Pohon mangga part 1
Beberapa bulan yang lalu ada seorang tetangga yang meminta ijin ke papa saya untuk numpang nanem pohon mangga di jalanan persis depan rumah. Kenapa musti depan rumah saya? ya karena depan rumahnya dia itu rumah orang, jadi ga mungkin kan nanem pohon di dalem rumah orang? Nah, jadi intinya dia ga ada lahan.
Nah, singkat cerita itu buah udah ditanem di tempat yang direncanakan sama si om-om itu dan juga udah disetujui papa saya. Btw, ga singkat juga sih... karena ya prosesnya lumayan panjang, dia bawa pohon mangga yang uda setenga gede gitu beserta seorang tukang. Gatau deh itu tukang mangga apa tukang pohon mangganya atau siapanya kali. Pokonya dia itu yang akhirnya nanemin pohon mangga itu sampe akhirnya sekarang tuh pohon ngejogrok di sana- di sebelahnya pohon belimbing yang masih remaja, tanaman lidah buaya dan tanaman daun sirih.
Berminggu-minggu itu pohon ada disana, papa saya mulai gatel sama itu taneman. Sedikit informasi: papa saya memang tanaman holic banget deh. Kalo ngomongin soal pertanaman dan perkebunan sama dia, pasti ga akan berenti-berenti sebelom kita yang mengakhiri pembicaraannya. Itu baru ngomongin doang, nah kalo tanamannya di depan mata? Wah, bisa-bisa tiap hari dibahas, dipandangin, diliatin, dan diurusin. Walaupun bukan punya dia! Percaya ga? Saking cintanya tuh dia sama tanaman.
Ngomong-ngomong, kok jadi ceritain papa saya ya? Tadi saya lagi ngomongin tentang tangan papa saya yang ‘gatel’ liat itu tanaman kan? Tau ga? Dia melakukan ‘sesuatu’ yang akhirnya membuat tanaman itu berubah! Ya, dalam sekejap ada yang aneh sama itu pohon. Agak lebay sih saya. Hehe. intinya, Tau ga? Tiba-tiba dalam waktu yang singkat di bagian pucuk tanaman itu ada daun-daun yang warnanya kuning. Nah, saking bodohnya saya saat itu saya bilang gini ke papa saya: ”Pah, pohonnya mati ya itu kering daun atasnya pada kuning-kuning, jadi beda gitu warnanya”. Trus papa saya bilang ”enak aja mati. Itu baru numbuh tauk. Daun baru numbuh kan warnanya kuning”- ini adalah sebuah tanda nyata kalau saya memang bener-bener bodoh. Masa udah dua puluh tahun hidup di negara tropis yang penuh tanaman baru tau sih kalo daun yang muda itu warnanya kuning? –pembelaan ah sedikit: mungkin saya lupa, bukannya gatau. Hehe
Mau tau ga apa yang dilakukan papa saya sampe itu pohon begitu? begitu maksudnya tuh bertambah lebat, bertumbuh lebih cepat dari yang semestinya. Ternyata, papa saya itu khusus ngambil pupuk yang biasa diapake kebun di Sukabumi. Khusus buat itu pohon. Lumayan kebayang ga sih seberapa pentingnya itu pohon buat papa saya sampe-sampe dia mentingin segitunya, ngambil pupuk dari kebun nun jauh disana hanya untuk satu pohon ini aja.
Pas ngobrol-ngobrol sama papa saya, saya akhirnya baru tau ternyata dia cuma geregetan ngeliat itu taneman ga numbuh-numbuh. Katanya” papa geregetan sih, masa uda setengah bulan ga ada tanda-tanda pertumbuhan sih? Ga bergerak-bergerak, begitu aja itu taneman. Segitu-gitu aja”. Eh pas uda dikasih pupuk osindo, langsung deh tuh tancep gas itu taneman, jadi makin lebat, jadi tumbuh daun-daun baru, batangnya bertambah panjang, dan yang terpenting “sekarang jadi lebih enak dilihat. Kan asik tuh rame gitu daunnya.”- jadi tambah demen negliatinnya.
Saya agak cekikikan dalam hati mendengar cerita papa saya itu. Kesimpulan saya adalah, ya dia penasaran liat itu taneman ga numbuh-numbuh makanya dipakein pupuk khusus buat numbuhin secara cepat.
Guys, tau ga? Hidup kita itu sebenarnya bisa diibaratkan seperti pohon mangga itu. Ditempatkan di tempat dimana aja suka-suka yang mau nanem, padahal belom tentu itu pohon seneng ditanem di depan rumah saya. tapi, mau gamau dia harus mau ditanem disitu. Tapi, setelah ditanem dia kan ga dibiarinin gitu aja, dia diurus, diperhatiin, bahkan sampe dikasih pupuk khusus yang dibawa dari jauh. Supaya apa? Supaya tanaman itu bisa tetep idup, dan terus bertumbuh.
Guys. Hidup kita itu bener-bener mirip banget kaya pohon. Tuhan Yesus menempatkan kita dimana aja sesuai kehendak Dia, dan pastinya udah Dia pikir-pikir dulu dan di sesuain sama rencanaNya.
Mzm 139:13,16 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.
Setelah kita di tanem, kita ga ditinggalin gitu aja, kita terus-terusan diliatin, diperhatiin, diurusin, dan dikasih makanan rohani supaya kita bertumbuh. Makanan rohani? Apa itu? Firman Tuhan, yang bisa kita dapetin lewat roti hidup a.k.a alkitab.
Alat pertama yang sigunakan Tuhan untuk membentuk kita adalah Alkitab
Matius 4:4 (bis) Yesus menjawab, "Di dalam Alkitab tertulis: Manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi juga dari setiap perkataan yang diucapkan oleh Allah. II Timotius 3:15, 16 (tb) Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran
"Siapa yang rajin makan, pasti akan cepet bertumbuh.
Dan yang perlu diingat: pertumbuhan itu asalnya Cuma dari Allah saja. Kita ga akan bertumbuh, kalo bukan Allah yang memberi pertumbuhan. 1 korintus 3:6b tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Yeremia 11:17 TUHAN semesta alam, yang telah membuat engkau tumbuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar