Saya baru saja dikejutkan dengan pernyataan sahabat dekat saya yang isinya begini ''sebagai sahabat, aku ga diperlakuin sebagai sahabat, aku ngerasa dicari kalo lagi butuh doang''
Pernyataan yang memaksa mata saya terbuka lebar-lebar itu tidak muncul begitu saja. ada sebab, hingga pembicaraan kami berakhir di pernyataan macam itu.
Awalnya, saya dan dia sedang chatting . Lalu, karena ada keanehannya yang saya rasakan(memang rasanya ada yang sedang tidak beres diantara kami), saya lantas bertanya dengan pertanyaan yang menukik tajam, ''kenapa kamu?'' dia diam, hening. Saya menunggu beberapa waktu sambil terus menanyakan hal yang sama. tak ada hasil, lalu saya bertanya lagi ''kenapa kamu selalu diam, selalu tertutup?'' dia hening. Lalu, saya lanjutkan dengan satu kalimat tanya ''gimana ya rasanya kalo seorang sahabat diperlakukan tidak sebagai sahabat?'' lantas, dia menjawab ''sebagai sahabat, aku engga diperlakuin sebagai sahabat, aku dicari kalau lagi butuh aja'' ini adalah pernyataan yang frontal, tidak kalah menukik dibanding dengan kalimat tanya yang saya lontarkan.
Saya spontan menjawab,
Sahabat bukannya ada untuk membutuhkan dan dibutuhkan ya? bukannya harusnya semakin merasa senang kalau dibutuhkan? Dan, bukannya memang pada kodratnya manusia hidup saling membutuhkan? Kasarnya, kalau tidak ada kebutuhan, justru terasa hampa bukan? ironisnya, mungkin bisa jadi kehilangan topik pembicaraan, atau bingung apa yang akan dilakukan, betul tidak ?
Saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan pernyataan yang dianggap frontal tersebut. Justru saya merasa sepaham dengan hal tersebut. Saya memang begitu.
Saya mencari sahabat saya dikala butuh. Secara kasat mata, ketika saya butuh pendapat, butuh dibantu ini itu, butuh didengar,dsb saya akan mencari sahabat saya. Tapi, jangan lupa ! ada kebutuhan tersirat yang tidak bisa dimaklumi secara asal. Ketika saya peduli, ketika saya ingin tau keadaan mereka, ketika saya memperhatikan mereka walau hanya dari kejauhan, ketika saya mau ikut campur dengan urusan mereka, kala itu saya butuh merasa dibutuhkan sebagai sahabat. Sahabat yang memang berperan sebagai 'sahabat'. kala itu pula saya butuh mengaktualisasikan diri sebagai sahabat yang sesungguhnya.
Misalkan sebaliknya, ada sahabat yang justru jarang mencari sahabatnya, untuk hanya sekedar sharing pun tidak. nampak tidak ada kebutuhan akan kehadiran sahabatnya. Lalu, bagaimana kira-kira rasanya sebagai sahabatnya? Merasa tidak dibutuhkan? merasa jangan-jangan saya bukan sahabatnya? Betul tidak?
Jadi, menurut saya, bersahabatlah karena butuh. merasa dibutuhkan itu penting, merasa membutuhkan juga tidak kalah penting, dan seorang sahabat harus tau kalau ia merangkap keduanya, sebagai orang yang membutuhkan dan dibutuhkan :)
...
Walau barangkali hanya bisa menatap dari kejauhan, walau barangkali mereka tidak menyadari ada sepasang bola mata yang terus memperhatikan, tidak apa-apa. Saya tau, sudah sejak jauh hari hati ini mengatakannya: aku butuh mereka, aku sayang mereka, dan mereka akan tetap menjadi sahabat sampai selama-lamanya.
Regards, joey :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar