kehidupan atau ikut-ikutan hidup. Artinya, bukan sekedar mengalir mengikuti arus, bukan sekedar menjalankan rutinitas, bukan sekedar mengikuti nasib.

lalu, pikirkan ini "apa yang mampu membuat saya benar-benar hidup?" dalam jangka waktu yang abadi, tidak sementara, yang tidak hanya sesaat(yang datang dan pergi). kalau saya ditanya pertanyaan serupa, saya pasti spontan menjawab " Jesus is the one who make me come alive" :)

benar yang sebenar-benarnya

orang yang benar, sebenar-benarnya tidak benar.

Belakangan ini, semakin banyak saja orang yang suka merasa dirinya benar. Barangkali sejak jaman dulu sudah begitu. Namun, yang sekarang manusianya lebih agresif untuk menunjukkan bahwa saya benar dan kamu salah. (saya juga terkadang termasuk di dalamnya)

yang namanya kebenaran itu sifatnya mutlak. harusnya tidak perlu dirasa-rasa (tidak perlu merasa sepertinya benar), tidak perlu ditonjol-tonjolkan darimana asalnya(tidak perlu merasa hanya saya yang benar). Toh, kebenaran bukan dari kita. Kebenaran hanya datang dari Allah.

Harusnya kita tidak membuang waktu dengan memperdebatkan siapa yang benar. melainkan, memperjuangkan kebenaran yang datangnya (hanya)dari Allah untuk menjadi benar.

belajar dari kelebihan orang

kita harus selalu merendahkan hati.

Sebab, selalu saja ada orang-orang yang lebih.

Dan, kita mungkin tidak begitu dihargai karenanya.

Tidak apa-apa, kita hanya perlu merendahkan hati.

Menerima apa yang pantas kita terima dan memberi apa yang harus orang lain terima.

Mereka 'lebih' dari kita?

Maka, mereka pantas menerima penghargaan lebih.

dan kita harus memberikan penghargaan tersebut.

Dan dengan rendah hati, kita harus belajar dari kelebihan orang lain.

24 jam ?

hari sudah malam, saya sudah sangat mengantuk, tapi belum ingin tidur rasanya. Bulan dan bintang sedang merayu saya barangkali.


***

memang sih, tidur adalah kegiatan yang menyenangkan. Beberapa orang secara asal menyebutkan bahwa''tidur, adalah surga dunia'' ya, saya pribadi sih setuju-setuju saja. Maksud pernyataan tersebut kan tidak lebih untuk menggambarkan betapa menyenangkannya tidur.

Namun, entah... Saya, yang sebenarnya juga suka tidur, justru suka berpikir sebaliknya. Seandainya saja manusia nggak butuh tidur. Rasanya, 24 jam tidak cukup melakukan semua hal, dari yang memang harus dilakukan hingga kegiatan lainnya yang hanya membawa kesenangan pribadi semata.

Tapi, kalau dipikir lebih lanjut sih... Seandainya diberikan lebih dari 24 jam sehari pun rasanya tetap aja nggak cukup (manusia kan kecenderungannya begitu).

Jadi intinya, 24 jam itu harus kita gunakan untuk hal-hal berguna, hal-hal yang memang penting, hal-hal yang memang memberi dampak pada sesuatu, dan hal-hal yang memang harus dilakukan.

Jangan buang waktu dengan sesuatu yang tak berarti. Maksudnya, bukan berarti nggak boleh main-main. Tapi, lebih tepatnya lakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Singkatnya, kalau kita serius disaat kita sedang bermain, itu namanya buang-buang waktu. begitupun juga halnya bermain di saat harus serius.

dan, saya pun harus tidur sekarang. Karena kegiatan ini penting, harus dilakukan, memberikan dampak pada tubuh, dan terakhir, ini memang saatnya untuk tidur.

Nights :)

kenapa pula kita harus memiskinkan diri?

Heran, kita yang sebenarnya kaya kenapa justru memiskinkan diri?

Tulisan bernada miring ini memang dilandasi emosi, bukan pada seseorang atau sebagian, namun terus terang ini adalah luapan emosi terhadap fenomena yang terjadi.

Manusia, ya mahluk ini namanya manusia. Yang kecenderungannya adalah menilai-nilai lalu menuduh-nuduh orang maupun kelompok lain. Mulai dari penilaian masuk akal hingga penilaian yang rasanya tidak lagi tak dapat diraba oleh nurani.

kamu pikir, darimana mulanya pertikaian? Darimana mulanya kelompok-kelompok yang saling bersaing? Darimana mulanya permusuhan? Darimana?

Tidakkah, kita ini sebenarnya kaya? Dengan segala keberagaman yang ada, dengan segala isi kepala yang berseberangan, dengan segala macam perbedaan? bukankah itu semua justru memperkaya kita?

Lalu, kenapa pula kita harus membelah-belah diri, menjadi bagian-bagian yang saling bersinggungan? Kenapa pula kita yang mulanya kaya justru harus menjadi kecil dan miskin?

sesungguhnya kita ini tercipta untuk sesuatu yang besar. Dan sebenarnya, kita ini kaya

60 menit terakhir

Bagaimana kalau waktu anda habis? Dan anda tidak mempunyai koin untuk memperpanjang masa permainan ini.

Apa yang anda pikirkan jika tiba-tiba saja, anda diberitahu...''hey, kamu! Waktu kamu 'bermain-main' di dunia ini hanya tinggal 60 menit, alias 1 jam saja'' bagaimana? apa yang kira-kira terlintas dalam pikiran anda?

Anda hanya punya waktu 60 menit! 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang mengikuti ibadah, yang terasa sangat lambat ketika anda mendengar seorang dosen berceramah, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menunggu teman yang terlambat, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang terjebak mengikuti persekutuan doa, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menanti kehadiran kekasih anda, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda harus mendengarkan teman yang sedang berkeluh kesah.

Apa yang kira-kira akan anda lakukan di 60 menit yang sama, namun yang terakhir hidup anda?60 menit yang terakhir sekaligus yang tercepat barangkali.

Anda mungkin kesulitan membayangkan mengenai 60 menit anda. Mungkin sebagian besar dari anda, hidup dalam keadaan 'mapan', dalam arti tidak atau jarang menemui kisah dimana keluarga dekat anda tiba-tiba saja dipaksa mau tidak mau menemui ajal mereka. Mungkin anda terbiasa melihat ayah,ibu anda yang hidup baik-baik saja hingga puluhan tahun. Mungkin pula, anda begitu percaya diri akan umur anda sendiri karena kakek nenek anda masih hidup hingga sekarang.
Bagaimanapun baiknya keadaan merka dan anda sekarang, suatu saat 60 menit terakhir akan datang.

Ini memang kenyataannya... Kapanpun, koin anda bisa saja habis. kapanpun, 60 menit tercepat dalam hidup anda mungkin akan tiba.

Apa yang akan anda lakukan?

Meminta maaf ke orang tua? Mengatakan cinta kepada orang-orang yang anda kasihi? berkeliling dunia? Meminta maaf kepada orang-orang yang anda sakiti? Menemui kawan-kawan lama anda? Menyatakan perasaan anda pada seseorang yang sebenarnya anda sayangi?

ataukah anda mencari Tuhan? memohon ampun atas semua dosa-dosa anda? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir, anda baru mulai belajar berdoa? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir anda baru mencari tau apa yang diinginkan Allah dalam hidup anda?

Rasanya, dalam 60 menit sangat mustahil anda melakukan semua itu. bagaimana jika semuanya tiba-tiba? Anda hanya punya waktu 1 menit? Atau mungkin hanya 3 detik?

Pikirkanlah mengenai jika satu saat koin anda habis. Uang hasil kerja keras anda, kekayaan orangtua anda, kepintaran anda, reputasi anda, jabatan anda, kehebatan anda dalam berkata-kata, ilmu-ilmu yang telah anda pelajari, kebaikan anda dalam menolong teman, ketulusan anda memberi sedekah, orang yang anda kasihi, bahkan kebaikan anda sendiri tidak akan mampu menolong anda.menyesal? Mungkin sudah terlambat.

Maka... saat ini selagi Tuhan masih memberi kesempatan, persiapkanlah diri anda untuk menghadapi saat itu. Temukanlah apa yang Tuhan inginkan dari (hidup)anda, apa yang sekiranya akan membuatNya menerima anda jika saat itu tiba.

your future is yours

Selayaknya, setiap manusia bertanggung jawab bagi dan untuk dirinya sendiri.

Sesungguhnya, tubuh kita berpijak diatas kaki kita sendiri. Sesungguhnya, Kaki kita melangkah untuk masa depan kita sendiri. Sesungguhnya, Keputusan untuk melangkah ke arah manapun, atau bahkan tak melangkah sekalipun adalah untuk kita pertanggungjawabkan sendiri.

Sesungguhnya, masa depan kita, ada ditangan kita sendiri, ditentukan oleh bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri, seberapa teliti kita memikirkan langkah yang harus diambil, dan tentunya seberapa besar usaha yang kita curahkan untuk melangkahkan kaki kita sendiri.

You are what you think,
And your future is yours.

diantara pekerjaan, uang, dan cinta

'' Bagaimana, menurut lo gue harus memilih yang mana? gue bingung''.

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan mengeluarkan kalimat begitu. Dia(kawan yang berkuliah di luar negri) sedang berada dalam dilema. Saat ini skripsinya sedang diurus, dan dilemanya itu berkaitan dengan perihal pekerjaan yang akan diambilnya kelak.

Dia mengajukan tiga pilihan:
pertama, ia menerima tawaran kerja dari perusahaan di Indonesia yang menawarinya kerja. Namun pekerjaan tersebut tidak begitu diminatinya.
Kedua, mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan minatnya. Namun ini sangat sulit,belum tentu diterima- mengingat mencari pekerjaan tidaklah mudah.
dan yang ketiga, memilih pekerjaan yang standar saja, yang mudah, dan mendapat gaji yang jelas.

Aku kemudian menjawab dengan mudah saja. Aku mendorongnya untuk melakuan sesuatu yang benar-benar diminatinya dan dicintainya. Cinta, apapun butuh cinta. Kita juga memiliki hak untuk memilih yang kita cintai

walaupun ada gaji dan pekerjaan lain yang menggiurkan ??

Ya. Aku akan dengan yakin menjawab ya.
Mungkin banyak orang berkata, mustahil seperti itu. Mencari pekerjaan sangatlah sulit. Aku hanya ingin berkata, jika kamu memiliki pilihan;pilihlah apa yang sesuai dengan kata hatimu-bukan apa yang sesuai kata orang, bukan juga apa yang sesuai kata keadaan.cari pekerjaan sulit?keadaan berkata demikian? Ini tak membuatku berpaling dari apa yang benar-benar kucintai.

Buatku, melakukan pekerjaan yang sungguh-sungguh kita cintai akan jauh lebih berharga dibanding melakukan pekerjaan yang tidak kita cintai dengan gaji besar. Naif? Ya barangkali. Terkadang kita harus berpikir polos untuk bahagia.

Bayangkan saja, dewasa ini banyak orang yang merasa stress dan tertekan karena pekerjaan mereka, kenapa? Jawabannya hanya satu . Yaitu karena mereka tidak menyatu dengan pekerjaan mereka, mereka tidak mencintainya. Pekerjaan dipandang sebagai beban, bukan kesenangan untuk dilakukan.
Dan orientasinya bukan karya atau layanan yang baik melainkan hanya uang.

Ketenangan dan kebahagiaan jauh lebih berharga untuk dikejar dibanding uang atau materi. Soal rejeki, kita semua tau-yang Maha Kuasa telah mengaturnya dengan sangat rapi untuk kita. Soal pekerjaan yang sulit didapat, terkadang hal yang berharga memang menuntut usaha ekstra kita. Tapi, jika memang hal itu cukup berharga untuk dikejar, kenapa tidak?

lelah atau lelah?

kita mungkin sering merasa lelah yang amat sangat; kita mungkin sering merasa sangat sibuk atas pekerjaan dan aktivitas kita. Merasa semuanya sangat padat. dan bahkan mungkin dalam hati, kita sering membanggakan apa yang telah kita kerjakan, tanpa sadar kita membesar-besarkan partisipasi ''besar'' kita yang sebenarnya ''kecil'' untuk jagad raya ini.yang juga sebenarnya kecil bila dibandingkan dengan partisipasi orang-orang hebat lainnya di luar sana.

Kamu sering merasa kelelahan? berhentilah sejenak. Luangkan waktu untuk melihat keluar. Lihatlah apa yang telah orang lain kerjakan, bagaimana hebat dan keras usaha mereka, betapa banyak keringat yang tercurah dari tubuh mereka. Betapa besar pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk mencapai mimpi-mimpi mereka. Betapa besar?

Sebelum kita mengeluh atas lelahnya kehidupan kita sendiri, kita perlu jeli menilai standart 'lelah' yang kita gunakan.apakah kita memang benar-benar lelah karena aktivitas yang padat?atau lelah karena tidak becus mengatur schedule? Atau lelah karena terlalu banyak bermain-main? Atau Mungkin saja kita merasa lelah karena sebenarnya kita tidak terbiasa untuk berjuang.
waktu : pukul 7 malam
Lokasi : halte busway benhil
kegiatan: menunggu bus untuk pulang.

Tanpa sengaja aku mendengar, dua orang (yang pastinya mahasiswa atma) sedang berbincang-bincang. Singkat kata, tiba-tiba salah seorang diantara mereka menyinggung soal Ip(indeks prestasi) kemudian berkata begini, ''kata senior gue, kalo baru masuk semester awal,ip mending jangan terlalu tinggi. 3 aja uda cukup, baru trus nanti naek-naekin terus nilainya. soalnya kalo di awal Ip nya 4 nanti pasti bakalan stres ke depannya, karena nilainya pasti turun terus.'' begitu.

Lucu ya? dulu, setiap kali bertemu dengan orang yang berbagi kisah mengenai perkuliahan, mereka pasti bicara begini ''rajin rajin ya di semester awal, biar dapet nilai setinggi-tingginya. Soalnya kalo semester atas cari nilai susah'' begitu.

Perbincangan dua anak manusia di halte tadi membuatku berpikir sejenak.

Ternyata ada juga orang yang berpikiran kebalikan dari orang-orang kebanyakan. Ada juga ternyata yang merasa menaikan nilai lebih mudah daripada menurunkan nilai.

Tapi bagaimanapun cara berpikirnya, akhirnya, apapun yang kita pilih akan menjadi pilihan kita dan hasilnya akan kita nikmati sendiri. Ada orang yang tergila-gila pada nilai yang bagus, tapi ada pula yang bersikap cuek dan tidak peduli -aku pribadi cenderung memilih untuk tidak tergila-gila pada nilai.

Tapi, masalahnya, jika Tuhan memberi kita kepercayaan untuk mendapat 100 mengapa merasa bangga hanya mendapat 50?kenapa harus puas dengan 50? Dan inti dari kesemuanya bukanlah angka yang dipertaruhkan, tapi tanggungjawab; tanggungjawab untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik.

Dan kita semua pasti sedang belajar untuk itu. Walaupun terkadang sangat sulit. Kebiasaan buruk sudah terlanjur terpatri, godaan muncul dimana-mana, belum lagi kesulitan-kesulitan diluar kendali kita. Tapi bagaimanapun, kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus berusaha, menjadi lulusan yang terbaik yang pernah ada ,dan yang membawa sejumlah ilmu yang digunakan untuk menolong umat manusia:)

masalah ibarat kamar berantakan

aku punya kisah,

misalkan saja...entah sejak kapan dan bagaimana mulanya tiba-tiba kamu menyadari kamarmu, tempat kamu biasa melakukan segala sesuatu, tempat kamu beristirahat sekaligus tempat favoritmu kini menjadi sangat berantakan. Barang-barang bertebaran, buku tergeletak dimana-mana, meja dan kursi tidak pada tempatnya, pakaian tercecer dimana-mana, dan kekacauan lainya lagi. Sejak kamu menyadari hal itu, saat itu pula perasaanmu tidak karuan. Pusing, sebal, malas, bingung. Dan kamupun bingung apa yang harus kamu lakukan. namun,tetap saja kamu punya banyak pilihan untuk dipilih.

Kamu ingin membereskan semuanya, tapi kamu merasa sangat lelah. Lagipula, kamu juga kebingungan harus mulai dari mana. Karena semuanya begitu berantakan.

Kamu punya pilihan untuk diam saja, memandangi segala kekacauan di kamarmu, sembari terus menerus merasa kesal karena semuanya tidak rapih. Tanpa kamu sadar, semua aktivitasmu menjadi terganggu karena barang-barang yang berantakan itu

Kamu juga punya pilihan untuk marah pada keadaan dengan bersikap cuek. Bukannya membereskan, malah menambah kekacauan. Kalau memilih pilihan ini, dapat dipastikan, keadaan kamarmu semakin tidak karuan dan kacau.

Kamu juga punya pilihan untuk merasa tertekan, menangis atas kondisi kamarmu yang kacau. Tapi, kita semua tau ...menangis tidak pernah membantu menyelesaikan masalah. Airmatamu hanya akan terbuang percuma

kamu juga punya pilihan untuk kabur, pindah ke kamar yang lain.tapi, langkah ini sepertinya terdengar memalukan, lagipula hal ini tidak akan menjamin kamu mendapat ketenangan di kemudian hari.

Dan pilihan yang terakhir

Mungkin kamu bisa membereskan semuanya, walau mungkin lelah, walau mungkin kamu tidak tau harus mulai darimana, walau sepertinya sulit. Namun, seberapa kecilpun usahamu, akan memberikan efek yang baik dibanding kamu hanya diam, menangis, marah, atau bahkan kabur.

Apakah kamarmu akan rapih kembali?itu pilihanmu sendiri.