kita harus selalu merendahkan hati.
Sebab, selalu saja ada orang-orang yang lebih.
Dan, kita mungkin tidak begitu dihargai karenanya.
Tidak apa-apa, kita hanya perlu merendahkan hati.
Menerima apa yang pantas kita terima dan memberi apa yang harus orang lain terima.
Mereka 'lebih' dari kita?
Maka, mereka pantas menerima penghargaan lebih.
dan kita harus memberikan penghargaan tersebut.
Dan dengan rendah hati, kita harus belajar dari kelebihan orang lain.
24 jam ?
hari sudah malam, saya sudah sangat mengantuk, tapi belum ingin tidur rasanya. Bulan dan bintang sedang merayu saya barangkali.
***
memang sih, tidur adalah kegiatan yang menyenangkan. Beberapa orang secara asal menyebutkan bahwa''tidur, adalah surga dunia'' ya, saya pribadi sih setuju-setuju saja. Maksud pernyataan tersebut kan tidak lebih untuk menggambarkan betapa menyenangkannya tidur.
Namun, entah... Saya, yang sebenarnya juga suka tidur, justru suka berpikir sebaliknya. Seandainya saja manusia nggak butuh tidur. Rasanya, 24 jam tidak cukup melakukan semua hal, dari yang memang harus dilakukan hingga kegiatan lainnya yang hanya membawa kesenangan pribadi semata.
Tapi, kalau dipikir lebih lanjut sih... Seandainya diberikan lebih dari 24 jam sehari pun rasanya tetap aja nggak cukup (manusia kan kecenderungannya begitu).
Jadi intinya, 24 jam itu harus kita gunakan untuk hal-hal berguna, hal-hal yang memang penting, hal-hal yang memang memberi dampak pada sesuatu, dan hal-hal yang memang harus dilakukan.
Jangan buang waktu dengan sesuatu yang tak berarti. Maksudnya, bukan berarti nggak boleh main-main. Tapi, lebih tepatnya lakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Singkatnya, kalau kita serius disaat kita sedang bermain, itu namanya buang-buang waktu. begitupun juga halnya bermain di saat harus serius.
dan, saya pun harus tidur sekarang. Karena kegiatan ini penting, harus dilakukan, memberikan dampak pada tubuh, dan terakhir, ini memang saatnya untuk tidur.
Nights :)
***
memang sih, tidur adalah kegiatan yang menyenangkan. Beberapa orang secara asal menyebutkan bahwa''tidur, adalah surga dunia'' ya, saya pribadi sih setuju-setuju saja. Maksud pernyataan tersebut kan tidak lebih untuk menggambarkan betapa menyenangkannya tidur.
Namun, entah... Saya, yang sebenarnya juga suka tidur, justru suka berpikir sebaliknya. Seandainya saja manusia nggak butuh tidur. Rasanya, 24 jam tidak cukup melakukan semua hal, dari yang memang harus dilakukan hingga kegiatan lainnya yang hanya membawa kesenangan pribadi semata.
Tapi, kalau dipikir lebih lanjut sih... Seandainya diberikan lebih dari 24 jam sehari pun rasanya tetap aja nggak cukup (manusia kan kecenderungannya begitu).
Jadi intinya, 24 jam itu harus kita gunakan untuk hal-hal berguna, hal-hal yang memang penting, hal-hal yang memang memberi dampak pada sesuatu, dan hal-hal yang memang harus dilakukan.
Jangan buang waktu dengan sesuatu yang tak berarti. Maksudnya, bukan berarti nggak boleh main-main. Tapi, lebih tepatnya lakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Singkatnya, kalau kita serius disaat kita sedang bermain, itu namanya buang-buang waktu. begitupun juga halnya bermain di saat harus serius.
dan, saya pun harus tidur sekarang. Karena kegiatan ini penting, harus dilakukan, memberikan dampak pada tubuh, dan terakhir, ini memang saatnya untuk tidur.
Nights :)
kenapa pula kita harus memiskinkan diri?
Heran, kita yang sebenarnya kaya kenapa justru memiskinkan diri?
Tulisan bernada miring ini memang dilandasi emosi, bukan pada seseorang atau sebagian, namun terus terang ini adalah luapan emosi terhadap fenomena yang terjadi.
Manusia, ya mahluk ini namanya manusia. Yang kecenderungannya adalah menilai-nilai lalu menuduh-nuduh orang maupun kelompok lain. Mulai dari penilaian masuk akal hingga penilaian yang rasanya tidak lagi tak dapat diraba oleh nurani.
kamu pikir, darimana mulanya pertikaian? Darimana mulanya kelompok-kelompok yang saling bersaing? Darimana mulanya permusuhan? Darimana?
Tidakkah, kita ini sebenarnya kaya? Dengan segala keberagaman yang ada, dengan segala isi kepala yang berseberangan, dengan segala macam perbedaan? bukankah itu semua justru memperkaya kita?
Lalu, kenapa pula kita harus membelah-belah diri, menjadi bagian-bagian yang saling bersinggungan? Kenapa pula kita yang mulanya kaya justru harus menjadi kecil dan miskin?
sesungguhnya kita ini tercipta untuk sesuatu yang besar. Dan sebenarnya, kita ini kaya
Tulisan bernada miring ini memang dilandasi emosi, bukan pada seseorang atau sebagian, namun terus terang ini adalah luapan emosi terhadap fenomena yang terjadi.
Manusia, ya mahluk ini namanya manusia. Yang kecenderungannya adalah menilai-nilai lalu menuduh-nuduh orang maupun kelompok lain. Mulai dari penilaian masuk akal hingga penilaian yang rasanya tidak lagi tak dapat diraba oleh nurani.
kamu pikir, darimana mulanya pertikaian? Darimana mulanya kelompok-kelompok yang saling bersaing? Darimana mulanya permusuhan? Darimana?
Tidakkah, kita ini sebenarnya kaya? Dengan segala keberagaman yang ada, dengan segala isi kepala yang berseberangan, dengan segala macam perbedaan? bukankah itu semua justru memperkaya kita?
Lalu, kenapa pula kita harus membelah-belah diri, menjadi bagian-bagian yang saling bersinggungan? Kenapa pula kita yang mulanya kaya justru harus menjadi kecil dan miskin?
sesungguhnya kita ini tercipta untuk sesuatu yang besar. Dan sebenarnya, kita ini kaya
Malam ini pun hadir dengan sombongnya.
Menunjukkan kuasanya, yang katanya membuatku tak bisa berkelit.
Kata siapa aku tak bisa apa-apa?
Lihat saja nanti, kalau pagi datang.
Kenapa kamu memandangiku seolah tak percaya?
Tunggu saja. sebentar lagi aku akan beritahu kalau aku bisa lakukan apapun juga.
Aku akan menguasai pagi,
Dan kamu akan disingkirkan.
Karena kamu hitam dan aku biru.
Menunjukkan kuasanya, yang katanya membuatku tak bisa berkelit.
Kata siapa aku tak bisa apa-apa?
Lihat saja nanti, kalau pagi datang.
Kenapa kamu memandangiku seolah tak percaya?
Tunggu saja. sebentar lagi aku akan beritahu kalau aku bisa lakukan apapun juga.
Aku akan menguasai pagi,
Dan kamu akan disingkirkan.
Karena kamu hitam dan aku biru.
60 menit terakhir
Bagaimana kalau waktu anda habis? Dan anda tidak mempunyai koin untuk memperpanjang masa permainan ini.
Apa yang anda pikirkan jika tiba-tiba saja, anda diberitahu...''hey, kamu! Waktu kamu 'bermain-main' di dunia ini hanya tinggal 60 menit, alias 1 jam saja'' bagaimana? apa yang kira-kira terlintas dalam pikiran anda?
Anda hanya punya waktu 60 menit! 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang mengikuti ibadah, yang terasa sangat lambat ketika anda mendengar seorang dosen berceramah, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menunggu teman yang terlambat, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang terjebak mengikuti persekutuan doa, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menanti kehadiran kekasih anda, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda harus mendengarkan teman yang sedang berkeluh kesah.
Apa yang kira-kira akan anda lakukan di 60 menit yang sama, namun yang terakhir hidup anda?60 menit yang terakhir sekaligus yang tercepat barangkali.
Anda mungkin kesulitan membayangkan mengenai 60 menit anda. Mungkin sebagian besar dari anda, hidup dalam keadaan 'mapan', dalam arti tidak atau jarang menemui kisah dimana keluarga dekat anda tiba-tiba saja dipaksa mau tidak mau menemui ajal mereka. Mungkin anda terbiasa melihat ayah,ibu anda yang hidup baik-baik saja hingga puluhan tahun. Mungkin pula, anda begitu percaya diri akan umur anda sendiri karena kakek nenek anda masih hidup hingga sekarang.
Bagaimanapun baiknya keadaan merka dan anda sekarang, suatu saat 60 menit terakhir akan datang.
Ini memang kenyataannya... Kapanpun, koin anda bisa saja habis. kapanpun, 60 menit tercepat dalam hidup anda mungkin akan tiba.
Apa yang akan anda lakukan?
Meminta maaf ke orang tua? Mengatakan cinta kepada orang-orang yang anda kasihi? berkeliling dunia? Meminta maaf kepada orang-orang yang anda sakiti? Menemui kawan-kawan lama anda? Menyatakan perasaan anda pada seseorang yang sebenarnya anda sayangi?
ataukah anda mencari Tuhan? memohon ampun atas semua dosa-dosa anda? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir, anda baru mulai belajar berdoa? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir anda baru mencari tau apa yang diinginkan Allah dalam hidup anda?
Rasanya, dalam 60 menit sangat mustahil anda melakukan semua itu. bagaimana jika semuanya tiba-tiba? Anda hanya punya waktu 1 menit? Atau mungkin hanya 3 detik?
Pikirkanlah mengenai jika satu saat koin anda habis. Uang hasil kerja keras anda, kekayaan orangtua anda, kepintaran anda, reputasi anda, jabatan anda, kehebatan anda dalam berkata-kata, ilmu-ilmu yang telah anda pelajari, kebaikan anda dalam menolong teman, ketulusan anda memberi sedekah, orang yang anda kasihi, bahkan kebaikan anda sendiri tidak akan mampu menolong anda.menyesal? Mungkin sudah terlambat.
Maka... saat ini selagi Tuhan masih memberi kesempatan, persiapkanlah diri anda untuk menghadapi saat itu. Temukanlah apa yang Tuhan inginkan dari (hidup)anda, apa yang sekiranya akan membuatNya menerima anda jika saat itu tiba.
Apa yang anda pikirkan jika tiba-tiba saja, anda diberitahu...''hey, kamu! Waktu kamu 'bermain-main' di dunia ini hanya tinggal 60 menit, alias 1 jam saja'' bagaimana? apa yang kira-kira terlintas dalam pikiran anda?
Anda hanya punya waktu 60 menit! 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang mengikuti ibadah, yang terasa sangat lambat ketika anda mendengar seorang dosen berceramah, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menunggu teman yang terlambat, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda sedang terjebak mengikuti persekutuan doa, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda menanti kehadiran kekasih anda, 60 menit yang terasa sangat lambat ketika anda harus mendengarkan teman yang sedang berkeluh kesah.
Apa yang kira-kira akan anda lakukan di 60 menit yang sama, namun yang terakhir hidup anda?60 menit yang terakhir sekaligus yang tercepat barangkali.
Anda mungkin kesulitan membayangkan mengenai 60 menit anda. Mungkin sebagian besar dari anda, hidup dalam keadaan 'mapan', dalam arti tidak atau jarang menemui kisah dimana keluarga dekat anda tiba-tiba saja dipaksa mau tidak mau menemui ajal mereka. Mungkin anda terbiasa melihat ayah,ibu anda yang hidup baik-baik saja hingga puluhan tahun. Mungkin pula, anda begitu percaya diri akan umur anda sendiri karena kakek nenek anda masih hidup hingga sekarang.
Bagaimanapun baiknya keadaan merka dan anda sekarang, suatu saat 60 menit terakhir akan datang.
Ini memang kenyataannya... Kapanpun, koin anda bisa saja habis. kapanpun, 60 menit tercepat dalam hidup anda mungkin akan tiba.
Apa yang akan anda lakukan?
Meminta maaf ke orang tua? Mengatakan cinta kepada orang-orang yang anda kasihi? berkeliling dunia? Meminta maaf kepada orang-orang yang anda sakiti? Menemui kawan-kawan lama anda? Menyatakan perasaan anda pada seseorang yang sebenarnya anda sayangi?
ataukah anda mencari Tuhan? memohon ampun atas semua dosa-dosa anda? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir, anda baru mulai belajar berdoa? Mungkinkah dalam 60 menit terakhir anda baru mencari tau apa yang diinginkan Allah dalam hidup anda?
Rasanya, dalam 60 menit sangat mustahil anda melakukan semua itu. bagaimana jika semuanya tiba-tiba? Anda hanya punya waktu 1 menit? Atau mungkin hanya 3 detik?
Pikirkanlah mengenai jika satu saat koin anda habis. Uang hasil kerja keras anda, kekayaan orangtua anda, kepintaran anda, reputasi anda, jabatan anda, kehebatan anda dalam berkata-kata, ilmu-ilmu yang telah anda pelajari, kebaikan anda dalam menolong teman, ketulusan anda memberi sedekah, orang yang anda kasihi, bahkan kebaikan anda sendiri tidak akan mampu menolong anda.menyesal? Mungkin sudah terlambat.
Maka... saat ini selagi Tuhan masih memberi kesempatan, persiapkanlah diri anda untuk menghadapi saat itu. Temukanlah apa yang Tuhan inginkan dari (hidup)anda, apa yang sekiranya akan membuatNya menerima anda jika saat itu tiba.
Langganan:
Postingan (Atom)