tanggal 7 bulan 7 tahun 2011

kisah ini berlangsung tanggal toedjoeh boelan toedjoeh dua ribu sebelas. gadis dalam foto ini adalah seorang model tunggal, namanya Aurelia Evi. ia mendadak menjadi model setelah kami mendadak berubah haluan.

antara PRJ dan MONAS, EVI hadir disana...

awalnya kami berdua berencana pergi ke PRJ, tapi karena satu dua tiga dan lain hal, akhirnya kami berubah haluan. dan tempat terdekat yang mungkin dapat kami kunjungi saat itu adalah monas. tanpa pikir panjang, berakhirlah tujuan kami disana, dari sore hingga malam, dari biru hingga hitam, dari sepi hingga ramai, dari matahari hingga bulan, monas tetap menjadi monas. dan kami menikmati hari itu...



pepohonan rindang di depan mata

selamat berkembang

dulu, puluhan tahun yang lalu  ketika saya masih duduk dibangku sekolah, ketika saya masih manis dengan kemeja seragam saya, ketika saya masih culun-culunnya (sampai sekarang juga barangkali) saya punya teman. tidak terlalu dekat sih, tapi sempat sekelas dengannya. ia adalah seorang remaja laki-laki; nakal, playboy, sangat nggak jelas, melihat tingkahnya sungguh membuat malas. ia terkenal suka menggoda para perempuan (males kan?), suka mengerjai orang,  dan ini sudah menjadi rahasia umum. intinya, saya memberikan cap "nggak banget" padanya, malas bergaul dengannya, bahkan enggan berkomunikasi dengannya. akhirnya takdir memisahkan kami, ia tidak naik kelas.

hari, bulan, tahun berlalu. cap buruk tersebut terus melekat. bukan hanya saya, tapi hampir seluruh teman-teman yang pernah mengetahui dan mengalami kenakalannya. saya pun akhirnya lulus dari sekolah tersebut. saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya (tepatnya, tidak mau tahu). 

Well, setelah beberapa tahun lamanya, saya baru tahu... ternyata ia telah menjadi ''seseorang'' sekarang. terlepas dari apakah ia masih suka menggoda perempuan atau tidak, terlepas dari bagaimana caranya ia dapat berubah, yang saya tahu sekarang ia telah menjadi mahasiswa ''pintar'' yang menjadi pelopor berbagai kegiatan. ia juga menekuni bidang yang menurut saya tidak mudah, ia menjadi seseorang yang memiliki masa depan.

hebat, dua jempol saya terangkat. saya tidak menyangka, orang yang seperti itu, yang dulunya sangat malas, sangat nakal, sekarang menjadi orang yang pintar, serius, dan hebat. 

kejadian macam ini tentu saja bukan yang pertama kalinya. ada berbagai kejadian serupa, yang sebenarnya mirip namun konteksnya berbeda. tapi semuanya bermuara pada satu kesimpulan yang sama, setiap harinya orang bisa berubah-ubah, manusia akan berkembang. kita belajar, kita berusaha, kita mengalami ini-itu yang membuat kita menjadi sesuatu. segala hal diubahkan, ada yang baik dan ada yang tidak- kita yang memilih kemana kita akan berkembang, dan seperti apa kita di keesokkan hari. pelajaran yang sangat penting, kita (saya dan anda) seringkali terlalu percaya diri, menaruh cap pada diri seseorang. "ia adalah orang yang begini........... begitu.........".  padahal kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada seseorang (juga pada diri kita), kita tidak akan pernah tau apa yang akan kita alami, kita tidak bisa mengira-ngira pembelajaran apa yang mungkin kita dapatkan. kita hanya bisa terkagum-kagum keheranan ketika menyadari ternyata semuanya bisa berubah dan sudah berubah.c'est la vie ! :)

"manusia akan terus berkembang sampai akhir hayatnya- ini yang membedakannya dengan robot. manusia bukan robot" ia yang kamu lihat kemarin, belum tentu kamu temui hari ini. ia yang kamu temui hari ini, belum tentu sama pada esok hari. 

selamat terus berkembang ya !

Terhapus

nasi sudah menjadi bubur, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk saya sekarang.

ketika maksud hati tak sampai, hanyalah penyesalan yang bersisa- itupun sia-sia (lebay). beberapa menit yang lalu saya mulanya bermaksud membereskan blog yang berantakan ini. saya hendak menyatukan label ke dalam kategori yang sama. maksudnya sih supaya rapi, supaya lebih mudah dibaca, buat saya juga buat kamu-kamu yang mau membaca.

hal semacam ini sudah pernah saya lakukan sebelumnya. dan memang ada cara ringkas yang bisa memindahkan postingan ke label yang baru, tidak perlu harus memindahkan satu persatu. singkat kata, saya hendak memindahkan 31 postingan berlabel ''my daily life'' (kalau yang suka membuka blog saya ini pasti tau). saya mau memindahkan labelnya ke label "cerita sehari-hari". bukan kerapihan yang saya dapat, namun kehilangan. luar biasa, 31 posting yang isinya (ada beberapa tulisan favorit saya disana.hiks) tiba-tiba hilang hanya dengan satu klik. tidak bisa di undo, di back atau apalah itu.

dan sekarang, 31 postingan itu lenyap sudah. ini murni kesalahan saya; mungkin tidak teliti membaca perintah, mungkin teledor, atau mungkin saya sedang mabuk (loh?). ya, intinya menyesalpun tiada guna. baiklah, yang berlalu biarlah berlalu. tulisan-tulisan tersebut telah terhapus. ada beberapa kejadian atau kisah penting yang mungkin (rencananya) akan saya tulis kembali jika motivasi cukup kuat .  dan biarlah tulisan ini menjadi tulisan pembuka di label yang baru


okey. mari sambut tulisan-tulisan baru, mari menulis lagi dan  lagi.

perubahan serius

Kata orang, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang represif. Katanya, kita tidak biasa mengekspresikan apa yang kita punya dalam hati. Tidak seperti masyarakat lainnya yang tinggal di benua berbeda-mereka katanya dan kelihatannya dengan mudah berekspresi, makanya orang bilang mereka ekspresif dan kita represif. mereka juga lebih berani, orang-orangnya memiliki prinsip dan berani menunjukkan diri

Lalu ini salah siapa? Kebudayaankah? Masalalu bangsakah? Bisa jadi. Barangkali setelah direnggut kebebasannya sekitar 30 tahunan oleh Rezim orde baru, masyarakat Indonesia menjadi tulang belulang hidup- terbiasa menerima semua dengan pasrah, tidak peduli, atau mungkin terbiasa hanya ''ikut-ikutan'' orang lain.

Dipikir-pikir, ada baiknya juga- toh manusia pada akhirnya harus pasrah, harus menyerah. tapi pada yang kuasa! Bukan menyerah pada yang salah, bukan pasrah pada keadaan atau sistem yang melulu berulang-ulang bertahun-tahun. Ya,memang... sedikit banyak Indonesia telah berubah, entah perubahannya semakin baik atau tidak. entah perubahannya dirasakan hanya segelintir orang atau keseluruhan, entah perubahannya benar-benar perubahan atau sebenarnya tidak ada yang berubah.

Yang jelas demi perubahan yang baik untuk negeri ini, harus dimulai dari diri kita sendiri- lalu mengajak yang lainnya-menularkan semangat ini pada yang di sekeliling kita :)

gerakan kaki kita untuk perubahan positif, mulailah saat ini juga !

untuk pembaca

Setiap jejak langkah  memiliki kisah dan misterinya sendiri. yang mudah maupun yang sulit, yang indah maupun biasa saja, yang sudah maupun yang belum dilangkahi akan indah jika memiliki makna, betul tidak? langit hari ini sungguh cerah-lebih cerah dari kemarin. besok, belum tentu sama cerahnya. bisa jadi lebih cerah, atau justru lebih gelap. yang pasti selama Allah berkenan, matahari akan terbit setiap pagi. itu tandanya hari baru menanti untuk dinikmati, itu saja.

sayangnya, mungkin karena "terlalu" menikmati hari-hari baru (yang datang dan pergi secara teratur setiap harinya) , kita seringkali tanpa sadar kehilangan makna. katanya ''hidup'' ternyata hanya mengikuti kehidupan, seringnya begitu. sampai-sampai kita ini lupa (atau pura-pura lupa) mencari tau "siapa kita, dan untuk apa kita ada disini?" dalam arti yang sesungguhnya. kalau berbicara mengenai hal ini, tidak jarang orang hanya mau menyentuhnya dipermukaan, padahal, ini hal yang serius. tanpa memahami itu semua, kita lebih mirip seperti mesin otomatis yang bergerak, bekerja tiada  henti, menghasilkan ini-itu yang sebenarnya tidak punya tujuan-alias hampa.

Proses pencarian makna tidaklah mudah. kita perlu bergumul, menangis hingga berguling-guling kalau perlu. tapi, terkadang ia sangat bersahabat- datang disaat tak terduga. intinya sih, semua hal harusnya bermakna- tidak ada suatu hal yang lewat begitu saja. toh tidak ada kata ''kebetulan'', kan? 

kata kuncinya adalah proses. kita semua sedang berproses ini-itu. dan kita sedang dalam proses perjalanan ke kehidupan nyata (kehidupan yang sesungguhnya). disinilah saya berbagi hidup, berbagi pengalaman, berbagi ide, berbagi cerita besar-cerita kecil (sesungguhnya tidak ada yang kecil). tulisannya masih berantakan, masih abstrak, masih kacau-balau. tapi inilah saya dalam ''en route to real life"

selamat membaca, selamat berproses
Tuhan memberkati :)

berorganisasi

Dulu, saya bukan tipe orang yang suka berorganisasi. Saya lebih sering memilih untuk pulang segera dari sekolah, tidur di rumah atau sekedar santai bermain-main dengan teman. Saya hanya terlibat dalam organisasi gereja, dan itupun judulnya pelayanan.

Selama melakoni sebagai pribadi demikian, rasanya sih saya senang-senang saja. Hidup rasanya sangat tenteram, bisa bermalas-malasan karena sangat banyak waktu kosong di rumah. Demikian pula pikiran, rasanya tidak terlalu terganggu, tiada beban ekstra yang berlebih-lebihan. Toh, tidak ada deadline yang harus dipikirkan? Tidak perlu pusing memikirkan ini dan itu yang notabenenya bukan urusan saya pribadi juga. Tidak perlu berurusan dengan orang banyak dan tidak perlu mengorbankan apa-apa.

Saya pernah menikmati masa-masa seperti itu. Saya lebih setuju menikmati waktu pribadi dirumah untuk tidur, menonton televisi, dsb dibanding bersosialisasi atau berorganisasi di luar sana.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai perlahan-lahan berubah. Sedikit demi sedikit merasakan adanya hal-hal yang janggal dengan kebiasaan lama saya itu.
Pertama dimulai dengan menyadari hal-hal kecil, lalu hal-hal besar, sampai akhirnya mengalami perubahan yang radikal.

Rasanya, ada yang hilang jika saya hanya berdiam diri di rumah. Rasanya saya merugi jika tidak mau bersosialisasi atau ikut berorganisasi.

Perlahan tapi pasti, saya mulai membuka diri terhadap tawaran organisasi. dan, benar saja... Saya merasa banyak sekali keuntungan daripadanya. Memang sih, banyak orang berpendapat, ngapain sih capek-capek ngurusin urusan yang bukan buat kepentingan kita?-kadang orang memilih untuk tidak ambil repot. Tapi justru dari situlah kita belajar. Yang paling berharga, belajar untuk tidak egois. yang kita urus itu bukan kepentingan kita pribadi. Secara tidak langsung, kita mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kepentingan orang lain secara cuma-cuma. Dari situ Kita belajar bagaimana caranya melayani dengan tulus. belajar untuk hidup tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi juga berjuang untuk kepentingan orang lain. Bonusnya, kita belajar bagaimana caranya bersosialisasi, belajar untuk berkorban, belajar bertanggungjawab dan pastinya berkomitmen.

