Oh atau hari ini
justru lebih redup ya?
Sejujurnya aku tidak
tahu, aku sudah lama tidak punya waktu perhatikan malam.
Malam demi malam
kulalui begitu saja.
Papa kelihatan sibuk sejak
kemarin. Kemarin sore Ia bersama dengan dua temannya yang juga merupakan
tetangga kami pergi mengantar papanya Aden ke dokter. Sudah lebih dari dua kali
dalam satu hari ini papa menceritakan kronologis kejadian demi kejadian. Ia
bercerita tentang kejadian beberapa hari lalu ketika om Dede(begitu ia biasa
disapa) masih berkunjung ke rumah kami,
lalu ia bercerita tentang tiga hari kemarin dimana papa mulai mendapati om Dede
sedang sakit, dua hari lalu, sampai kemarin ketika papa dan temannya memaksakan
om Dede ke dokter, menggotongnya, mengantarnya ke dokter, mengabari saudaranya
untuk segera datang, lalu menemaninya mengobrol. “gua bener-bener udah nggak kuat lagi” itu kata-kata om Dede yang
benar-benar berkesan buat papa. Ia, beberapa kali menceritakannya sepanjang
hari ini. “pas papa datang kesana,
nemenin ngobrol, udah kelihatan beda banget… badannya, mukanya, matanya, dia
keliatan sesak nafas, dan akhirnya dia bilang udah nggak kuat lagi……….” .
papa menelepon saudara om Dede lalu papa pulang ke rumah. Dan, ternyata sore
itu pertemuan terakhir papa dengan om Dede, ternyata itu adalah hal-hal
terakhir yang bisa papa lakukan untuk temannya, orang yang sudah dikenalnya
selama puluhan tahun lamanya. Sore itu benar-benar telah menjadi yang terakhir
dan semuanya telah berakhir.
Ketika bercerita, Papa kelihatan selalu tenang. menyikapi ini semua pun ia kelihatan begitu kalem. Seolah-olah sudah paham dengan hal-hal begini dan seolah-olah sudah biasa ditinggalkan. Padahal saya tahu, di hatinya yang terdalam, ia mesti merasa sangat kehilangan. Ia sibuk sejak tadi, membantu membereskan pakaian om Dede dan sekarang papa sedang berada di rumah duka. Katanya “pokoknya papa mesti menganter jenazah sampai ke tempat kremasi”
Buat saya, papa adalah yang terbaik. Ia telah melakukan sesuatu, paling tidak beberapa hari kemarin tidak ia sia-siakan begitu saja. Saya bilang pada papa ketika kami makan bersama tadi siang “pah, seandainya kemarin-kemarin papa tetap sibuk dengan urusan papa dan nggak punya waktu buat om Dede, mungkin sekarang papa nyesel banget ya ?”.
Ketika bercerita, Papa kelihatan selalu tenang. menyikapi ini semua pun ia kelihatan begitu kalem. Seolah-olah sudah paham dengan hal-hal begini dan seolah-olah sudah biasa ditinggalkan. Padahal saya tahu, di hatinya yang terdalam, ia mesti merasa sangat kehilangan. Ia sibuk sejak tadi, membantu membereskan pakaian om Dede dan sekarang papa sedang berada di rumah duka. Katanya “pokoknya papa mesti menganter jenazah sampai ke tempat kremasi”
Buat saya, papa adalah yang terbaik. Ia telah melakukan sesuatu, paling tidak beberapa hari kemarin tidak ia sia-siakan begitu saja. Saya bilang pada papa ketika kami makan bersama tadi siang “pah, seandainya kemarin-kemarin papa tetap sibuk dengan urusan papa dan nggak punya waktu buat om Dede, mungkin sekarang papa nyesel banget ya ?”.
Seketika saya terdiam memikirkan apa yang terjadi dua hari ini- apa yang papa lakukan membuat saya tertegur. Rasa-rasanya saya hampir lupa bagaimana caranya memperhatikan sahabat saya, saya lupa memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. akhir-akhir ini saya begitu-terlalu-sangat sibuk. Saya melalui hari-hari saya begitu saja dengan segala deadline, dengan segala kegiatan yang membuat saya egois dengan diri saya sendiri. Saya hampir saja tidak tau kabar-kabar sahabat saya, seringkali saya hanya me-read bbm atau chat mereka, saya lupa membalas sms atau message mereka. Saya tidak punya waktu sama sekali untuk bertemu dengan mereka. Bahkan ketika saya tau mereka butuh saya sekalipun, saya tetap tidak bisa maksimal ada disana, saya sibuk dengan urusan-urusan saya sendiri. “Oh Tuhan, saya merasa keterlaluan, saya telah sia-siakan mereka”. Saat ini juga,” aku rindu kalian, sahabat, aku selalu berharap yang terbaik untuk kalian”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar