Akhir tahun biasanya menjadi waktu
favorit pasangan kekasih untuk melangsungkan pernikahan. Benar saja, dalam
sebulan belakangan paling tidak ada empat pasang kekasih yang melangsungkan
pernikahan. Awal desember nanti seorang teman turut meramaikan agenda
pernikahan anak manusia tahun ini. Saya adalah salah satu orang yang turut
berbahagia, bahagia karena sepasang kekasih ini akan dipersatukan dalam
pernikahan dan lebih membahagiakan lagi karena bisa turut ambil bagian dalam
hari istimewanya.
Sore tadi saya dan partner tugas saya pergi ke
bridal ditemani dengan calon mempelai wanita, kakaknya, dan kedua orangtuanya.
Hari ini khusus direncanakan untuk memilih gaun yang akan saya dan partner saya
kenakan.
***
Gaun-gaun indah bergantungan memenuhi
hampir setiap sudut ruang lantai dua bridal.
Mulai dari deretan hijau, cokelat, biru, gold, putih, dan selama berjam-jam pijakan
kami terhenti di deretan gaun berwarna merah dan pink. Satu persatu gaun pada
sudut ini kami cobai di ruang ganti, berkaca, menimbang-nimbang, berusaha
menyukai setiap gaun yang kami coba sampai akhirnya tibalah kami pada gaun berwarna
merah marun.
Dan, masalah terjadi pada gaun
yang sedang saya kenakan. ketika semuanya
terasa sudah pas dihati, pas dimata, dan pas dirasa, ternyata ada masalah pada
bagian belakang gaun cantik itu. singkatnya, gaun merah marun itu sebenarnya
ditujukan untuk seorang wanita yang
badannya lebih berisi. Segala cara coba dipikirkan untuk mengakalinya,
namun apa daya, gaun yang sudah terlanjur mencuri hati saya itu harus saya
relakan begitu saja. Mesti direlakan untuk dipakai oleh orang lain yang
tubuhnya lebih pas.
Kecewa menyeruak seketika. Namun
sadar tidak pantas berlama-lama, saya pikir saya mesti cepat bergegas, tidak
ada yang bisa saya buat dengan rasa kecewa. Saya segera kembali ke deretan
gaun-gaun cantik, melihat setiap gaun yang tergantung dalam sudut itu,
mengeliminasi yang tidak masuk criteria, mencobai gaun-gaun yang mungkin lumayan
pas untuk saya, yang senada dengan yang
dipakai oleh teman saya, bahkan mencobai sekali lagi gaun-gaun yang tadi sudah
saya cobai.
Sampai akhirnya, tibalah si merah
jambu menjadi pilihan terakhir. Terakhir, bukan berarti yang terburuk kan? gaun
merah jambu ini sebenarnya sudah dicoba sebelumnya, sudah dua kali dicoba
bahkan, hingga akhirnya kami menemukan si marun dan lebih jatuh hati padanya.
Tapi ternyata saya harus menerima jodoh saya adalah si gaun merah jambu. Saya
berlenggak-lenggok di depan cermin, memandangi diri saya dengan gaun itu dari
atas hingga bawah, nampak depan, nampak samping, meliukkan badan untuk
memandang bagian belakang, dan akhirnya saya benar-benar yakin untuk
menggunakan gaun itu nanti.
***
and Finnaly, I'm falling in love with that pink beautiful gown :')