Tidak jarang pula, melalui organisasi saya dilatih untuk belajar memahami karakter orang lain, lalu belajar beradaptasi dengan karakter orang yang sudah tentu berbeda beda dengan saya. memahami karakter orang biasanya akan lebih mudah jika kita pernah bekerja bersama dengan orang tersebut. Dan belajar beradaptasi dengan orang yang memiliki sifat berbeda bukanlah hal yang sulit. Butuh pengorbanan dan butuh kedewasaan. Saya pun Belajar membuka diri, belajar menerima masukan dan memberi masukan, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk menerima orang lain apa adanya (dan cenderung memotivasi mereka) dan tentunya belajar untuk tidak mudah tersinggung.

Selain belajar banyak hal, tentunya saya juga merasa ditambahkan banyak hal. secara kasat mata jelas saja teman-teman saya bertambah. Beberapa diantaranya justru menjadi teman dekat. Dan bonusnya, kadang saya diijinkan mendalami kehidupan mereka,yang secara tidak langsung membuat jiwa saya semakin kaya.

Selain hal yang saya sebutkan itu, wawasan saya pastinya juga bertambah terus menerus. Dan tidak lupa, yang pasti dan sangat berharga adalah ''pengalaman''. Tidak bisa dipungkiri, saya selalu saja memperoleh pengalaman baru. Baik melalui hubungan dengan rekan-rekan, melalui kegiatan yang sedang dilakoni, ataupun momen yang saya alami.

Kalau dulu saya mati-matian menghindari keterlibatan dalam organisasi, sekarang saya malah ketagihan :p saya sekarang sedang terlibat banyak kegiatan organisasi. Saya menikmatinya!:) saya lelah, namun saya bahagia. Saya mati-matian berjuang bagaimana caranya memanajemen waktu dengan baik dengan banyaknya kegiatan, tugas, dan tanggung jawab yang harus saya penuhi. saya harus bisa memberikan porsi yang seimbang dan tepat: selain kegiatan organisasi, kuliah, tugas, saya punya keluarga yang harus diperhatikan. saya punya komitmen pelayanan, saya punya sahabat-sahabat, saya punya teman-teman yang harus saya berikan(bukan sisakn) waktu yang berkualitas. Memang sih terkadang rasanya ingin menyerah. manajemen waktu itu sangat suliiittt bagi saya, kadang saya juga merasa amat kelelahan (pikiran, emosi-jiwa, tenaga). Belum lagi ditambah dengan percikan konflik, masalah dengan rekan kerja yang banyak macamnya, dan banyak hal lainnya yang menguras emosi. Kadang, hal-hal tersebut juga menjadi stressor yang besar bagi saya. alhasil tidak jarang saya putus asa, ingin mundur. tapi masalahnya, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak? justru akhirnya saya memandang ini sebagai tantangan. Seharusnya semakin sering berorganisasi semakin pintar pula jadinya dalam memanajemen waktu, makin pandai pula mengelola emosi.

berorganisasi memang sangat melelahkan. tapi percayalah, ini sangat indah. Dan organisasi adalah satu tempat belajar yang perlu diperhitungkan. disini saya berbagi visi, berbagi pengalaman, berbagi hidup bersama orang lain. it,s nice !nDan, semakin banyak orang yang saya kenal, semakin besar pula kesempatan saya menjalakan misi hidup saya. Benar kan? :)



Soli deo Gloria

ragu

kalau kau temukan ragu di ranting itu,
pasti itu punyaku.
Kalau kau mau bantu aku,
patahkan ragu itu.

Pohon itu Tinggi,
Batangnya begitu besar,
Daunnya lebat,
Terlalu lebat, terlalu tinggi,
Aku takut.

Aku hanya sebuah ranting.
Aku rapuh, aku ringkih,
aku baru, aku muda,
aku bodoh, aku lemah,
Aku meragu.

Kalau kau temukan ragu itu,
Tak salah lagi,
sudah tentu itu milikku,
Patahkanlah saja.

alive

''do not ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world need is people who have come alive'' - Howard Thurman.

Jangan tanyakan apa yang dunia butuhkan. Tanyakan apa yang membuatmu merasa hidup, lakukanlah itu. Karena apa yang dunia butuhkan adalah orang yang merasa hidup.

Kuotes yang diciptakan oleh teolog sekaligus aktivis dari Amerika ini menjadi inspirasi bagi saya hari ini. Sebelumnya, saya pernah mendapat kuotes tersebut dari seseorang. Tapi, kali ini maknanya lebih luas,setelah kedua atau ketiga kalinya membaca saya baru menemukan sesuatu yang lebih.

guys, kalau dipikir-pikir dengan seksama, saya (dan kalian) setiap hari pasti ''merasa hidup'' dalam kehidupan ini. toh setiap hari kita bernapas, kita bergerak, kita beraktivitas, dan kita punya rutinitas. tapi guys... masalahnya, apa benar yang selama ini kita anggap ''hidup'' dan kita sebut kehidupan, memang benar-benar adalah sesuatu yang disebut ''hidup''? Jadi, selama ini, di bumi ini, apakah kita benar-benar hidup Ataukah kita hanya mengikuti kehidupan?

Lalu, saya jadi berpikir...apa ya indikasi seseorang bisa dikatakan benar-benar hidup? apa setiap orang yang bernafas, yang punya kesibukan, lalu sudah bisa dikatakan ''hidup''?

Pepatah singkat diatas menjadi inspirasi saya sebagai pribadi; memaknai hidup- ''hidup yang sebenarnya'' adalah jika kita sebagai pribadi merasa benar-benar hidup- oleh apapun juga, baik karena perasaan, hasrat, kegiatan, suatu hal, seseorang, dan apapun juga.

sebagai pribadi, ada banyak hal yang membuat saya merasa benar-benar hidup. bukan, bukan hanya sekedar 'merasa' hidup, tapi ada dampak dari kehidupan itu sendiri baik bagi saya sendiri maupun orang lain.
Kita sebut saja contohnya ketika kita menolong orang lain, ketika kita melakukan kegiatan dengan menggunakan kemampuan otak kita(berdiskusi, belajar), ketika kita mendapat prestasi yang baik, ketika kita menghasilkan sebuah karya, ketika kita bisa menyayangi orang lain, dan ketika apapun juga-dimana dengan melakukan hal-hal tersebut, biasanya kita merasa diri kita 'ada' dan kita 'hidup'.

saya, sebagai pribadi memiliki segudang hal dan kegiatan yang membuat saya merasa benar-benar hidup. Bagaimana dengan kamu? if you passionate with something, just go for it! Everything's makes you come alive, just go do it.

...

yang namanya hidup, ya harus ''hidup''. Bukan sekedar ada dalam kehidupan atau ikut-ikutan hidup. Artinya, bukan sekedar mengalir mengikuti arus, bukan sekedar menjalankan rutinitas, bukan sekedar mengikuti nasib.

lalu, pikirkan ini "apa yang mampu membuat saya benar-benar hidup?" dalam jangka waktu yang abadi, tidak sementara, yang tidak hanya sesaat(yang datang dan pergi). kalau saya ditanya pertanyaan serupa, saya pasti spontan menjawab " Jesus is the one who make me come alive" :)

tidak sebiru biasanya

mana kutahu ia bisa seangkuh ini,
Mana kutahu? sungguh aku tak tau.
biasanya ia biru, ia tidak pernah kelabu,
Kali ini sungguh beda, malahan penuh tega.

Ia yang semalam kutunggu,
yang semalam kutitip pesan lalui bintang,
sama sekali tak mau ia menatapku,
malahan menjadi angkuh begini,
barangkali ia malu karena ia tak biru.

Bagai lukisan luntur karena airmata,
Bagai hitam yang menjadi abu-abu,
Bagai hijau yang menjadi sayu,
Bagai biru yang tak lagi perawan.

kali ini ia adalah biru yang tidak biru,
Aku kecewa. entah dinodai siapa,
Ia menjadi kehitam-hitaman
Pagi ini hujan mendadak turun,
langit biru tak sebiru biasanya