untuk pembaca

Setiap jejak langkah  memiliki kisah dan misterinya sendiri. yang mudah maupun yang sulit, yang indah maupun biasa saja, yang sudah maupun yang belum dilangkahi akan indah jika memiliki makna, betul tidak? langit hari ini sungguh cerah-lebih cerah dari kemarin. besok, belum tentu sama cerahnya. bisa jadi lebih cerah, atau justru lebih gelap. yang pasti selama Allah berkenan, matahari akan terbit setiap pagi. itu tandanya hari baru menanti untuk dinikmati, itu saja.

sayangnya, mungkin karena "terlalu" menikmati hari-hari baru (yang datang dan pergi secara teratur setiap harinya) , kita seringkali tanpa sadar kehilangan makna. katanya ''hidup'' ternyata hanya mengikuti kehidupan, seringnya begitu. sampai-sampai kita ini lupa (atau pura-pura lupa) mencari tau "siapa kita, dan untuk apa kita ada disini?" dalam arti yang sesungguhnya. kalau berbicara mengenai hal ini, tidak jarang orang hanya mau menyentuhnya dipermukaan, padahal, ini hal yang serius. tanpa memahami itu semua, kita lebih mirip seperti mesin otomatis yang bergerak, bekerja tiada  henti, menghasilkan ini-itu yang sebenarnya tidak punya tujuan-alias hampa.

Proses pencarian makna tidaklah mudah. kita perlu bergumul, menangis hingga berguling-guling kalau perlu. tapi, terkadang ia sangat bersahabat- datang disaat tak terduga. intinya sih, semua hal harusnya bermakna- tidak ada suatu hal yang lewat begitu saja. toh tidak ada kata ''kebetulan'', kan? 

kata kuncinya adalah proses. kita semua sedang berproses ini-itu. dan kita sedang dalam proses perjalanan ke kehidupan nyata (kehidupan yang sesungguhnya). disinilah saya berbagi hidup, berbagi pengalaman, berbagi ide, berbagi cerita besar-cerita kecil (sesungguhnya tidak ada yang kecil). tulisannya masih berantakan, masih abstrak, masih kacau-balau. tapi inilah saya dalam ''en route to real life"

selamat membaca, selamat berproses
Tuhan memberkati :)

berorganisasi

Dulu, saya bukan tipe orang yang suka berorganisasi. Saya lebih sering memilih untuk pulang segera dari sekolah, tidur di rumah atau sekedar santai bermain-main dengan teman. Saya hanya terlibat dalam organisasi gereja, dan itupun judulnya pelayanan.

Selama melakoni sebagai pribadi demikian, rasanya sih saya senang-senang saja. Hidup rasanya sangat tenteram, bisa bermalas-malasan karena sangat banyak waktu kosong di rumah. Demikian pula pikiran, rasanya tidak terlalu terganggu, tiada beban ekstra yang berlebih-lebihan. Toh, tidak ada deadline yang harus dipikirkan? Tidak perlu pusing memikirkan ini dan itu yang notabenenya bukan urusan saya pribadi juga. Tidak perlu berurusan dengan orang banyak dan tidak perlu mengorbankan apa-apa.

Saya pernah menikmati masa-masa seperti itu. Saya lebih setuju menikmati waktu pribadi dirumah untuk tidur, menonton televisi, dsb dibanding bersosialisasi atau berorganisasi di luar sana.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai perlahan-lahan berubah. Sedikit demi sedikit merasakan adanya hal-hal yang janggal dengan kebiasaan lama saya itu.
Pertama dimulai dengan menyadari hal-hal kecil, lalu hal-hal besar, sampai akhirnya mengalami perubahan yang radikal.

Rasanya, ada yang hilang jika saya hanya berdiam diri di rumah. Rasanya saya merugi jika tidak mau bersosialisasi atau ikut berorganisasi.

Perlahan tapi pasti, saya mulai membuka diri terhadap tawaran organisasi. dan, benar saja... Saya merasa banyak sekali keuntungan daripadanya. Memang sih, banyak orang berpendapat, ngapain sih capek-capek ngurusin urusan yang bukan buat kepentingan kita?-kadang orang memilih untuk tidak ambil repot. Tapi justru dari situlah kita belajar. Yang paling berharga, belajar untuk tidak egois. yang kita urus itu bukan kepentingan kita pribadi. Secara tidak langsung, kita mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kepentingan orang lain secara cuma-cuma. Dari situ Kita belajar bagaimana caranya melayani dengan tulus. belajar untuk hidup tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi juga berjuang untuk kepentingan orang lain. Bonusnya, kita belajar bagaimana caranya bersosialisasi, belajar untuk berkorban, belajar bertanggungjawab dan pastinya berkomitmen.

Tidak jarang pula, melalui organisasi saya dilatih untuk belajar memahami karakter orang lain, lalu belajar beradaptasi dengan karakter orang yang sudah tentu berbeda beda dengan saya. memahami karakter orang biasanya akan lebih mudah jika kita pernah bekerja bersama dengan orang tersebut. Dan belajar beradaptasi dengan orang yang memiliki sifat berbeda bukanlah hal yang sulit. Butuh pengorbanan dan butuh kedewasaan. Saya pun Belajar membuka diri, belajar menerima masukan dan memberi masukan, belajar untuk berkomunikasi dengan baik, belajar untuk menerima orang lain apa adanya (dan cenderung memotivasi mereka) dan tentunya belajar untuk tidak mudah tersinggung.

Selain belajar banyak hal, tentunya saya juga merasa ditambahkan banyak hal. secara kasat mata jelas saja teman-teman saya bertambah. Beberapa diantaranya justru menjadi teman dekat. Dan bonusnya, kadang saya diijinkan mendalami kehidupan mereka,yang secara tidak langsung membuat jiwa saya semakin kaya.

Selain hal yang saya sebutkan itu, wawasan saya pastinya juga bertambah terus menerus. Dan tidak lupa, yang pasti dan sangat berharga adalah ''pengalaman''. Tidak bisa dipungkiri, saya selalu saja memperoleh pengalaman baru. Baik melalui hubungan dengan rekan-rekan, melalui kegiatan yang sedang dilakoni, ataupun momen yang saya alami.

Kalau dulu saya mati-matian menghindari keterlibatan dalam organisasi, sekarang saya malah ketagihan :p saya sekarang sedang terlibat banyak kegiatan organisasi. Saya menikmatinya!:) saya lelah, namun saya bahagia. Saya mati-matian berjuang bagaimana caranya memanajemen waktu dengan baik dengan banyaknya kegiatan, tugas, dan tanggung jawab yang harus saya penuhi. saya harus bisa memberikan porsi yang seimbang dan tepat: selain kegiatan organisasi, kuliah, tugas, saya punya keluarga yang harus diperhatikan. saya punya komitmen pelayanan, saya punya sahabat-sahabat, saya punya teman-teman yang harus saya berikan(bukan sisakn) waktu yang berkualitas. Memang sih terkadang rasanya ingin menyerah. manajemen waktu itu sangat suliiittt bagi saya, kadang saya juga merasa amat kelelahan (pikiran, emosi-jiwa, tenaga). Belum lagi ditambah dengan percikan konflik, masalah dengan rekan kerja yang banyak macamnya, dan banyak hal lainnya yang menguras emosi. Kadang, hal-hal tersebut juga menjadi stressor yang besar bagi saya. alhasil tidak jarang saya putus asa, ingin mundur. tapi masalahnya, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak? justru akhirnya saya memandang ini sebagai tantangan. Seharusnya semakin sering berorganisasi semakin pintar pula jadinya dalam memanajemen waktu, makin pandai pula mengelola emosi.

berorganisasi memang sangat melelahkan. tapi percayalah, ini sangat indah. Dan organisasi adalah satu tempat belajar yang perlu diperhitungkan. disini saya berbagi visi, berbagi pengalaman, berbagi hidup bersama orang lain. it,s nice !nDan, semakin banyak orang yang saya kenal, semakin besar pula kesempatan saya menjalakan misi hidup saya. Benar kan? :)



Soli deo Gloria

ragu

kalau kau temukan ragu di ranting itu,
pasti itu punyaku.
Kalau kau mau bantu aku,
patahkan ragu itu.

Pohon itu Tinggi,
Batangnya begitu besar,
Daunnya lebat,
Terlalu lebat, terlalu tinggi,
Aku takut.

Aku hanya sebuah ranting.
Aku rapuh, aku ringkih,
aku baru, aku muda,
aku bodoh, aku lemah,
Aku meragu.

Kalau kau temukan ragu itu,
Tak salah lagi,
sudah tentu itu milikku,
Patahkanlah saja.

alive

''do not ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world need is people who have come alive'' - Howard Thurman.

Jangan tanyakan apa yang dunia butuhkan. Tanyakan apa yang membuatmu merasa hidup, lakukanlah itu. Karena apa yang dunia butuhkan adalah orang yang merasa hidup.

Kuotes yang diciptakan oleh teolog sekaligus aktivis dari Amerika ini menjadi inspirasi bagi saya hari ini. Sebelumnya, saya pernah mendapat kuotes tersebut dari seseorang. Tapi, kali ini maknanya lebih luas,setelah kedua atau ketiga kalinya membaca saya baru menemukan sesuatu yang lebih.

guys, kalau dipikir-pikir dengan seksama, saya (dan kalian) setiap hari pasti ''merasa hidup'' dalam kehidupan ini. toh setiap hari kita bernapas, kita bergerak, kita beraktivitas, dan kita punya rutinitas. tapi guys... masalahnya, apa benar yang selama ini kita anggap ''hidup'' dan kita sebut kehidupan, memang benar-benar adalah sesuatu yang disebut ''hidup''? Jadi, selama ini, di bumi ini, apakah kita benar-benar hidup Ataukah kita hanya mengikuti kehidupan?

Lalu, saya jadi berpikir...apa ya indikasi seseorang bisa dikatakan benar-benar hidup? apa setiap orang yang bernafas, yang punya kesibukan, lalu sudah bisa dikatakan ''hidup''?

Pepatah singkat diatas menjadi inspirasi saya sebagai pribadi; memaknai hidup- ''hidup yang sebenarnya'' adalah jika kita sebagai pribadi merasa benar-benar hidup- oleh apapun juga, baik karena perasaan, hasrat, kegiatan, suatu hal, seseorang, dan apapun juga.

sebagai pribadi, ada banyak hal yang membuat saya merasa benar-benar hidup. bukan, bukan hanya sekedar 'merasa' hidup, tapi ada dampak dari kehidupan itu sendiri baik bagi saya sendiri maupun orang lain.
Kita sebut saja contohnya ketika kita menolong orang lain, ketika kita melakukan kegiatan dengan menggunakan kemampuan otak kita(berdiskusi, belajar), ketika kita mendapat prestasi yang baik, ketika kita menghasilkan sebuah karya, ketika kita bisa menyayangi orang lain, dan ketika apapun juga-dimana dengan melakukan hal-hal tersebut, biasanya kita merasa diri kita 'ada' dan kita 'hidup'.

saya, sebagai pribadi memiliki segudang hal dan kegiatan yang membuat saya merasa benar-benar hidup. Bagaimana dengan kamu? if you passionate with something, just go for it! Everything's makes you come alive, just go do it.

...

yang namanya hidup, ya harus ''hidup''. Bukan sekedar ada dalam kehidupan atau ikut-ikutan hidup. Artinya, bukan sekedar mengalir mengikuti arus, bukan sekedar menjalankan rutinitas, bukan sekedar mengikuti nasib.

lalu, pikirkan ini "apa yang mampu membuat saya benar-benar hidup?" dalam jangka waktu yang abadi, tidak sementara, yang tidak hanya sesaat(yang datang dan pergi). kalau saya ditanya pertanyaan serupa, saya pasti spontan menjawab " Jesus is the one who make me come alive" :)

tidak sebiru biasanya

mana kutahu ia bisa seangkuh ini,
Mana kutahu? sungguh aku tak tau.
biasanya ia biru, ia tidak pernah kelabu,
Kali ini sungguh beda, malahan penuh tega.

Ia yang semalam kutunggu,
yang semalam kutitip pesan lalui bintang,
sama sekali tak mau ia menatapku,
malahan menjadi angkuh begini,
barangkali ia malu karena ia tak biru.

Bagai lukisan luntur karena airmata,
Bagai hitam yang menjadi abu-abu,
Bagai hijau yang menjadi sayu,
Bagai biru yang tak lagi perawan.

kali ini ia adalah biru yang tidak biru,
Aku kecewa. entah dinodai siapa,
Ia menjadi kehitam-hitaman
Pagi ini hujan mendadak turun,
langit biru tak sebiru biasanya