Selama bulan puasa kemarin, sebisa mungkin saya selalu
mendampingi ibu dan mbak yang memasak di dapur. Buat apa? Buat mencicipi
masakan. Mencicipi adalah kegiatan yang penting dalam memasak jika Anda tidak
ingin masakan anda tidak disentuh orang yang also known as failed. Awalnya, ini sih
termasuk perkara mudah karena yang pertama: saya memang sedang free di rumah dan yang kedua saya memang
suka masak dan makan. Lagipula, siapa sih yang nggak suka mencicipi masakan?
Memang nggak segala hal selalu gampang kaya pas kelihatan di
awal. Ternyata mencicipi masakan itu bikin galau
loh ! Beberapa hari yang sama kalimat seperti ini terucap polos dari bibir
saya “udah cukup sih rasanya… tapi ehh, nggak tau deh mbak” sambil diselingi
tawa. Berkali-kali saya mencoba, menyeruput kuah masakan untuk memastikan apa
yang kurang dan apa yang harus ditambahkan. Ternyata rasanya bingung untuk
menentukan apa rasa akhir masakan yang akan dimakan oleh banyak kepala yang
sudah tentu memiliki selera beragam. Dan apalagi saya dipanggil di dapur KHUSUS
untuk “mencicipi” hidangan.
Saya tidak percaya diri. Saya tidak tau apakah rasa yang
menurut saya cukup, menurut orang lain juga begitu? Suatu siang kami masak
sayur asam. sayuran dengan rasa yang beraneka itu membuat saya hampir menyerah.
Bagaimana ini ? rasa manis, asam, asin, dan gurih harus seimbang. Belum lagi
ada kesukaan masing-masing dari berbagai kepala, ada yang suka lebih asam, ada
yang suka tidak terlalu asin, ada yang suka lebih pedas, ada yang suka
sedang-sedang saja. Lalu bagaimana? Semuanya tambah kompleks ketika saya adalah
seseorang yang “perfeksionis” bisa-bisa sedih kalau ternyata masakannya failed padahal jelas-jelas saya yang
bertugas menentukan keseimbangan masakan. lagipula, siapa sih yang rela masakannya gagal?setiap pemasak pasti inginnya menyenangkan setiap perut.
Inikah yang namanya prinsip relativisme? apa yang saya anggap
cukup, bisa ditanggapi dengan beragam respon. Ada yang sejalan, ada yang beda
jalan selera. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang sekaligus, juga tidak
bisa memaksakan orang harus ikut selera kita. Ditengah keputusasaan akhirnya
saya mencoba belajar untuk percaya dengan apa yang saya rasa ‘cukup’, bukan
yang orang lain mungkin rasa ‘cukup’.
Berangkat dari sini, saya belajar untuk menghargai tiap masakan yang merupakan karya seni si koki. Terkadang kita mungkin tidak cukup puas dengan masakan seseorang. Kita berpikir bahwa mereka harus mengenyangkan selera kita. bagaimana kalau dibalik ? bagaimana kalau kita berpikir, kita yang harus menghargai karya seni mereka ? saya percaya, setiap masakan adalah representasi selera dan isi hati si koki. Dan, Kalau kita mau coba ternyata seru juga berpetualang dengan rasa dan selera isi hati koki yang berbeda-beda
cheers,
A
Berangkat dari sini, saya belajar untuk menghargai tiap masakan yang merupakan karya seni si koki. Terkadang kita mungkin tidak cukup puas dengan masakan seseorang. Kita berpikir bahwa mereka harus mengenyangkan selera kita. bagaimana kalau dibalik ? bagaimana kalau kita berpikir, kita yang harus menghargai karya seni mereka ? saya percaya, setiap masakan adalah representasi selera dan isi hati si koki. Dan, Kalau kita mau coba ternyata seru juga berpetualang dengan rasa dan selera isi hati koki yang berbeda-beda
cheers,
A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar