don't judge a book by it's cover

Heloo readers ! :)

Mungkin postingan ini adalah postingan pertama dan terakhir di hari ini. Sekarang adalah malam menjelang subuh, dimana para manusia sudah tidur dikamarnya, para beruang sudah meninabobokan anaknya, para semut sudah masuk ke kandangnya, dan matahari sedang bermimpi barangkali :)

Well, gue mau berbagi sedikit. hmm, kalian pasti pernah denger  kalimat ''don't judge a book by it's cover'' kan? yup. betul, kalimat tag line itu seringkali diucapkan dan   ini mungkin merupakan salah satu kalimat yang lumayan menohok hati gue,  mungkin juga kalian?

heeeeeem. yup, kita memang hidup di negara yang antah berantah, yang memang terbiasa membuat praduga, yang budayanya sering menilai-nilai sesuatu dari luar. yang parahnya seringkali menilai seseorang dari tampilan fisik.


Ditengah remang-remang sinar rembulan, malam ini gue mau menorehkan tinta hitam dalam lembar maya ini, mengukirkan sebuah kalimat yang menusuk kalbu. well, guys "jangan pernah menilai orang dari luarnya". just want to share, betapa seringnya manusia hina yang bernama ayu ini menilai-nilai orang dari luarnya. oh, no..guys... kalian tau? ini sebuah kesalahan besar, heeeem  ini sebuah kebodohan. ada orang yang tinggi besar, kulitnya hitam legam, sorot matanya tajam, kelihatannya orang itu sangar, menyeramkan . tapi nyatanya tidak, orangnya baik hati, lucu dan menawan. lain lagi, ada orang berkulit putih bertampang sinis, orang itu kelihatannya judes, tapi ternyata.. salah lagi. dia adalah orang yang berhati tulus, murah hati, dan suka menolong. atau... gue nggak mau bertemen sama si itu atau si anu abis tampangnya begini, tampangnya begitu. bla bla bla... dan intinya, anak punk sekalipun pasti bisa meneteskan airmata loh. so? tindikan,tindikan di wajah, tatoo, dan sebagainya nggak menjadi ukuran kan?

gue pernah baca di chicken soup kalo nggak salah (jaman bahala)begini ceritanya lebihkurang, jadi suatu hari ada seorang laki-laki paruhbaya ada di dalam suatu gerbong kereta api. semua orang dalam gerbong kereta api tersebut tidak ada yang mau menghampirinya, bahkan mereka cenderung menghindarinya. sebabnya, pria itu berjalan dengan langkah yang gontai, pakaiannya lusuh, mirip seorang pengemis yang mabuk. betapa menyedihkan keadaannya, ia begitu dijauhi orang.

hingga tiba ada seorang anak mau memberanikan diri berbincang-bincang dengannya. dan akhirnya mengetahui bahwa orang tersebut bukanlah pengemis atau pemabuk, tapi ia adalah orang yang membangun rel kereta api yang sedang dilalui gerbong kereta tersebut. dan ternyata langkahnya gontai karena ia terkena serangan jantung saat itu. tidak ada yang menolong karena mereka mengiranya ia adalah pengemis yang mabuk, padahal ia adalah arsitek yang membangun rel kereta yang sedang dilalui orang-orang tersebut. ironis

*tarik napas panjang* mungkin secara langsung atau nggak langsung, sengaja atau nggak sengaja kita sering ada di posisi orang-orang yang menjauhi pria paruh baya tersebut. yang membuat praduga dengan begitu hebatnya, yang menilai-nilai dengan begitu nyamannya. oke, kita semua tau itu adalah suatu hal yang buruk, yang akan merugikan kita, orang lain, dan segala isi alam semesta. oke guys, semoga postingan malam ini bisa memberi inspirasi buat kalian semua, yuk mari deh halo semua pemuda pemudi Indonesia, ubah cara pikir, ubah kebiasaan menjadi lebih baik lagi. Jangan pernah menilai orang dari luarnya ! Goodnite readers:)


regards,joey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar