Aku tak pernah menyangka, aku dan kamu, kamu dan dia, dia dan mereka. Ternyata kita semua sebenarnya sama. Kita semua pasti berpikir tidak mungkin. Namun, gejolak nadi dalam raga berkata demikian, “kita semua sama” Hanya saja kita terpisah oleh sedikit garis tipis transparan, yang tak kasat mata.
Tadinya kupikir, “akulah yang paling berbeban”, bahwa akulah yang paling terhina, akulah yang paling tersakiti, bahwa akulah yang paling terlukai, bahwa akulah yang paling teraniaya, bahwa akulah yang segalanya.
Tadinya kupikir memang begitu. Sampai di suatu ketika aku mengerti sebuah rahasia kepunyaanmu. Rahasia di balik senyum dan tawamu yang selalu mengembang. Yang ternyata tidak sepenuhnya murni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar