curhat

sudah seminggu belakangan ini hujan mengguyur kota dengan tidak bersahabat-dengan angin kencangnya, dengan ketidakstabilannya, dengan ketidakwajarannya. persis dengan kegiatan yang mengguyur hari-hari saya belakangan ini dengan tidak bersahabat-dengan kepadatannya, kerumitannya, dengan percikan-percikannya. tubuh saya pun protes, sakit perut, pegal-pegal, jerawat bermunculan memenuhi wajah- namanya psikosomatik

saya paham akan hal ini: bergabung dalam kepanitiaan/kepengurusan bukanlah hal gampangan. memutuskan untuk bergabung dalam sebuah kepanitiaan berarti siap untuk menghadapi banyak hal manis-kecut-pahit. dan, memutuskan untuk bergabung dalam beberapa organisasi kepanitiaan/ kepengurusan berarti siap untuk mengalami "lebih". 

"mendadak, rutinitas yang biasa saya alami ini bagai monster yang siap menerkam saya. kepanitiaan yang tidak beres, orang-orang tidak bertanggungjawab, staff yang selebor, orang yang sulit diajak berkerjasama, ketua-ketua yang terlalu idealis, pemimpin-pemimpin yang kurang perhitungan, jadwal-jadwal yang bentrok, struktur dan area tugas yang tidak jelas, tugas-tugas dadakan, permintaan-permintaan yang labil, perubahan-perubahan sepihak, pertemuan-pertemuan yang mendadak, tugas-tugas yang tak kunjung selesai, komunikasi terhambat".

dari hati yang paling dalam saya cuma mau bilang, "saya lelah, butuh rehat, sejenak saja"

kadang otak yang menyerupai sepotong roti ini mendamba bisa memberhentikan waktu sejenak. ingin santai sejenak, ingin bersenang-senang sejenak tanpa memikirkan apa-apa. .namun, seandainya waktu diberhentikan sekalipun saya rasa tidak terlalu menolong banyak juga, toh tanggungjawab saya belum selesai. tentu mereka akan tetap menghantui saya dalam waktu-waktu santai curian saya.dan masalahnya lagi, hidup tidak akan terlepas dari tantangan, kita tidak akan pernah lepas dari tanggungjawab.

jadi bagaimana?

saya rasa, yang seharusnya saya dambakan adalah sebuah kerendahan hati,  yang  akan menuntun saya untuk bersyukur dalam menghadapi setiap hal-hal tak terduga, menghargai dan menerima setiap orang dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing, menuntun saya mengerjakan semuanya dengan tulus, tidak menganggap mereka sebagai beban namun menganggap mereka sebagai sahabat untuk bekal belajar.

dan terlebih lagi, "kerendahan hati" akan menuntun saya menyadari bahwa saya tidak akan bisa mengerjakan semuanya sendiri dan menikmati setiap proses tanpa Dia bersama dengan saya.

koordinator buletin senat mahasiswa kepengurusan 2011-2012
koordinator pembinaan komisi remaja 2011-2013
staff publikasi dokumentasi panitia dies natalis FKIP ke-51 2012
koordinator publikasi dokumentasi championskip 2012
koordinator acara TOC XVI 2012
staff publikasi dokumentasi Korean Festival 2012
staff publikasi KKR siswa jabodetabek 2012

Hey kalian mari datang satu-satu pada saya ! tidak akan saya jadikan musuh, akan saya jadikan sahabat ! akan saya nikmati kamu-kamu sekalian :)

catatan: sedang berusaha bangkit. itulah kata yang tepat mewakili keadaan saya sekarang. saya sedang merasa terlalu banyak urusan, masalah, pikiran, dan tanggungjawab. stressor tidak melulu disebabkan oleh masalah 'kepanitiaan' yang saya ceritakan diatas. ada berbagai hal lain yang turut menjadi stressor pada hari-hari belakangan ini , beberapa diantaranya adalah pergumulan pribadi, tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan, kegiatan-kegiatan formal maupun informal yang bentrok, kesulitan memenuhi tanggung jawab pribadi sebagai anak-sahabat-rekan-partner-pelayan-kakak pembina. selain belajar mengenai kerendahan hati, kali ini lagi-lagi saya belajar banyak tentang manajemen waktu. tulisan ini tidak bermaksud untuk mendramatisir, ini semata-mata saya lakukan untuk mensharingkan keadaan saya sekarang. dan semoga kalian yang sedang mengalami hal yang sama, segera berusaha bangkit juga ya! mengeluh tidak ada gunanya, namun kerendahan hati adalah sebuah kunci :)

God is good all the time ! let's enjoy every things in life :)

kesetiaan

akhirnya saya kembali lagi kesini, melanjutkan apa yang pernah saya mulai...

dan mendapati kesetiaan adalah sesuatu yang sangat teramat mahal harganya. 


"orang bisa saja memiliki ide hebat, tapi tak akan terwujud tanpa ada kesetiaan untuk mengerjakannya. orang bisa saja memiliki cinta yang besar, tapi tak akan bertahan tanpa kesetiaan untuk mencintai. orang bisa saja memiliki janji suci, tapi tak akan sempurna tanpa sebuah kesetiaan untuk memenuhinya".

inilah yang sering dilupakan itu, namanya "kesetiaan". sering dipandang sebelah mata, namun sebenarnya tidak pantas diperlakukan begitu. entah ada berapa banyak proyek tidak selesai karena tidak ada kesetiaan dalam mengerjakannya? entah berapa sering niat tulus tidak terwujud karena tidak ada kesetiaan untuk mewujudkannya? dan entah berapa banyak hubungan relasi pertemanan, kekasih, suami-isteri rusak karena kurangnya kesetiaan?

bukan saja mengenai hubungan antar manusia, tapi juga hubungan antara manusia dengan apa yang dikerjakannya. dan, siang ini saya kembali kesini, melanjutkan apa yang telah saya mulai sebelumnya.



kisah seorang anak muda

lanjutan postingan sebelumnya...


"dari sorotan matanya telah terpancar hal itu, dan benar saja kau mengatakannya dengan sederhana "aku mendapat kepuasan ketika membuat lawan bicaraku diam"
gadis itu lebih sering berbicara dan terus saja berbicara, mengeluarkan argumen-argumen yang sebenarnya tidak terlalu kokoh untuk diperjuangkan, semata-mata hanya untuk mempertahankan egonya sendiri. bahkan seringkali tidak meresapi terlebih dulu apa yang lawan bicaranya katakan- ia-terlalu-cepat-berpikir-untuk-membela-diri padahal tidak ada yang sedang ingin merobohkannya.

ia hanyalah seorang gadis muda belia. jiwanya bergelora, emosinya meluap-luap, mirip dengan anak muda kebanyakan.

"ia terus saja mendebat. katanya, ada teori yang mengatakan bahwa "hidup adalah tentang pernyataan yang tegas" dan "dia yang berani berteriak dia yang bertahan"
teori itu ada benarnya juga, tapi tidak sepenuhnya benar, kawan. sebuah teoripun musti diperlakukan dengan tepat di saat-saat yang tepat

notes: this story is about me and my self. come from the conversation between me, myself and I. hope it could be inspiring you, guys !:)

surat untuk anak muda yang sedang belajar untuk menjadi bijak

siapapun seringkali cenderung paling tegas jika hanya tahu paling sedikit.

"para pendengar yang mengetahui kebenarannya mengabaikanmu,
sementara yang tidak, sebaliknya merasa terpesona oleh kepercayaan diri dan ketegasanmu"
berapa kali anda merasa terlalu percaya diri dengan pendapat-pendapat anda? dengan ketegasan anda? dengan kemampuan anda berbicara dan mempengaruhi yang lain? berapa kali anda mendapat kepuasan karena telah membuat lawan bicara anda diam?

sesungguhnya, berhati-hatilah dengan kepercayaan diri dan ketegasan.
teliti dengan sebuah keputusan dan idealisme.
seorang anak kecil tak selamanya harus menjadi naif.
kita perlu mencari tahu banyak, melihat banyak, belajar banyak.
yang diam bukan berarti setuju,
bisa jadi mereka mengabaikanmu

hati-hati dengan ketegasanmu, suatu saat kau akan mendapati dirimu terlalu naif.

ps: kepada anak-anak muda dan rekan sejawat. mari belajar, belajar, dan belajar untuk menjadi bijak. jangan terlalu percaya diri dengan pemikiran-pemikiran yang kita punya, yang sesungguhnya belum ada apa-apanya. terus semangat belajar ya !:)

surat untuk tuan pelatuk

Tuan pelatuk itu,
paruhnya kuat seperti pahat
paruhnya bisa mematuk lubang yang dalam,
di ranting-ranting pohon. 
dan seperti paruhnya, pikirannya pun kuat.

aku menghargai kekuatan paruhnya,
jadi aku lebih suka untuk tidak mendebatnya.

ps: kepada burung pelatuk yang gemar mematuk.
saya terkagum dengan kekuatan paruh anda. dan ketika saya memilih diam, itu artinya saya sangat menghargai anda.