Maura abigail

(Judul: maura abigail)


I'm falling in love .

Kata orang cinta itu buta, ia bisa datang kapan saja tanpa ada seorang pun yang tau. Dan, ketika ia datang...tak akan ada satupun yang mampu menolaknya.

Inilah kali pertama aku jatuh cinta setelah sekian lama hatiku hampa. Bukan pada seorang pria yang sering disangka-sangka orang, melainkan pada satu benda mati yang sesungguhnya tak pernah bernyawa- Kamera.

Aku jatuh cinta padanya sejak benda eksotis itu, melalui bidikan yang pertama di senja hari membawaku merasakan jutaan rasa, ribuan warna, ratusan kata, puluhan makna, dalam satu frame.

Fotografi bukanlah hal yang asing di kalangan anak muda, termasuk teman-temanku. Seolah-olah latah, mereka beramai-ramai mengalungkan kamera di leher mereka. Mengaku menyukainya, namun tak menjiwainya. Ini yang mereka sebut dengan trend .Tapi, jangan samakan aku dengan yang lain. Aku tak biasa mengalir dalam arus, aku tak biasa menjadi 'latah' dengan yang lain. Atau secara tegas aku mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang dengan gampangnya suka dengan sesuatu.

Aku mencintai fotografi, bukan karena dia dan mereka. Tapi karena memang aku sendiri yang telah dengan sadar memilih jatuh cinta padanya.

Kamera yang merupakan benda mati itu secara ironis mampu membuatku hidup kembali.

''Ia membawaku mampu menyentuh awan, menggenggam angin, mengabadikan matahari, dan barangkali mempermainkan hujan''

Secara materi, kamera itu mungkin masih bisa dinilai dengan uang. Namun secara rasa, kecintaanku pada fotografi mungkin sudah sangat tak ternilai lagi.

***

Begitulah Maura bersaksi mengenai kecintaannya pada kamera dan fotografi. Sumpah mati ia tak akan pernah menduakan kameranya itu dengan yang lain. Rasanya, tak ada kata-kata yang lebih tepat untuk memaknai kecintaannya pada benda mati yang beberapa bulan belakangan ini membuatnya hidup kembali.

Setiap kali berjumpa dengannya, kamera kesayangan yang dinamainya keane pasti ada dalam genggamannya. Benda itu punya nama? Sudah gila barangkali-Tidak juga sebenarnya, nama itu hanya mengisyaratkan sebuah kepemilikan dan nyawa dalam benda serupa yang sesungguhnya mungkin saja dimiliki oleh banyak orang.

***


Pembelajaran yang tak mudah

Maura adalah gadis yang normal, dengan atau tanpa kamera bersamanya, ia tetaplah seorang gadis sempurna yang sayangnya seringkali tidak menyadari kesempurnaannya.

Sebelumnya, Maura nyaris saja putus sekolah...

Sejak kepergian ibu kandungnya dua tahun yang lalu karena kanker, maura menjadi gadis pendiam. Hari-harinya hampa, tak berminat pada apapun, tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Ia tak percaya lagi yang namanya cinta dan berjanji tak akan pernah jatuh cinta pada siapapun juga.

Sebelum kejadian itu...

Tuhan dan Ibunya adalah dua sosok yang paling dicintainya. Tapi, nyatanya kedua sosok tersebut dengan tega mengiris-ngiris hatinya dengan kepergian sang ibu.

Tuhan dan ibunya seolah berpura-pura tak mengerti bahwa Maura sangat mencintai sang ibu dan ia masih sangat membutuhkan kasih sayang sang ibu.

***

Dunia ini sangat miskin!kalau bukan hitam berarti putih. kalau bukan kebahagiaan, berarti kesedihan. Kalau bukan kebaikan, berarti kejahatan. Kalau bukan kebanggaan, berarti kekecewaan. Menurut maura, dunia ini begitu miskin. Selalu saja hanya ada dua sisi, dulu hari-harinya diisi dengan kebahagiaan, sedangkan kini diisi dengan kesedihan yang tak kunjung padam.

Selain tingkah lakunya yang berubah drastis, penampilannya juga mengisyaratkan ada yang tak beres dengan dunianya. Tubuhnya begitu kurus, hanya bagaikan tulang berbalut kulit. Padahal, dulu maura adalah gadis manis yang ceria dan selalu menyenangkan banyak orang. dulu, ia berminat dalam banyak hal; balet, piano, voli, lukis, dan kini semua minatnya itu telah pergi mengikuti kepergian ibunya.

Pembelajaran hidup pasti akan dilalui oleh semua orang. Tapi, yang dilalui oleh maura ini tidaklah mudah. Gadis semuda itu dipaksa menelan kenyataan pahit yang tak pernah terbersit sedikitpun dipikirannya. bahkan, muncul di mimpi buruknya pun enggan.

Orang-orang yang dari luar nampak peduli mencoba dengan berbagai cara mengembalikan kepercayaan maura pada kehidupan. tapi, nyatanya justru maura malah semakin memburuk. karena ia menemukan orang-orang itu hanya berpura-pura peduli dengan topeng-topeng yang mereka gunakan.dan sesungguhnya semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri.

***


Maura dan Keane

Keberadaan kamera bagaikan muzizat bagi ayah maura. Putri tunggalnya yang telah lama mati, kini seolah hidup. Dengan minat barunya, dengan cinta dalam hatinya, dan dunia barunya yang perlahan tumbuh.

Hari-hari maura dipenuhi dengan kegiatan sekolah dan fotografi. Seolah tak ingin membuang banyak waktu, ia segera bergabung dalam satu komunitas fotografi terkenal di ibukota. Di sana ia belajar dari mereka yang telah profesional, menekuni teknik membidik seolah tak ada bosannya. Dan menjepret gambar seolah tak ada lelahnya.

Bulan demi bulan berlalu.

Maura memutuskan untuk mengikuti lomba fotografi bergengsi. Bukan piala atau materi yang dipertaruhkan. Melainkan aktualisasi antara dirinya dan keane, kamera yang sudah lama ada dalam genggamannya.

Ini namanya adalah ajang pembuktian.

Ketika hasil fotonya mendapat penghargaan, maka saat itu pula ia yakin bahwa selama ini ia tidak hanya sedang berkhayal bersama keane. Melainkan nyata bahwa ia memang sudah melebur bersama keane dalam wujud karya seni yang sempurna.

Ajang bergengsi ini bukanlah satu ajang serampangan. Penilaian yang dilakukan didasarkan pada standar yang tinggi dan dilakukan oleh para profesional. Dan akhir keputusan lomba tersebut menempatkan maura sebagai salah satu fotografer favorit.

Betapa darah seni mengalir kuat dalam dirinya, hanya dalam waktu yang singkat maura menyandang gelar Fotografer muda berbakat.

Plakat yang didapatkannya adalah bukti sah yang menyatakan bahwa ia memang sudah menghidupi dunia yang telah menghidupinya-Fotografi.


Satu bidikan saja.


Dulu, kupikir dunia yang kuhidupi itu miskin. Tak ada rasa dan karsa yang abadi.tapi sekarang aku menemukan duniaku yang penuh jutaan warna. yang dulu maupun yang sekarang sebenarnya sama saja. Hanya, yang berbeda adalah cara yang kutemukan untuk membidik mahakarya alam, kemudian mengabadikannya sebagai bukti keindahan''

Penghargaan dan pembuktian membuat kita benar-benar hidup. ''kalau kamu menghargai sesuatu, nyatakanlah itu'' seperti penghargaan yang telah kuterima, yang kini membangkitkan lagi semangatku yang telah lama layu.

Dan dalam segalanya, yang terutama adalah bagaimana aku menemukan caraku sendiri untuk menghidupi apa yang telah mampu menghidupiku. melihat dengan kedua mata apa yang mungkin terlewat untuk kulihat, memperhatikannya dengan seksama kemudian tersenyum untuk segala keindahan itu.

dalam satu bidikan saja,

aku bisa menemukan keabadian langit sore, indahnya matahari terbenam, burung kenari yang hinggap di batang pohon tua yang ringkih.

nenek-nenek tua yang sedang mengunyah sirih akan abadi dan hidup selamanya,senyum polos kakek tua tak bergigi dapat terus kunikmati walaupun raganya mungkin sudah tak dapat kutemui-karena ajal telah menjemputnya.



Dunia yang baru untuk disinggahi.


'' kita tak perlu menemukan kembali dunia yang telah hilang, yang kita perlu adalah menemukan dunia yang baru untuk disinggahi''

Maura telah menemukan dunia barunya. Semakin hari kian semakin akrab menjalani tiap jejak langkah kakinya bersama keane- Sang kamera. Kebersamaan antara Maura dengan keane tak dapat tergantikan. Menurut Maura, tak ada yang lebih baik selain menghargai hak yang kita miliki untuk mengabadikan sesuatu-melalui jepretan kamera.

''aku selalu menggenggam kamera ditanganku karena menurutku setiap moment berharga. Setiap detik punya nilai dan maknanya tersendiri, dan kamu akan dapat menikmatinya dalam karya seni berupa fotografi''

***

Saat ini Maura duduk di bangku kelas 3 SMA. Sebentar lagi ia akan menjalani ujian akhir, kemudian masuk di dalam dunia yang sesungguhnya. Welcome to paradise ! Saat anak-anak lain bingung memikirkan akan berkuliah dimana dan mengambil jurusan apa, maura sudah sangat yakin dengan satu pilihannya. Kuliah fotografi di Unites states-ini adalah dunia yang diimpikannya.

Dalam hal ini, maura termasuk yang sangat beruntung. Hatinya sudah sangat mantap untuk setia pada satu pilihan. segala aspek mendukung pilihannya tersebut. Orangtua, biaya, kemampuan, kesukaan, dan ketertarikan. Sedangkan, teman-temannya yang lain mungkin sedang mati-matian bergumul (berpikir) tentang jurusan yang nantinya akan mereka ambil. Setengah mati barangkali mereka menentukan jurusan apa yang tepat, menimbang-nimbang kelebihan yang disana, atau kekurangan yang disini. Atau, tak jarang pula yang masih tak tau 'arah' kemana kakinya akan melangkah.

***

Tante Ryanti.

'' Ra.. Kamu mau kuliah dimana nanti?''

'' Maura mau kuliah di Us tante...''

'' Oh ya? Bagus dong sayang..kamu mau ambil jurusan apa?''

'' fotografi tante...''

''hmm, loh? Masa fotografi sih? Kamu mau jadi apa nanti kalo ambil jurusan begituan?mau jadi tukang foto keliling'' tanya tante Ryanti sembari bercanda sinis.

'' Ya.. Maura mau jadi diri Maura sendirilah tante '' jawabnya kesal dalam hati.

Lalu... Tante Ryanti melanjutkan ucapannya yang membuat telinga Maura menjadi panas ''  mending kamu ambil kedokteran, design atau finance ra kaya kakak-kakaknya Albert. Keluarga oma kamu tuh keluarga terhormat, anak-anaknya sekolah di luar negeri semua, semuanya jadi orang berhasil. Jadi kamu jangan sampe malu-maluin keluarga besar deh ra''

'' Stop tante! Stop! Tau apa sih tante soal fotografi?'' teriaknya dalam hati.

Tante Ryanti adalah kakak tertua ibunya Maura. Ya, gelagatnya memang selalu begitu. Selalu berlagak borju, materialistis, hedonistik, dan arogan. Dia tidak pernah segan-segan mengeluarkan isi kepalanya yang sebenarnya kosong, tak peduli bagaimana perasaan orang yang tersakiti.

Buat Maura, kelakuan tante Ryanti sudah tak asing lagi. Topeng keramahan dan kebaikan sang tante sudah terbongkar sejak sepeninggal ibunya. Kini, bagi Maura tante Ryanti bagaikan debu yang diinjak-injak orang kemudian hilang tersapu angin-tidak ada gunanya bagi kehidupan.

***


Negeri impian.

Ujian akhir akan dilangsungkan beberapa minggu lagi. Tak seperti murid yang lain yang mati-matian belajar, maura nampak santai menghadapinya. Ia masih sering terlihat berkeliaran dengan keane-kameranya, jepret sana jepret sini. Seolah tak pernah ada habisnya.

nampaknya apapun yang dilihatnya, yang datang dan yang pergi, yang hinggap dan yang berjatuhan, yang menempel atau yang terbang. Yang peduli ataupun tidak peduli. Yang bahagia ataupun yang sendu, yang Tertawa ataupun menangis, yang berwarna dan yang hitam putih, yang polos dan yang bercorak, yang bernyawa maupun tidak, yang diam ataupun bergerak, dan yang hidup maupun yang mati- atas kesemuanya itu, maura selalu saja tergoda, untuk sekedar mengambil satu jepretan ataupun beberapa.

Sementara itu, untuk mempersiapkan diri ke luar negeri maura belajar bahasa secara intensive hampir setiap hari. ia dengan gigih belajar mulai dari tempat les formal, hingga guru private pun dipanggil ke rumah.

Nampaknya memang sulit memadamkan semangat maura yang sudah lama bergelora, sulit membatalkan keinginannya yang sudah lama tumbuh, yang sudah terlanjur terukir dalam-dalam di lubuk hatinya.

Semua orang pasti bisa melihat; betapa maura sangat mendambakan menjadi seorang fotografer handal. Mati-matian ia berjuang untuk bisa berangkat ke Amerika-masuk ke academy art of university, di San Fransisco, California,the largest private school of art and design in the united states-akademi seni terbesar di Amerika.

***

Beberapa bulan telah berlalu, tak ada yang begitu istimewa di sekolah Maura. Hari-harinya diisi dengan kegiatan belajar, pendalaman materi, ulangan, try out, dan menghadapi teman-teman yang sibuk membicarakan akan berkuliah dimana, jurusan mana- tentu saja maura tidak tertarik dengan pembicaraan ini.

