pergeseran sebuah makna natal



Natal

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi sebuah mall besar di ibukota. Di lobby utama mall tersebut sudah ada pohon natal yang ukurannya sangat besar, terbuat dari bola-bola berwarna merah dan silver berdiameter  sepuluh sentimeter. Pohon natal tersebut dihiasi dengan ornamen-ornamen cantik yang memperindah tampilan pohon natal itu. Ketika melihat pohon natal yang besar itu saya spontan diingatkan “sudah mau natal rupanya”.
Natal memang sangat identik dengan pohon natal dan ornamen-ornamen lainnya yang menmbawa kesan tentang natal. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, beberapa mall atau tempat umum lainnya di Jakarta dipasangi ornamen-ornamen bernuansa natal untuk menghadirkan kesan ‘natal’ di bulan Desember.
Menurut saya hal tersebut adalah hal yang sah saja untuk dilakukan, karena mereka bermaksud menciptakan suasana ‘natal’, yang juga dapat dinikmati oleh masyarakat non kristiani. Selayaknya lebaran, suasana lebaran juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat  tanpa memandang apa agama yang dianut.
Namun sayangnya bagi umat Kristiani yang seharusnya benar-benar merayakan natal, ornamen natal ini justru menggeser arti natal itu sendiri. Kebanyakan orang terlalu fokus kepada hiasan, ornamen, pohon natal, perayaan, kado, dan ciri khas natal kebarat-baratan lainnya tanpa memahami betul makna natal yang dilewati setiap tahunnya. Akhirnya, natal hanyalah sebuah event tahunan, yang setiap tahunnya berlalu begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar