hal tepat di tempat yang tepat

Jam 2 siang tadi seharusnya saya ikut latihan biola di Y15. Tapi saya ketiduran! Oh NO ! saya tertidur begitu saja, tanpa alarm .Fyi, saya sedang menjalani sp(semester padat) selama dua bulan ini. jadi jadwal kuliahnya agak senggang.  Hari ini adalah hari kamis, saya hanya mengikuti satu matakuliah saja yaitu pendidikan agama jam 07.00-08.40.  lalu jam 2 siang sampai jam 4 sore saya latihan biola di ruang latihan orkestra di gedung Yustinus lantai 15.

Singkat cerita, karena jam 4 sore saya ada janji rapat di kampus yang kemungkinan sampai malam, akhirnya setelah selesai kelas saya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah lalu berangkat lagi siang harinya. Tapi karena saya “ketiduran” jadi saya tidak ikut latihan. dan akhirnyasekitar jam 3 saya baru berangkat lagi ke kampus. jam 4 kurang beberapa menit saya datang ke ruang pertemuan rapat. Tapi, ternyata rapat diundur sejam kemudian, dan sayapun menunggu sampai jam 5 sore


Di saat saya menunggu, teman saya yang juga latihan biola sudah selesai latihan, dia menghubungi saya, kemudian mendatangi tempat dimana saya sedang menunggu, karena dia juga sedang menunggu dijemput.

Tidak membuang banyak waktu, teman saya ini (yang sebenernya paling semangat mensupport saya latihan) langsung menceritakan kegiatan selama latihan. “eh lo tadi ditanyain sama bapaknya Joe” terus dia cerita begini, begitu, dan seterusnya. Sampai akhirnya karena penasaran dengan teknik yang dimaksud, saya bilang, “praktekkin dong yang lo maksud, gue gak ngerti”

Hmmm, sejenak, kita sama-sama mikir, mau main dimana?? Biolanya ada, yang mau dan bisa  memainkan benda itu juga ada, tapi tempatnya tidak ada. Sebenernya sih bisa saja kalau dia mau menggesek biolanya disana, ditempat itu, saat itu juga. Tapi, sepertinya tunggu dulu deh, tempat itu ramai, banyak orang lalu lalang, banyak orang duduk, suara biolanya mungkin akan menganggu. Yang ada nanti mengganggu orang, yang ada nanti disangka negatif, yang ada nanti disangka orang tidak ada kerjaan, yang ada entar disangka jago main biola, dan yang ada nanti disangka tukang ngamen. hahaha(sorry, gak lucu).

Akhirnya, biola manis itu tetap pada kotak hitamnya. tak disentuh sekalipun dan hari ini saya mendapat sesuatu yang berharga, untuk kesekian kalinya sang pencipta memberikan saya kesempatan menemukan hal-hal kecil seperti ini, yang sebenarnya tidak kecil.

semuanya ini tentang menggunakan kebijaksanaan untuk “melakukan hal yang tepat di tempat yang tepat” agar tidak mengganggu kenyamanan yang lainnya.

nb: tulisan sederhana ini dibuat hampir setahun yang lalu, pada saat-saat semester pendek bulan januari-febuari. tulisan sederhana ini ditemukan setelah saya mengobrak abrik draft blog ini.

mencampakkan dan dicampakkan

memulai bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi memulai suatu hubungan dengan sesuatu yang telah kita campakkan.

dicampakkan atau mencampakkan merupakan hal yang sama. sama-sama tidak enak, sama-sama sulit. dan, sebagai manusia normal, tentu saja saya pernah memerankan kedua lakon tersebut.

pernah dicampakkan- rasanya sangat sakit.
pernah mencampakkan- ketika tersadar, rasanya sungguh tidak enak.

sudah bisa membayangkan rasanya dicampakkan? saat ini saya sedang meresapi rasanya. tepatnya saya sedang berusaha berempati dengan apa yang dialami olehnya. ya, saya adalah pelaku tunggal yang telah berbulan-bulan lamanya mencampakkan keberadaannya. saya sama sekali tidak berbangga hati, karena perasaan ini sungguh tidak enak.

persis sama dengan kalimat pembuka postingan ini. memulai bukanlah suatu hal yang mudah. apalagi memulai kembali sebuah hubungan dengan sesuatu yang telah kita campakkan. sejujurnya, sejak sore tadi saya kesulitan menemukan kalimat-kalimat yang akan saya lontarkan, saya sulit menemukan kalimat yang mungkin akan kembali menghangatkan hubungan kami seperti dulu.

jika anda berpikir semua ini tentang hubungan saya dengan seseorang, anda salah besar. karena saya sedang berbicara mengenai blog ini- yang telah berbulan-bulan saya campakkan.

kalimat-kalimat yang saya tulis mungkin kedengarannya kaku. barangkali ini hukum alam namanya, saya tidak bisa begitu saja menulis dengan leluasa seperti sediakala. barangkali butuh pemanasan dulu setelah berbulan-bulan saya tidak menyentuh blog yang sudah berdebu ini.

tulisan yang tidak jelas pangkal ujungnya ini merupakan surat terbuka untuk pembaca setia blog ini. mudah-mudahan postingan ini bisa menjadi pembuka hubungan antara kami (saya dan blog ini)

pembekuan sperma

Hari minggu kemarin saya nonton satu acara talkshow terkenal di televisi. Acara tersebut menghadirkan bintang tamu, yaitu para ilmuwan berprestasi.

Semua ilmuwan yang dihadirkan sebagai bintang tamu merupakan "anak Indonesia asli". Sekarang mereka bertebaran di berbagai belahan dunia dan berprestasi disana, seperti: Malaysia, Amerika, Jepang, Australia, Belanda. Masing-masing dari mereka punya spesifikasi sendiri. Ada ilmuwan yang melakukan riset  tentang IT dan masyarakat pedesaan, ilmuwan yang mensingkronisasi antara IT dan humanisme, ilmuwan teknologi makanan dan Gizi, Ilmuwan tentang antartika. Ada yang berhasil menemukan planet, ada yang berhasil menemukan alat komunikasi 4G, berhasil menemukan sensor untuk lemak babi, dan yang paling menarik adalah berhasil menemukan cara untuk pembekuan sperma manusia dengan murah meriah.

Pembekuan sperma? yang terakhir ini adalah yang paling menarik untuk saya. Pembekuan sperma ini konon katanya digunakan untuk orang yang ingin melaksanakan proses bayi tabung. Seorang wanita yang tidak bisa hamil dipaksa untuk hamil dengan proses bayi tabung.

Apa yang terlintas di dalam pikiran anda? Semua orang di dalam acara tersebut jelas terkagum-kagum. Atau bahkan penghargaan yang berhasil diraih oleh ilmuwan tersebut menggambarkan betapa banyaknya orang yang mengakui keberhasilannya. Penemuan akan bayi tabung sendiri sebenarnya sudah sangat lama, sedangkan ilmuwan yang menjadi bintang tamu di acara tersebut menemukan cara pembekuan sperma dengan biaya yang murah.

Berbicara soal bayi tabung.

Yang menarik buat saya adalah, “apakah bayi tabung yang dipandang terobosan hebat itu memang dikehendaki sang Pencipta atau tidak?”, logikanya begini, sepasang suami istri menikah, kemudian Tuhan percayakan kehamilan pada rahim sang istri melalui pertemuan sel telur dan sel sperma , lalu jadilah janin, lahirlah bayi. Tapi kalau seandainya yang terjadi sebaliknya bagaimana? Laki-laki dan perempuan menikah, kemudian tidak ada kehamilan, tidak ada keturunan, berarti bisa disimpulkan bahwa ‘’sang Pencipta tidak atau belum berkehendak akan kehamilan itu bukan?’

Kabar baiknya, manusia dibekali otak yang luar biasa hebat. Apa yang tidak ada, bisa dibuat menjadi ada- termasuk untuk menciptakan kehamilan melalui bayi tabung. Kontroversial bukan? Disatu sisi kehamilan itu harusnya bersifat alamiah dari Allah. disisi lain, otak yang pintar, teknologi yang hebat, itupun terjadi atas anugerah Allah, otak yang hebat itupun pemberian Allah. Lalu, bagaimana anda menilainya?

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu menguasai kehidupan manusia, ternyata ada kalanya kita harus berdiam diri sejenak, meresapi dalam-dalam bahwa “itu semua hanyalah pemberian”  yang seharusnya “digunakan dengan kebijaksanaan” untuk “menyenangkan hati sang pemberi itu sendiri”.


*tulisan dalam postingan ini telah tersimpan lama dalam draft entry. waktu penayangan acara yang saya maksudkan adalah berbulan-bulan yang lalu.