Menjelang, pada saat, dan sesudah ujian akhir bagi Maura biasa saja. Semuanya sudah dilewati- ia sudah mempersiapkan diri dengan baik, sudah melalui serangkaian ujian, dan kini ia sudah dinobatkan tamat SMA.

Ijazah sma kini sudah dalam genggamannya. Jalan menuju kebahagiaannya seolah semakin terbuka lebar. Hanya dalam hitungan beberapa bulan lagi, Maura akan berangkat ke United States.-kini ia tak mempedulikan apapun, termasuk ayahnya yang notabenenya adalah seorang pria tua yang sudah ditinggal mati istrinya-dan kini akan merasakan kenyataan pahit akan ditinggal anak semata wayangnya menuntut ilmu di negri orang.

***

Pembicaraan dengan papa dan Albert.

Lebih kurang dua minggu sebelum keberangkatannya, disaat semua hal sudah dipersiapkan dengan matang tiba-tiba Pak Jef, ayah Maura melibatkannya dalam pembicaraan serius.

''Maura, bagaimana persiapan kamu?''

''hmm, udah selesai sih pah, tinggal packing-packing aja. Kenapa  pah?''

''gapapa. Papa cuma mau nanya aja..''
'' ngomong-ngomong, kamu sudah yakin dengan pilihanmu berkuliah di Amerika?''

''ialah pah, maura yakin banget kok. Ini keinginan maura sejak lama, papa kan tau Maura suka banget sama fotografi''

''ia ,papa tau Maura.. Tapi, apa kamu yakin kamu akan belajar disana? Amerika kan negera yang jauh, kamu akan sendirian disana loh nak'' begitu ungkap pak Jef khawatir.

Jawab Maura '' tenang aja pah, Maura tau kok.. Maura juga udah ngebayangin kalo Maura nanti akan sendirian disana. Maura tetep yakin kok akan berangkat.''

''Sebenarnya papa agak khawatir nak''

''khawatir kenapa pah?''

maura kemudian melanjutkan kalimatnya dengan enteng,

'' hehe..papa kebiasaan ah, ga usah terlalu khawatirin Aku deh. Aku kan udah bukan anak kecil lagi pah sekarang. Aku janji, aku akan baik-baik aja disana''

Pembicaraan dengan papa saat itu lantas membuat Maura teringat akan perdebatannya dengan Albert sepupunya beberapa bulan yang lalu.

''Ra, lo yakin nanti bakal pergi ke Amrik?''

''Iya. Gue udah sangat amat yakin, ini tuh impian gue banget.haha ''

Albert seolah tak mengerti jalan pikiran Maura. Pergi ke Amerika untuk belajar fotografi? Okelah, disana memang tersedia universitas seni yang bonafide, Maura mungkin akan menjadi 'seseorang' ketika sekembalinya nanti ia ke tanah air. Semua hal rasanya mendukung kepergian Maura. namun Albert merasa ada yang ganjil.

''Ra, apa lo yakin bakal ninggalin bokap lo sendirian di Jakarta?''

''ha..ha..ha. Bokap gue ga bakal sendirian bert, ada mbok iyem, ada mang dadang, ada temen-temen papa, dan ada lo. Iya kan?''

Albert tak habis pikir dengan sepupunya itu. Respon maura membuat mulutnya terkunci rapat. Ia tak mengerti bagaimana caranya agar Maura sadar. Bahwa keegoisannya sudah menutup nalar dan kepekaannya.

''Tapi Ra,...bokap lo pasti pengen anak semata wayangnya ada sama-sama dia, tinggal sama dia''

'' Ah, nggak gitu juga lah Bert. Bokap gue biasa aja sih '' jawab Maura.

'' Masa sih? Mana mungkin bokap lo biasa aja? Om Jef pasti sedih, tapi saking baiknya, dia ga tega ngelarang lo pergi''

''Loh,loh..loh.. lo tau apa sih Bert tentang bokap gue?kayanya gue lebih ngerti deh soal bokap gue sendiri. Dia ijinin gue pergi kok, DIA GA KENAPA-KENAPA. kenapa malah lo yang repot sih?''

Nampaknya Maura mulai naik pitam. Cara Albert mungkin salah, namun ini hanyalah wujud perhatian tulusnya pada keluarga Maura. Albert yakin, apa yang dipikirkannya benar saat itu. ''Om Jef pasti akan kesepian tanpa maura''

''Ra, bukannya mau ikut campur, tapi lo tuh hanya satu-satunya keluarga yang dia punya Ra. Kalo ga ada lo, dia pasti kesepian''

Please Maura, sadar... please. Kasihan bokap lo. Ungkap batin Albert dalam hati seraya memohon keajaiban dalam hati Maura.

''Aih. Tau apa sih lo Bert?
dia ga akan kesepian tanpa gue. Puas?! Lagian, kalo orang lain boleh sekolah keluar negeri, kenapa gue ga boleh? Lo tuh ga adil deh Bert''

''Maaf ra, maaf kalo gue terlalu ikut campur, tapi keadaannya ini beda Ra....lo......''

STOP BERT !!

Gue ga mau denger lagi lo sok-sok an nyampurin kehidupan gue. terimakasih kalo lo punya niat tulus care sama gue dan bokap gue. Tapi ini hidup gue ! Ini pilihan gue! Tolong hargain gue. Dan, tolong jangan pernah berharap gue akan berubah pikiran. Karena itu ga mungkin terjadi!

***

Excited!

Besok,  adalah hari yang telah lama dinantikan Maura. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Pesta perpisahan sudah dibuat dan sudah dilalui, Bahasa Inggris pasif aktif sudah lancar dikuasai, keane dan peralatan lainnya sudah masuk ke dalam koper, packing sudah selesai dilakukan. Dan segala keperluan sudah selesai diurus.

Malam ini, akan menjadi malam terakhir Maura tidur di kamarnya sendiri. Yang selama lebihkurang 10 tahun telah ditempatinya, yang telah beberapa kali direnovasi, telah beberapa kali mengalami perubahan interior.. Dinding berwarna pink muda, ranjang empuk berukuran besar, bantal-guling-seprey satu set dengan warna merah jambu, dan selimut kesayangannya bercorak bunga Lavender ungu muda. Jam dinding Hello kitty warna merah muda yang kurang lebih 5 tahunan sudah berada disana. Rak buku yang tertata rapi dengan buku-buku yang kebanyakan berbau seni, design, dan fotografi. Serta, meja belajar yang lengkap dengan segala ornamen lucu berwarna pink. Pada malam terakhir sebelum kepergiannya itu, ia memandangi semuanya dengan seksama-ia tau suatu hari nanti semua itu akan sangat dirindukannya.

Rumah yang sekarang ditinggali memang tidak terlalu besar. Tapi rumah itu sangat nyaman bagi Maura. Rumah dengan interior bergaya minimalis modern itu sangat melekat erat dengan hidup Maura-apalagi sebelum hobi hunting foto, Maura termasuk anak rumahan yang senang sekali berada di rumah.

Paling tidak selama lebihkurang satu tahun ia tak akan menapakkan kakinya di rumah itu.

''ah, mungkin akan rindu sekali''

Kesedihan dan bayangan akan kerinduan mungkin beberapa kali mencoba menyurutkan semangat Maura. Tapi semuanya itu tak mampu mengubahnya. Ia terlalu excited dengan dunia fotografi dan gelar photography barchelors degree yang akan disandangnya kelak.

***

Gadis yang beruntung.

SAN FRANSISCO. i'm comingggg!

Setelah berjam-jam berada di pesawat, akhirnya tibalah ia di San Fransisco International Airport. Pertama kali menjejakkan kaki disana: Ia langsung beraksi dengan kamera kesayangannya-Keane.

Ratusan foto dihasilkan Maura hanya dalam beberapa jam saja. Begitu banyak yang indah, unik, dan pantas diabadikan. Bagi seorang fotografer, tempat, orang-orang, dan hal-hal yang baru adalah hal yang teramat menarik untuk dilewati.

***

Kebahagiaan Maura sekolah di negri orang rasanya sangat berpotensi membuat orang lain patah hati. Siapapun juga pasti ingin seperti Maura, menikmati hidup dalam dunianya sendiri.

Siapakah yang akan menolak jika ditawarkan memperoleh kesempatan belajar ke universitas bergengsi di luar negeri? Siapapun tak mungkin menolak-hanya sayangnya, terlalu sedikit yang berkesempatan memperoleh tawaran itu.

Dan, Maura adalah gadis yang beruntung itu.

***

Disisi lain di dunia yang sama, negara yang berbeda, sang ayah tak pernah hentinya berdoa untuk anak gadis semata wayangnya. Ia berdoa untuk memohonkan penyertaan yang MahaKuasa atas hidup anak satu-satunya, hartanya yang paling berharga di dunia.

Ayah manapun juga, yang mungkin dari luar terlihat tidak peduli, pasti sebenarnya sangat peduli dengan keadaan puteri mereka, hingga mungkin tak akan rela 1milimeter pun raga puterinya terluka- inilah juga yang dirasakan pak Jef, ayah Maura.

Jangan tanyakan perasaannya, semua orang bisa menebak: tentu saja pak Jef sungguh merindukan Maura

***


Mimpi itu tiba-tiba lenyap.

Proses adaptasi telah usai dan minggu pertama kuliah akan segera mulai dijalani. Maura nampak begitu menikmati semuanya. Ia juga sangat excited menjelang hari pertamanya belajar, dengan teman-teman baru, di kelas baru, di universitas yang selalu membayangi pikirannya siang-malam sejak beberapa bulan belakangan.

Namun ironis, yang sepertinya sudah ada dalam genggaman, bisa hilang hanya dalam hitungan detik. Kebahagiaan yang dikira akan abadi, tiba-tiba lenyap tanpa ada yang mau bertanggungjawab mengembalikannya.

Maura yang kemarin membuat orang lain iri karena kebahagiaannya,hanya dalam sekejap menjadi orang paling malang sedunia-sampai-sampai mungkin tak akan ada orang yang mau menjadi dia.

***

mati untuk yang kedua kalinya.

Bermimpi adalah hal yang wajar. Kata orang, mimpi adalah awal dari segalanya, mimpi juga yang menjadi penggerak hidup manusia. namun, kata orang juga- mimpi tak selalu menjadi kenyataan. Ini adalah pepatah biasa. Yang tak biasa adalah yang dihadapi maura, jika mimpi yang hampir jadi kenyataan tiba-tiba hancur-ini bisa membuat orang menjadi gila.

Maura, yang beberapa waktu lalu masih hidup dalam dunianya, begitu bahagia menjalani hari-hari untuk meraih mimpinya, tiba-tiba mati.

Raganya masih hidup, tapi jiwanya telah mati-untuk yang kedua kalinya. Kenangannya masih hidup, tapi impiannya telah mati. kehidupan terus hidup, tapi dunianya telah mati.semuanya telah mati.

Dalam perjalanan menuju universitas dimana ia akan belajar dihari pertamanya, Maura tiba-tiba tertabrak di jalan dengan begitu kerasnya, hingga tubuh kurusnya terpental jauh. Pelakunya tidak jelas dan telah kabur entah kemana.

Selama satu minggu maura tidak sadarkan diri, sebulan penuh ia dirawat di rumah sakit. Hingga akhirnya satu pernyataan dokter membuat jiwa maura mati untuk yang kesekian kalinya-kecelakaan hebat tersebut bukan hanya melumpuhkan kakinya sementara, tapi membuat maura mengalami kebutaan. Saat itu pula pak jef membawa maura terbang pulang kembali ke jakarta-tempat dimana seharusnya ia berada.

maura yang notabenenya adalah seorang fotografer, yang punya mimpi untuk menjadi fotografer profesional, yang selalu membidik gambar dari balik kamera, yang senang memandangi sekelilingnya lalu mengabadikannya, kini kehilangan penglihatannya. Dunianya hancur seketika-maura histeris.

Tuhan seolah mempermainkan maura. buat apa Tuhan memberikan kebahagiaan untuknya jika Ia tau suatu saat semua ini akan diambilnya, bahkan maura sempat mencicipi mimpinya. Untuk apa semua kesempatan ini?

***

Setengah mati maura ingin berhenti menangis, tapi ia tak kuasa. Tangis pilu terus mengalir dipipinya.

tak jarang ia menjadi histeris, setengah mati ngotot ingin mengetahui siapa orang gila  yang telah menabraknya. Sumpah, ia sungguh-sungguh menaruh dendam pada bule brengsek yang telah menabraknya.

Sebenarnya, tau atau tidak siapa pelaku penabrakan itu tak akan mengubah apapun. Semuanya telah terjadi. Ia telah buta.

***

Lebih parah dari yang dulu.

semenjak kejadian itu, maura kembali berubah drastis. Kali ini jauh lebih parah dari saat-saat dua tiga tahun yang lalu, saat maura harus menerima kenyataan ia ditinggal mati ibunya.

Kali ini, maura tidak mau beraktivitas, tidak mau keluar kamar, kerjanya hanya menangis, marah-marah, ia mogok makan.

Sangat memprihatinkan.

albert, adalah orangnya. Yang selalu setia menemani maura. Sepupu maura yang seumuran dengannya itu sangat sabar meladeni maura. Ia sama sekali tidak menyudutkan maura, tidak memarahinya. padahal, sebenarnya albert adalah termasuk salah satu orang yang menentang kepergian maura.

Membujuk maura untuk mau makan dan berbicara banyak bukanlah perkara mudah. Setengah mati pak Jef dan albert berusaha. Hingga akhirnya beberapa bulan kemudian, kondisi maura bisa dikatakan lumayan membaik, meskipun masih memprihatinkan. Setidaknya sudah ada kemajuan dari yang sebelum-sebelumnya.

***


Sherly.

Ting tong. seorang anak gadis berkacamata, bertubuh tinggi, langsing, dan rambut terurai panjang menekan bel rumah maura

''siang mbok inah, masi inget sherly ga?''

''oh non sherly ya, non temen smp nya non maura kan ya?''

''iya, bener mbok, mauranya ada mbok?''

''ada..ada non, tapi non maura keadaanya lagi nggak baik non''

''iya mbok saya tau kok, makanya saya dateng. Mau jenguk maura''

sherly adalah sahabat maura semasa smp. Keduanya sangat dekat. Sebenarnya mereka bersahabat ber empat. Sherly, maura, kartika, dan imelda. Tapi, kedua sahabat mereka yang lain pergi entah kemana.

bisa dibilang, sherly adalah orang yang sangat mengerti maura. dia adalah orang yang pernah menyaksikan maura begitu ceria, hidup bahagia dengan keluarganya yang sempurna, ia juga yang menyaksikan maura berubah drastis karena ditinggal pergi ibunya, dan ia juga yang menyaksikan maura menemukan dunianya yang baru, dan kabur dengan kamera kesayangannya ke luar negri. kini, sherly juga yang menyaksikan maura dalam keadaan cacat karena tragedi di negri orang.

Dulu, sebelum maura beranjak dengan cintanya yang baru pada kamera, hubungan mereka sangat dekat. Tapi, maura yang dengan sengaja meninggalkan sherly,melupakannya, menganggapnya tak ada sama sekali-maura terlalu sibuk dan asik dengan dunianya sendiri. Dan ia memilih membiarkan persahabatan diantara mereka terkubur begitu saja dalam angan-angan hampa.

Sahabat yang telah dicampakkan itu datang kembali dengan segenggam kenangan yang dulu pernah ada diantara mereka. Jauh-jauh ia datang dari bali untuk menunjukkan keeksistensiannya sebagai sahabat, pada maura... yang telah membuangnya, dan tak menganggapnya ada.

Sherly memang mungkin tak seberuntung maura dulu. Maura berkesempatan pergi ke Amerika untuk sekolah, sedangkan orangtua sherly hanya sanggup membiayainya sekolah akademi memasak di bali. sudah satu semester sherly kuliah di Bali, menimba ilmu setinggi mungkin untuk mengabdikan diri pada kehidupan. Saat ini, saat ia mendengar keadaan maura yang menyedihkan, yang baru saja dilanda musibah besar, ia memutuskan untuk terbang dari bandara ngurah rai bali menuju soekarno hatta jakarta.

''haloo, maura...''

sapa sherly lembut

''sherly??''

''iya maura, gue kesini, gue kangen sama lo ra'' ucap sherly sambil menggenggam tangan maura.

Spontan maura bertindak kasar, melepaskan genggaman tangan sherly dari padanya.

''nggak. Ngapain kesini? pasti lo cuma mau mengasihani gue''

''maura, gue kesini mau liat keadaan lo, dan gue kangen sama lo''

''gausah banyak omong deh sher. Gue tau, lu sama aja kaya yang laen. Lu tuh ga ngerti apa-apa, ga usah sok-sok an peduli sama gue''

''iya ra, gue emang ga ngerti apa apa. Tapi seenggaknya ada satu hal yang gue ngerti: lo adalah sahabat yang gue sayang ra, dan gue peduli sama lo...''

sherly menangis melihat keadaan maura seperti ini.

***


Tiga orang hebat.

Kini, tiga orang hebat ada dalam kehidupan maura. Pak jef, albert, dan sherly. Mereka adalah tiga orang yang teruji benar-benar tulus memperhatikan maura, sedangkan yang lainnya tersisih. Yang lainnya, yang katanya peduli dan perhatian terbukti hanya pura-pura belaka. Tapi, sayangnya maura belum menanggapi keberadaan ketiga orang tersebut dengan baik. Maura masih seringkali marah-marah, kasar, menanggapi semua dengan kebencian, dan prasangka buruk.

Mereka, tiga orang yang telah teruji itu benar-benar hebat, mampu bersabar menghadapi maura yang selalu berespon tidak baik. Mereka sungguh amat mengerti bahwa yang dialami maura sekarang tidaklah mudah.

Sudah mau bertahan hidup saja sudah luarbiasa baik, begitu menurut ayah maura.

sungguh bukan perkara mudah menghadapi orang yang telah bersumpah mati tidak akan menukarkan cintanya pada sesuatu dengan apapun juga, namun secara tragis ia harus kehilangan sesuatu itu-kamera dan fotografi.

kekayaan ayah maura memang berlimpah, dengan semua itu maura pasti sanggup membeli puluhan kamera lagi. Tapi apa daya, mata yang seharusnya digunakan untuk membidik gambar, mata yang sama yang seharusnya digunakan untuk menikmati hasil karyanya sendiri, sudah tak berfungsi lagi. Dan pahitnya, tak ada seorang pun yang bisa mengubah takdir ini bagi maura. Uangpun tidak berarti apa-apa dalam hal ini.

***

She is really my best.

Mana ada yang seperti sherly?

Ia merengek pada ibunya agar ia dipindahkan kuliah dari Bali ke Jakarta. Padahal, dulu ia berjuang begitu keras untuk dapat kuliah di Bali. Ini mungkin terdengar sangat klasik,

mana mungkin ada sahabat seperti itu?

Mungkin ada, tapi hanya satu diantara seribu. Dan sherly adalah orang itu. Yang dengan sangat tulus mengabdikan dirinya, waktunya, pikiran dan perasaannya, untuk pemulihan sahabatnya, Maura.

Sherly menyadari betul keadaan Maura sekarang yang pasti luar biasa sulit dijalani. Ditambah lagi, Sherly juga menyadari hanya ada om Jef dan Albert yang bisa diharapkan. Maura tak mempunyai Ibu, tak punya kakak dan adik, dan sahabat yang lain seolah-olah telah lupa dengannya. Sherly yakin, dirinya sangat dibutuhkan oleh Maura. Bukan nanti setelah ia lulus kuliah di Bali, tapi sekarang, saat ini. Inilah yang membuat Sherly mampu dengan dewasa mengambil keputusan untuk pindah kuliah.

Tuhan, tolong berikan Maura pemulihan. Sekarang ia tak bisa melihat dengan kedua matanya, tapi tolong biarkan ia dapat melihat kehidupan ini dengan caraMu melihat.

***

Maura sudah mendengar perihal kepindahan Sherly ke Jakarta, tapi ia tidak merespon. Ia hanya diam saja terpaku. Namun sebenarnya, tanpa sadar ia memberikan ruang dalam jiwanya untuk Sherly, sahabat yang dulu pernah dekat sekali dengannya.

''Friends are like star. Not always seen, but always there'', Maura tiba-tiba teringat dengan kalimat tersebut.

Ini adalah quote terkenal yang sering digunakan banyak orang untuk menggambarkan persahabatan, termasuk mereka berempat-Maura, Sherly, Imelda, dan Kartika. Dengan kalimat singkat itu mereka berempat menyatakan bahwa mereka akan selalu ada satu sama lain.

Kenyataannya, Imelda dan Kartika menghilang entah kemana bagaikan lenyap ditelan bumi. Hanya sherly yang benar-benar menghidupi kalimat tersebut. Selama ini, walaupun sherly jarang bertemu muka dengan maura, tapi ia selalu ada untuk persahabatan mereka.

Baginya, maura akan selalu menjadi sahabat.selamanya.

Dan sekarang, Sherly mungkin tak terlihat oleh mata maura yang buta, she not always seen. tapi ia selalu ada disana. She always there -Maura merasakannya.

Airmata Maura tiba-tiba mengaliri pipinya dengan lembut. Ia menyesal, telah mencampakkan dan membuang Sherly-ketika ia dulu telah menemui dunia barunya bersama dengan keane.

***


Mereka menyebut itu persahabatan.

Kisah menyedihkan yang dialami Maura mengajarkannya banyak hal. Paling tidak, sekarang ia kebal jika ada orang yang mengatainya buta, ia juga kebal dengan perhatian orang-orang yang pura-pura perhatian.

ia belajar tentang yang namanya persahabatan.

Persahabatan adalah tentang bagaimana kita mengasihi, sedangkan mereka mungkin telah mencampakkan kita.

Persahabatan adalah tentang memperjuangkan sesuatu yang dulu ada diantara kita, sedangkan sekarang sengaja atau tanpa sengaja terkubur.

Persahabatan adalah tentang keberanian untuk mencari, walaupun telah ditinggalkan.

Persahabatan adalah keberanian mengabdi untuk seseorang-yang bernama sahabat.

Persahabatan Maura dan Sherly yang kembali tumbuh memberikan ruang yang cukup lebar bagi sherly untuk berbuat banyak hal.

Proses pemulihan untuk orang yang menjadi korban tragisnya peristiwa bukanlah hal yang mudah. Tapi, ketulusan, kehadiran, dan doa merupakan jalan menuju kesana.

Setiap malam Sherly dengan kushuk berdoa untuk sahabatnya itu. Sekarang Maura memang jauh lebih baik keadaannya; sudah mau makan teratur, mau mulai bersosialisasi dengan orang lain, mau memulai pembicaraan dengan orang lain, sudah tak terlalu menjengkelkan tapi masih menjadi seorang gadis pemarah. Betapapun baiknya keadaan Maura sekarang, menurut Sherly semuanya itu belum cukup.

Rasanya, pasti ada hal besar dibalik semua ini yang harus dipahami Maura.

Tuhan tidak pernah salah. Ia tidak mungkin hanya sedang bermain-main dengan Maura. Jika ia mengizinkan hal sepahit ini dialami Maura, pasti Ia punya maksud yang besar, yang mungkin sebelumnya tak sanggup tergapai nalar manusia.

Untuk menyentuh sanubari Maura agar mau berelasi dengan Tuhan bukanlah perkara gampangan. Maura benci setengah mati pada Tuhan yang katanya berkuasa. Ia marah sejadi-jadinya pada Tuhan. Menurutnya Tuhan jahat, tidak adil. ia merasa dipermainkan Tuhan berkali-kali.

Aku tak meminta pada Tuhan tentang ini dan itu, aku tak meminta ibu, tak meminta kamera. Ia yang memberi semua itu, dan ketika aku mencintai apa yang telah diberikan, Ia mengambilnya dengan kejam. Tanpa peduli perasaanku-Tuhan sungguh kejam padaku.

Inilah masalahnya. Ini jelas saja salah menurut Sherly. yang dirasakan Maura memang tak enak, hidup yang dijalaninya tak mudah. Tapi seandainya Maura mau membuka hatinya untuk Tuhan, mau melihat dari caraNya melihat, pasti Maura akan mengerti.

Tuhan tak pernah salah, yang dilakukan hanyalah wujud cintanya pada manusia.


Maura dalam keletihannya

Bumi berbentuk bulat dan setiap saat bumi selalu berputar. Kata orang, itu sebabnya kadang kita berada di atas kadang berada di bawah. Kita tak akan pernah tau kapan kita akan tertawa dan kapan kita akan menangis. Malah terkadang kita tak tau kapan harus berbuat sesuatu dan kapan harus diam.

Bumi yang selalu berubah setiap saat membawa kita menerima apa yang tak ingin kita terima, dan kehilangan apa yang seharusnya kita miliki.

Maura seolah lelah dengan semua kengerian ini. Ia kini berada di bagian bumi yang paling bawah, dan mungkin tak akan pernah bangkit. Ia memilih untuk masabodoh dengan semuanya. Hatinya pahit.. Pahit terhadap kehidupan dan pahit terhadap Tuhan. Baginya hidup sudah tidak ada artinya sama sekali. Semuanya omongkosong.

Sherly, Albert, dan pak Jef tentu saja masih tetap sama. Segala macam cara dilakukan agar Maura bahagia. Mereka rindu melihat Maura yang dulu, yang selalu memiliki senyum manis, yang selalu punya sorot mata indah yang antusias pada banyak hal.

***

''Ra, berdoa bareng Sherly yuk?''

begitu ajak Sherly lembut.

Seperti biasanya, Sherly tak pernah bosan dan menyerah membawa Maura menyerah pada Tuhan. Tapi bagaimanapun juga cara mengajaknya, Maura selalu keras hati, seolah ia yang paling benar dan Tuhan salah. Dan malahan, sekarang baginya Tuhan itu tidak ada.

''Nggak Sher, nggak. gue nggak akan mau berdoa. Omong kosong semuanya''

Ini adalah hal yang tersulit, mengubah paradigma orang yang merasa Tuhan tidak pernah adil padanya. Yang selalu merasa Tuhan salah dan dia yang paling benar.

***

Ini namanya cara yang Kuasa.

Hari ini, adalah hari itu. Dimana dengan caranya yang tak terduga Tuhan menghancurkan hati Maura lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.

Setiap sore ayah Maura biasa berada di kantor pribadinya, meeting dengan para kolega, ataupun mengerjakan pekerjaan yang perlu diselesaikan. Hari itu lain dari biasanya, Pak Jef tiba-tiba terjatuh, sakit jantungnya kambuh-dan ia terpaksa dibawa ke icu sebuah rumah sakit besar-keadaannya koma.

Maura shock mendengar kabar tersebut.

Orang-orang mungkin mengira bahwa kejadian ini akan membawa Maura pada lubang kehancuran yang semakin dalam. Dalam keadaannya yang cacat dan belum pulih, Maura malah kembali ditimpa musibah-ayahnya masuk icu, nyaris meninggal.

''apa-apaan ini semua?''

Banyak orang mungkin kali ini setuju bahwa, Tuhan kejam terhadap Maura. Kasihan, malang sekali gadis itu. ''ungkap orang-orang di sekelilingnya''

***

Hati itu akhirnya luluh.

Seakan berbanding terbalik dengan dugaan orang kebanyakan. Di saat yang kritis itu, hati maura justru meleleh. kali ini, setelah ditampar berkali-kali dan juga memberontak berkali-kali, Maura akhirnya menyerah pada yang Kuasa.

Dengan kesadaran penuh yang disertai kerendahan hati yang terdalam, maura mengaku salah kepada Tuhan.

Cara Tuhan mungkin tak pernah terpikir. tak ada sama sekali yang menduga pak Jef tiba-tiba harus masuk rumah sakit, dan ajaibnya Maura menyerah serta kembali padaNya karena kejadian itu-inilah namanya kuasa Tuhan. saking hebatnya, nalar manusia semacam einstein sekalipun tak sanggup menggapainya.

Maura menangis dalam doanya kepada Tuhan. Betapa ia menyadari kehinaannya sebagai manusia dan kekurangajarannya pada Tuhan.

Maura tiba-tiba teringat lagu ini..

Betapa kumencintai, segala yang t'lah terjadi
tak pernah sendiri selalu menyertai.
Betapa kumenyadari,Kau selalu memberi.
Rancangan terbaik, oleh karena kasih.

Bapa, sentuh hatiku..
Ubah hidupku, menjadi yang baru..
Bagai emas yang murni..
Kau membentuk bejana hatiku.

Bapa, ajarku mengerti ..
Sebuah kasih yang selalu memberi.
Bagai air mengalir..
Yang tiada pernah berhenti

***

Maura sayang papa!

Siang malam Maura berdoa untuk ayahnya. Ia memohon pada yang Mahakuasa yang telah menyembuhkan batinnya, untuk menyembuhkan penyakit ayahnya, orang yang paling dicintainya.

Pak jef adalah orang yang berkelimpahan materi. Tapi saat ini, lagi-lagi sangat disayangakan materi sebanyak apapun tak akan mampu menolong seseorang. Percayalah, uang bukan segalanya dalam hidup manusia.

Maura percaya, saat ini hanya Tuhan yang mampu menolong papanya.

Untunglah Maura memiliki Albert dan juga Sherly, yang begitu besar pengabdiannya. dalam saat sulit seperti sekarang ini, mereka tak henti berdoa, tak henti mensupport Maura. Merekalah orang yang paling berjasa.

***

Setelah di rawat beberapa hari, dengan kebesaran Tuhan, pak Jef akhirnya sadarkan diri. Saat ia siuman, Maura sedang berada disampingnya.. Ia memang selalu menunggui ayahnya pagi, siang, sore, malam.

Pak Jef menggenggam tangan anak perempuan semata wayangnya itu.

''Maura...''

''Papa..Papa udah sadar?''

''Iya sayang, papa udah sadar''

''Pah, maafin Maura... Maura tau Maura selama ini keterlaluan egois. Hanya mikirin diri Maura sendiri, bahkan Maura baru sadar kalau Maura ga pernah mikirin perasaan papa. Maaf pa..Maura sayang papa''

''Iya Maura..iyaa''

Pak Jef menarik nafas panjang...ia lega. Raganya lemah karena sakit, tapi jiwanya bahagia. Anaknya sudah kembali lagi. Rasanya ia tak perlu bertanya banyak pada Maura, ia sudah tentu tau ini semua pekerjaan Tuhan.

***

Semuanya berubah.

Pak Jef akhirnya pulih, dokter mengizinkannya pulang ke rumah.

Seiring dengan kesembuhan sang ayah, Maura kini benar-benar berubah. Bersama dengan sherly, ia mulai aktif di kegiatan gereja, ia juga mulai aktif dalam kegiatan sosial.

Bukan waktu yang singkat sampai akhirnya Maura bisa seperti sekarang ini. Sepenuh hati Sherly bersyukur pada Tuhan. Engkau sungguh Tuhan mahabesar! Ungkap batinnya.

***


Berlabuh dalam dunia yang tepat.

Dua tahun berlalu, Maura mulai perlahan temukan dunia yang baru. Kali ini, dunia yang sesungguhnya, yang tak kasat mata, yang tak bisa didengar telinga, yang tak dapat diraba. Dan kali ini, sepertinya Maura berlabuh dalam pilihan yang tepat.

Maura begitu nyaman dengan dunianya yang baru, menyibukkan diri dengan aktivitasnya di yayasan sosial. Kepahitan bertubi-tubi yang dialaminya membuatnya mengerti arti kehidupannya yang kini benar-benar berubah drastis.

Mengarungi luasnya keinginan hati tidak akan ada habisnya. Jika hatimu menjadi nahkodamu, engkau akan tersesat.  

Gadis berusia hampir 21 tahun ini sangat merasa nyaman kalau ia bisa membagikan cerita hidupnya pada banyak orang yang juga mungkin saja sedang mengalami kepahitan dalam hidupnya, yang mungkin saja belum benar-benar hidup, atau yang mungkin saja masih senang mengarungi luasnya keinginan hati mereka.

***

Pemberian tak ternilai.

Hingga kini, maura masih mengalami kebutaan.Tapi justru ia begitu mensyukuri kebutaan ini.

Sudah gila barangkali?

Tapi apapun pendapat orang, menurut Maura Inilah pemberian yang tak ternilai harganya: melalui kebutaan itu, maura dapat melihat dengan hatinya apa yang sebelumnya tak pernah ia lihat dengan kedua matanya. Karena barangkali, dulu ia terlalu sibuk melihat banyak hal duniawi dengan kedua bola matanya sehingga tak ada ruang di hatinya untuk melihat yang terlupakan.

Maura mengakui dengan kerendahan hatinya, dulu ia terlalu egosentris. Hidup untuk dirinya sendiri, untuk dunianya sendiri. Tidak peduli-pada apapun juga selain dirinya sendiri. Maura juga tau, bahwa sebenarnya ia terlampau sombong dan keras hati, ia menghabiskan waktunya untuk berkhayal seolah-olah mampu hidup tanpa Tuhan.

Untuk hal lain di luar itu, banyak pelajaran yang diberikanNya. Pelajaran tentang kehidupan, yang pertama bahwa uang bukanlah segalanya, relasi antar manusia yang disertai ketulusan, persahabatan yang penuh pengabdian, dan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya.

Jutaan kata takkan cukup menggambarkan isi hati Maura akan rasa syukurnya kepada Tuhan saat ini. Dan yang lebih besar dari kesemuanya adalah perihal kesempatan yang Tuhan berikan untuk Maura mengerti semua hal ini.

Melihat semuanya sebagaimana Tuhan melihat.

***


Keputusan sang pemberani.

Kecintaannya pada Tuhan dan sesama menimbulkan kerinduan yang semakin dalam untuk menolong mereka yang sedang dalam jurang 'kepahitan'.

Hal ini mendorong Maura untuk mengambil keputusan berani untuk berkuliah lagi. Dengan jurusan yang tentunya dikehendaki oleh Tuhan -yaitu konseling.

Bukan hal yang mudah berkuliah dengan keadaan tak sempurna seperti Maura. Apalagi ia berkuliah di Universitas biasa, yang tak menyediakan fasilitas penyandang cacat. Di samping itu, kuliah semacam ini seringkali dipandang sebelah mata oleh orang kebanyakan- mau jadi apa nanti setelah lulus?

Tapi, kali ini Maura benar-benar meyakini kalau Tuhan menghendaki ia kuliah konseling, dan ia tau, Tuhan pasti yang akan menolongnya menjalani semuanya.

***

Kejutan dari Yang Maha Kuasa.

Apa yang tidak terpikirkan oleh manusia, itu semua sanggup dikerjakan Tuhan. Apa yang tak pernah kita harapkan untuk kita terima, kita ternyata menerimanya.

Tiga bulan lagi Maura akan mulai berkuliah, tanpa terduga.. Siang ini, ia memperoleh kabar yang luar biasa baiknya.

Dokter yang dua tahun belakangan ini merawat Maura menghubungi pak Jef untuk menawarkan operasi mata pada anaknya . Ada donor mata yang pas untuknya.

Ajaib bukan main ! lagi-lagi inilah yang namanya pekerjaan Tuhan. Maura sama sekali tak pernah membayangkan suatu hari ia akan melihat lagi. Tapi, kini semuanya itu diberikan Tuhan -sebuah penglihatan yang dulu pernah dimilikinya. Ia kehilangan satu, kini dikembalikan dua: sepasang bola mata dan mata hati.

Tuhan memang ajaib, caraNya sama sekali tak terbayangkan.lagi-lagi Maura dibuat terkagum-kagum olehNya. melalui kepergian Ibunya, kecelakaan tragis, kebutaan fatal, keadaan kritis ayahnya, itu semua hal yang tak mudah - tapi itu semua ternyata hanyalah cara yang digunakan Tuhan untuk membuat Maura mengerti kehidupan yang sesungguhnya.

***

Pemberian yang berkali-kali lipat.

Maura kembali dapat melihat. melihat keindahan yang Tuhan ciptakan, bukan hanya keindahan yang dapat dinikmati oleh mata, melainkan keindahan yang dapat dinikmati batin manusia.

Benar-benar sempurna semuanya. Dalam hitungan minggu Maura akan masuk kuliah, dengan kondisi tubuh sempurna. Ia telah melalui semuanya, masalalunya, Ia telah meninggalkan apa yang ada dibelakangnya. Menutup rapat-rapat lembaran kelabu dalam hidupnya dan berlari pada tujuan baru yang mulia.

Maura, kini adalah gadis sempurna yang tau betul apa tujuan yang sedang dikejarnya.

***

Dan aku adalah Aldi, pria beruntung yang dipertemukan Tuhan dengan Maura. Aku adalah tunangan yang sekaligus calon suami, yang akan menikahinya minggu depan. Aku sungguh mencintainya, wanita itu.

Kami bertemu di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu. Saat-saat pertama aku menyelami batinnya, aku jatuh cinta padanya-saat itu pula aku yakin dia adalah wanita yang diberikan Tuhan, bukan untuk melengkapiku melainkan untuk bekerjasama menjalankan misiNya dalam hidup kami.

Kami adalah orang-orang beruntung yang berkesempatan melihat dengan hati. Melihat tujuan yang Tuhan percayakan dalam hidup kami berdua, yang kurang dari seminggu lagi akan menjadi pasangan sehidup semati.

Bagi kami, setiap saat adalah tujuanNya, setiap saat adalah cintaNya. Dan setiap saat adalah kesempurnaan.

''Gak akan ada yang tau hari esok''

begitu ungkap Maura dengan mata berbinar. Itu adalah kalimat yang sering disebut-sebut maura. Tiap hari adalah misteri, dan ia benar-benar pernah merasakan keajaiban misteri itu.  Terpental berkali-kali, jatuh bangun berkali-kali dikehidupannya, memberontak hingga kelelahan sendiri, sampai akhirnya menyerah pada yang kuasa.-inilah intinya, bagi Maura setiap manusia harus menyerah pada yang kuasa.

Maura juga selalu tersenyum setiap kali aku berkata tentang kamera. Dulu, setengah mati ia bersumpah takkan menggantikan kameranya dengan apapun juga. Nyatanya ia tak kuasa melakukan apapun juga ketika Semuanya itu lenyap diambil oleh sang penguasa- kini, ia berjanji takkan pernah menggantikan Tuhan sang penguasa yang dengan apapun juga.

***

kami berdua sekarang sedang merintis sebuah yayasan untuk anak penyandang cacat. Kami juga membuka praktek konseling untuk kalangan umum. Di samping itu, aku dan Maura diberikan kepercayaan juga untuk mengelola usaha pribadi milik pak Jef, ayah mertuaku

Hari-hari kami sibuk dipenuhi dengan urusan akan masalah-masalah orang lain. Menurut oranglain, kami ini pasangan yang aneh. Kata mereka- hidup ini sudah begitu rumit, malahan kami dengan senang hati memikirkan kerumitan orang lain. Tapi apapun juga kata orang,  kami bahagia menjalani semuanya ini... karena kami tau, inilah hidup yang sesungguhnya-mengabdikan diri pada sang pemilik hidup dan sesama.

***

Di samping itu, Sherly sahabat sejati Maura sebentar lagi juga akan menikah. Ia akan dinikahi oleh seorang pria yang ditemukannya di akademi memasak di Jakarta. Kata Sherly ''kalau bukan karena keputusannya pindah ke Jakarta untuk menolong Maura, ia takkan bertemu dengan Reno. Lelaki yang akan menjadi pasangan hidupnya''.

Sedangkan Albert, sepupu Maura sekarang sedang mengambil kuliah untuk program magister. Albert juga punya kehidupannya sendiri, yang tidak kalah menarik dan bahagia dengan kehidupanku dan Maura, Sherly dan Reno.

***

Maura Abigail Renata

Ini adalah kisah Maura Abigail Renata. Calon istriku-yang selalu ingin semua orang tau bahwa Tuhan itu ada dan Ia Mahabesar. Sayangnya, kita seringkali tak mengerti jalan pikiran Tuhan-sehingga dengan gampangnya kita menganggap Tuhan itu kejam.

Ia selalu rindu berkata pada kalian yang sedang bersedih, yang dikecewakan, yang ditinggal mati orang yang terkasih, yang dikhianati, yang cacat, yang tak bisa melihat, yang diceraikan, yang dibohongi, yang diperlakukan tak adil, yang dibenci, yang dikucilkan, yang disakiti, yang sedang sakit keras, yang sedang dalam masalah, yang sedang kesulitan, yang sedang keras hati, yang sedang trauma, yang sedang merana, TUHAN MENCINTAI KALIAN, menyerahlah padaNya.seperti yang telah aku lakukan-Ia akan mendekapmu dengan cintaNya.

***

Aku juga memiliki kisahku sendiri. Tuhan membentuk setiap orang dengan caranya masing-masing. Persamaannya: Ia akan membuat kita mati dan hancur terlebih dulu baru kemudian ia menghidupkan kita. Kami begitu tak sabar menanti kalian berkisah tentang kisah kalian. Karena kami tau Tuhan tak hanya mencintai kami, tapi juga kalian.

***

Ketika pertama kali cinta itu ada,
aku tak tau bahwa ia akan tumbuh.
Ternyata, Ia terus tumbuh.
menjelajahi luasnya ruang dihatiku,
untuk yang kesekian kali,
aku sadar aku mencintaimu,
cinta itu semakin dalam.

Untuk kamu seorang,

Maura Abigail.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar