kota mati

entah ya... sang waktu begitu cepat berjalan atau saya yang terlalu lambat bergerak. enggak berasa, tiba-tiba udah bulan puasa lagi, dan enggak berasa pula tiba-tiba udah lebaran lagi. heeem.....

bicara soal lebaran, hari raya ini biasa sangat identik dengan beduk, opor, ketupat, semur, malam takbiran, petasan daaaaaaaaaaan tentu saja LIBUR ! yeaaah, I got my holiday. satu minggu cooooy ! sebagai mahasiswi yang menjadi korban penindasan tugas, buat saya satu minggu rasanya seperti satu minggu. dan satu minggu ini menjadi satu minggu yang paling indah di bulan Agustus :) *terharu

dan, disinilah semua cerita dimulai.

hari pertama libur dimulai dengan dilema "mau ikut papa ke sukabumi full satu minggu" atau "liburan sendirian di Jakarta". ini sungguh merupakan pilihan yang sulit. pengen banget sih refreshing ke kebun, main di sawah. tapi "seminggu", "gimana janji rapat gue", "gimana janji gue pergi sama temen-temen KTB"?. tapi, seminggu sendirian di Jakarta? mau jadi apa di kota yang mendadak mati ini???

singkat cerita, pilihan yang ternyata bodoh telah diambil. papa pergi dan saya sendiri disini, di kota yang mendadak jadi sepi, mendadak jadi bebas macet, dan mendadak jadi seperti kota mati. sepi ! oke, well, saya enggak ikut-ikutan larut dalam kesepian. selama seminggu ada banyak yang saya lakukan, mulai dari bengong, beres-beres rumah, beres-beres kamar, edit foto, masak, menciptakan resep-resep baru, baca buku, bengong lagi, jalan-jalan ke mall, lalu jalan-jalan ke mall yang sama keesokan harinya, rapat, kebersamaan KTB, beli kado buat sahabat yang ulangtahun, pergi berkunjung ke rumah teman di tempat yang jauh disana, keliling-keliling naik transjakarta, sampai akhirnya nyaris numpang mandi di rumah orang. loh kenapa? jangan tanya kenapa please...

seminggu yang sepertinya akan menyenangkan mendadak menjadi suram! kesuraman ini dimulai ketika hari kamis pagi air di rumah mati total sedangkan persediaan air sangat tipis. sungguh saudara-saudara, saya sampai mengelus dada berkali-kali, mondar mandir berkali-kali berharap ada setetes air tercurah. yap, saya sendirian di rumah, tidak ada manusia lain, tetangga juga sangat diragukan keberadaannya, sepi, sunyi, jalanan juga sangat sepi. mengharapkan air gerobak lewat itu rasanya seperti mencari jarum dalam jerami. 

alhasil, tiga empat hari sebelum liburan usai saya betul-betul kekurangan air. enggak bisa masak nasi, enggak bisa masak sayur, enggak bisa mandi sepuasnya, enggak bisa keramas, enggak bisa buang air besar (sampai harus ditahan-tahan). air yang ada, yang berasal dari galon dan botol-botol aqua yang saya beli hanya bisa untuk cuci muka , gosok gigi dan minum.

rasanya bener-bener aneh, seperti terjebak di satu padang gurun krisis air. rasanya emang bener-bener ada di kota mati. kejadian ini membuat saya merenung, "begini ya ternyata rasanya jadi orang yang hidupnya susah dapet air bersih", lalu perenungan saya semakin dalam... lucu ya?? "air", ia cuma satu kata tapi sungguh membuat saya tak berdaya. air yang selama ini cuma dilihat sebagai "air biasa" yang ada dimana-mana, yang saya temui sehari-hari dengan mudahnya, sekarang berubah jadi "air" yang benar-benar "air". air yang ternyata sangat berguna, sangat bermanfaat, sangat berpengaruh, sangat berharga. 

barangkali kehidupan juga begitu. apa yang sering dengan mudah kita dapatkan, mudah kita temui, seringkali tidak begitu kita syukuri. atau dengan kata lain, esensi 'sesuatu' itu menjadi berkurang dalam hidup kita. misalkan saja keluarga kita: mungkin seringkali kita lupa bersyukur buat kehadiran mereka, "toh mereka nggak akan kemana-mana", "toh mereka emang keluarga gue dari sananya", "toh gue ketemu sama mereka setiap hari dan akan ketemu terus di hari-hari selanjutnya". keluarga hanyalah tinggal nama, esensinya sudah bergeser jauh. pertualangan dalam keluarga mungkin lebih mirip dengan petualangan seorang tokoh karakter yang terjebak dalam takdir yang mengharuskannya hadir dalam sebuah "keluarga" ,yang kemudian membuat sang tokoh tidak bersyukur ada disana. permisalan ini sama halnya dengan sahabat atau teman-teman yang ada di sekeliling kita, yang sehari-harinya mudah kita temui, mudah untuk kita dapatkan.

come on guys, mari kita lebih peka untuk mensyukuri apa aja yang ada dalam hidup kita, apa aja yang sudah Tuhan kasih dengan "cuma-cuma" :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar