jika dalam perjalanan yang kamu tempuh,
tiba-tiba hatimu meragu, berhentilah sejenak untuk bertanya.
jika ia yang kau tanyai tak dapat memberi jawaban pasti,
maka berhentilah sejenak untuk berdiam diri.
jika jalan yang kautempuh tetap tak tentu arah,
segeralah berbelok- mungkin engkau sudah salah jalan.
terimakasih untuk kamu, karena telah meluangkan waktu berjalan bersama.
sampai disini cerita kita, mungkin memang kita tak harus bersama
bersahabatlah karena butuh
Saya baru saja dikejutkan dengan pernyataan sahabat dekat saya yang isinya begini ''sebagai sahabat, aku ga diperlakuin sebagai sahabat, aku ngerasa dicari kalo lagi butuh doang''
Pernyataan yang memaksa mata saya terbuka lebar-lebar itu tidak muncul begitu saja. ada sebab, hingga pembicaraan kami berakhir di pernyataan macam itu.
Awalnya, saya dan dia sedang chatting . Lalu, karena ada keanehannya yang saya rasakan(memang rasanya ada yang sedang tidak beres diantara kami), saya lantas bertanya dengan pertanyaan yang menukik tajam, ''kenapa kamu?'' dia diam, hening. Saya menunggu beberapa waktu sambil terus menanyakan hal yang sama. tak ada hasil, lalu saya bertanya lagi ''kenapa kamu selalu diam, selalu tertutup?'' dia hening. Lalu, saya lanjutkan dengan satu kalimat tanya ''gimana ya rasanya kalo seorang sahabat diperlakukan tidak sebagai sahabat?'' lantas, dia menjawab ''sebagai sahabat, aku engga diperlakuin sebagai sahabat, aku dicari kalau lagi butuh aja'' ini adalah pernyataan yang frontal, tidak kalah menukik dibanding dengan kalimat tanya yang saya lontarkan.
Saya spontan menjawab,
Sahabat bukannya ada untuk membutuhkan dan dibutuhkan ya? bukannya harusnya semakin merasa senang kalau dibutuhkan? Dan, bukannya memang pada kodratnya manusia hidup saling membutuhkan? Kasarnya, kalau tidak ada kebutuhan, justru terasa hampa bukan? ironisnya, mungkin bisa jadi kehilangan topik pembicaraan, atau bingung apa yang akan dilakukan, betul tidak ?
Saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan pernyataan yang dianggap frontal tersebut. Justru saya merasa sepaham dengan hal tersebut. Saya memang begitu.
Saya mencari sahabat saya dikala butuh. Secara kasat mata, ketika saya butuh pendapat, butuh dibantu ini itu, butuh didengar,dsb saya akan mencari sahabat saya. Tapi, jangan lupa ! ada kebutuhan tersirat yang tidak bisa dimaklumi secara asal. Ketika saya peduli, ketika saya ingin tau keadaan mereka, ketika saya memperhatikan mereka walau hanya dari kejauhan, ketika saya mau ikut campur dengan urusan mereka, kala itu saya butuh merasa dibutuhkan sebagai sahabat. Sahabat yang memang berperan sebagai 'sahabat'. kala itu pula saya butuh mengaktualisasikan diri sebagai sahabat yang sesungguhnya.
Misalkan sebaliknya, ada sahabat yang justru jarang mencari sahabatnya, untuk hanya sekedar sharing pun tidak. nampak tidak ada kebutuhan akan kehadiran sahabatnya. Lalu, bagaimana kira-kira rasanya sebagai sahabatnya? Merasa tidak dibutuhkan? merasa jangan-jangan saya bukan sahabatnya? Betul tidak?
Jadi, menurut saya, bersahabatlah karena butuh. merasa dibutuhkan itu penting, merasa membutuhkan juga tidak kalah penting, dan seorang sahabat harus tau kalau ia merangkap keduanya, sebagai orang yang membutuhkan dan dibutuhkan :)
...
Walau barangkali hanya bisa menatap dari kejauhan, walau barangkali mereka tidak menyadari ada sepasang bola mata yang terus memperhatikan, tidak apa-apa. Saya tau, sudah sejak jauh hari hati ini mengatakannya: aku butuh mereka, aku sayang mereka, dan mereka akan tetap menjadi sahabat sampai selama-lamanya.
Regards, joey :')
tangga
Tangga
Sederhana saja kita menyebutnya, tangga. namun fungsinya tidak pernah sesederhana itu. Ia, yang selalu pasrah membawa kita naik-turun-naik-turun, seringkali menjadi saksi bisu pertemuan antar dua manusia.
Entah berapa kali dalam hidup saya, atau paling tidak setahun belakangan ini terjadi banyak pertemuan tak terduga di sebuah ruang polos yang kita namai tangga. Seringkali menjadi pertemuan biasa saja, tapi beberapa diantaranya menorehkan makna seperti halnya pertemuan singkat sore tadi, dengan seorang yang tidak saya sangka.
***
sore tadi seusai kelas di lantai 4, saya bergegas menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Karena satu dan lain hal, saya turun seorang diri saja tanpa teman. Dengan percaya diri satu persatu anak tangga saya lalui, hingga di anak tangga kesekian di lantai 2 saya bertemu dengan seseorang. Ia, seorang Bapak dosen yang dulu pada awal perkuliahan pernah mengajar saya. Dosen unik yang tidak biasa. Benar, ia adalah orang yang dulu pernah menarik perhatian saya.
sudah lama saya tak bertemu dengannya. Mungkin hampir setahun. sudah lama saya tak lagi pernah mengingat-ingat orang yang dulu saya kagumi itu. Tiba-tiba saja pertemuan tadi sore terjadi, dengan begitu alami.
pertemuan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam setelah sebuah kalimat keluar dari mulutnya ''kamu sekarang kelihatan tambah dewasa ya'' kalimat ini terucap dengan polosnya, dibumbui dengan senyum, dan sorot mata hangat.Kemudian saya membalas dengan cepat ''ah, makasih loh pak'' ditambah senyum tentunya. Lalu saya berpamitan, dan berjalan menuju arah yang berbeda.
Percakapan sore tadi begitu singkat. Namun setidaknya dengan satu kalimat tersebut ia berhasil membuat saya tersenyum. setidaknya saya tau, ia adalah orang yang dulu menyaksikan keberadaan saya, dan sekarang ia pun menyaksikan sebuah perubahan yang baik.
Langganan:
Postingan (Atom)