masalah ibarat kamar berantakan

aku punya kisah,

misalkan saja...entah sejak kapan dan bagaimana mulanya tiba-tiba kamu menyadari kamarmu, tempat kamu biasa melakukan segala sesuatu, tempat kamu beristirahat sekaligus tempat favoritmu kini menjadi sangat berantakan. Barang-barang bertebaran, buku tergeletak dimana-mana, meja dan kursi tidak pada tempatnya, pakaian tercecer dimana-mana, dan kekacauan lainya lagi. Sejak kamu menyadari hal itu, saat itu pula perasaanmu tidak karuan. Pusing, sebal, malas, bingung. Dan kamupun bingung apa yang harus kamu lakukan. namun,tetap saja kamu punya banyak pilihan untuk dipilih.

Kamu ingin membereskan semuanya, tapi kamu merasa sangat lelah. Lagipula, kamu juga kebingungan harus mulai dari mana. Karena semuanya begitu berantakan.

Kamu punya pilihan untuk diam saja, memandangi segala kekacauan di kamarmu, sembari terus menerus merasa kesal karena semuanya tidak rapih. Tanpa kamu sadar, semua aktivitasmu menjadi terganggu karena barang-barang yang berantakan itu

Kamu juga punya pilihan untuk marah pada keadaan dengan bersikap cuek. Bukannya membereskan, malah menambah kekacauan. Kalau memilih pilihan ini, dapat dipastikan, keadaan kamarmu semakin tidak karuan dan kacau.

Kamu juga punya pilihan untuk merasa tertekan, menangis atas kondisi kamarmu yang kacau. Tapi, kita semua tau ...menangis tidak pernah membantu menyelesaikan masalah. Airmatamu hanya akan terbuang percuma

kamu juga punya pilihan untuk kabur, pindah ke kamar yang lain.tapi, langkah ini sepertinya terdengar memalukan, lagipula hal ini tidak akan menjamin kamu mendapat ketenangan di kemudian hari.

Dan pilihan yang terakhir

Mungkin kamu bisa membereskan semuanya, walau mungkin lelah, walau mungkin kamu tidak tau harus mulai darimana, walau sepertinya sulit. Namun, seberapa kecilpun usahamu, akan memberikan efek yang baik dibanding kamu hanya diam, menangis, marah, atau bahkan kabur.

Apakah kamarmu akan rapih kembali?itu pilihanmu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar