![]() |
| by: deletrium: |
Usia saya terus bertambah, tinggi
dan berat badan saya bertambah, tapi otak dan hati saya tetap kecil. Ada
hal-hal yang tidak bisa saya pahami, yang rasanya ingin saya ingkari, tapi
setengah mati memang saya harus tetap jalani
Di deretan paling ujung gang
rumah saya tinggal seorang laki-laki berusia matang. Kisaran usianya hampir
sama dengan usia papa saya. Ya , dia adalah salah satu teman dekat papa. Dia
tinggal berdua dengan anak laki-lakinya yang sedang menginjak masa remaja,
namanya Aden. Mereka nampak nyaman tinggal berdua di rumah itu. Namun
sebenarnya saya sudah lama ingin tau, apa rumah itu benar-benar nyaman? apakah
rumah itu rasanya ‘hangat’ atau ‘dingin’?
Sudah bertahun-tahun lamanya
rumah itu tidak lagi mendapat sentuhan seorang ibu dan juga seorang istri.
Apakah ini yang namanya takdir? laki-laki itu bercerai dengan istrinya sejak
Aden masih kecil. Mereka terpisah dalam jarak dan ruang yang dilapisi tembok
tinggi kokoh yang sulit ditembus. Saya tidak pernah bisa paham bagaimana
manusia yang dulunya saling mencinta dikemudian hari lalu saling membenci, saya
benar-benar tidak bisa paham konsep pertemanan yang bisa tiba-tiba berubah jadi
permusuhan, konsep suka yang bisa tiba-tiba jadi benci, konsep datang lalu
pergi, atau konsep lahir yang tiba-tiba harus menemui kematian. Otak dan hati
saya kecil, saya tidak bisa paham akan hal-hal ini. buat saya sekali mencintai,
akan selamanya cinta. Sekali berteman, akan selamanya menjadi teman, sekali
datang akan tetap tinggal, sekali lahir akan terus hidup di dalam hati. Saya
terlalu naif ya?
Ya, laki-laki yang berusia matang
itu, yang beberapa hari lalu masih saya dengar suaranya tiba-tiba menghadapi
kematiannya. Baru saja, tadi pagi ia pergi meninggalkan sakitnya, meninggalkan
jalan gang yang biasa ia lewati, meninggalkan rumah sederhananya, dan
meninggalkan anak kesayangannya, Aden. Lagi-lagi, takdirkah ini? Aden yang tak
pernah mendapat sentuhan kasih sayang ibu sekarang harus terus melanjutkan masa
depannya, kini tanpa kasih sayang seorang Ayah. Saya tidak akan lagi
bertanya-tanya bagaimana rasanya rumah itu, sekarang sudah tentu rumah itu
rasanya dingin. rumah itu kosong. Aden kini betul-betul sebatang kara, tanpa
ayah tanpa ibu. Saya tidak bisa paham dengan jalan-jalan yang begini, rasanya
saya ingin mengingkari hal-hal yang begini, rasanya sakit, walaupun bukan saya
sendiri yang mengalami, tapi kepedihan itu terasa sampai di ruangan ini. Yang Kuasa tidak tidur, ia pasti akan peluk Aden dalam kedamaiannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar