kunjungan spesial bagian 1

saya mendapatkan jauh lebih banyak dari apa yang semestinya saya beri.

bukannya menguatkan, saya justru malah dikuatkan. ini adalah sepenggal kalimat yang terlintas di kepala saya saat ini. menurut sebagian orang, mengunjungi orang yang sedang sakit mungkin merupakan hal yang biasa. tapi, buat saya kegiatan ini sungguh bukan hal yang biasa- ini tidak mudah. apalagi, yang dikunjungi adalah orang yang sedang sakit parah. 

Kami biasa memanggilnya Ko Joshua. seorang pria yang sebentar lagi genap berusia 39 tahun- seorang suami, sekaligus seorang ayah dari dua anak yang sedang lucu-lucunya. badannya tegap, tinggi, proporsional. kepribadiannya menyenangkan, ia sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya (kami telah menyaksikannya sendiri) dan yang terpenting, kami mengenalnya dalam keadaan yang sehat.

beberapa waktu lalu, kabar kurang menyenangkan berhembus. kata orang-orang, ia sakit. sakit apa? cancer.

Ko Joshua? cancer? serius?
ya, serius. beberapa hari lalu kabar kembali muncul, orang-orang kembali membicarakannya. "Ko Joshua masuk rumah sakit(lagi), ia mengalami pendarahan hebat melalui hidung dan mulut". dan ketika akhirnya tadi kami datang ke rumahnya, saya menyaksikannya sendiri. seperti yang saya katakan di atas, kunjungan-kunjungan macam ini buat saya tidak pernah sesederhana kelihatannya. sebelum akhirnya berangkat, berkali-kali saya memastikan batin saya untuk siap berjunjung. saya sama sekali tidak bisa memastikan apa yang akan saya saksikan nanti. dan, sungguh saya terkaget dengan apa yang saya lihat. kondisi tubuhnya sangat kurus. berbeda jauh dengan ko joshua yang saya kenal dulu. ia mengidap cancer, stadium 4.

tubuhnya boleh saja merosot, namun imannya sama sekali tak merosot. hal ini jelas terpancar dari kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. dan tentu saja, didukung oleh senyum hangatnya- senyum ciri khas ko Joshua. 

bukannya menguatkan, saya malah dikuatkan melalui kesaksian-kesaksiannya. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar