pembekuan sperma

Hari minggu kemarin saya nonton satu acara talkshow terkenal di televisi. Acara tersebut menghadirkan bintang tamu, yaitu para ilmuwan berprestasi.

Semua ilmuwan yang dihadirkan sebagai bintang tamu merupakan "anak Indonesia asli". Sekarang mereka bertebaran di berbagai belahan dunia dan berprestasi disana, seperti: Malaysia, Amerika, Jepang, Australia, Belanda. Masing-masing dari mereka punya spesifikasi sendiri. Ada ilmuwan yang melakukan riset  tentang IT dan masyarakat pedesaan, ilmuwan yang mensingkronisasi antara IT dan humanisme, ilmuwan teknologi makanan dan Gizi, Ilmuwan tentang antartika. Ada yang berhasil menemukan planet, ada yang berhasil menemukan alat komunikasi 4G, berhasil menemukan sensor untuk lemak babi, dan yang paling menarik adalah berhasil menemukan cara untuk pembekuan sperma manusia dengan murah meriah.

Pembekuan sperma? yang terakhir ini adalah yang paling menarik untuk saya. Pembekuan sperma ini konon katanya digunakan untuk orang yang ingin melaksanakan proses bayi tabung. Seorang wanita yang tidak bisa hamil dipaksa untuk hamil dengan proses bayi tabung.

Apa yang terlintas di dalam pikiran anda? Semua orang di dalam acara tersebut jelas terkagum-kagum. Atau bahkan penghargaan yang berhasil diraih oleh ilmuwan tersebut menggambarkan betapa banyaknya orang yang mengakui keberhasilannya. Penemuan akan bayi tabung sendiri sebenarnya sudah sangat lama, sedangkan ilmuwan yang menjadi bintang tamu di acara tersebut menemukan cara pembekuan sperma dengan biaya yang murah.

Berbicara soal bayi tabung.

Yang menarik buat saya adalah, “apakah bayi tabung yang dipandang terobosan hebat itu memang dikehendaki sang Pencipta atau tidak?”, logikanya begini, sepasang suami istri menikah, kemudian Tuhan percayakan kehamilan pada rahim sang istri melalui pertemuan sel telur dan sel sperma , lalu jadilah janin, lahirlah bayi. Tapi kalau seandainya yang terjadi sebaliknya bagaimana? Laki-laki dan perempuan menikah, kemudian tidak ada kehamilan, tidak ada keturunan, berarti bisa disimpulkan bahwa ‘’sang Pencipta tidak atau belum berkehendak akan kehamilan itu bukan?’

Kabar baiknya, manusia dibekali otak yang luar biasa hebat. Apa yang tidak ada, bisa dibuat menjadi ada- termasuk untuk menciptakan kehamilan melalui bayi tabung. Kontroversial bukan? Disatu sisi kehamilan itu harusnya bersifat alamiah dari Allah. disisi lain, otak yang pintar, teknologi yang hebat, itupun terjadi atas anugerah Allah, otak yang hebat itupun pemberian Allah. Lalu, bagaimana anda menilainya?

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu menguasai kehidupan manusia, ternyata ada kalanya kita harus berdiam diri sejenak, meresapi dalam-dalam bahwa “itu semua hanyalah pemberian”  yang seharusnya “digunakan dengan kebijaksanaan” untuk “menyenangkan hati sang pemberi itu sendiri”.


*tulisan dalam postingan ini telah tersimpan lama dalam draft entry. waktu penayangan acara yang saya maksudkan adalah berbulan-bulan yang lalu.


penyakit fatal

sadar atau nggak sadar, tiap orang pasti punya minimal satu sifat buruk dalam hidupnya. ya kalo saya, tentu saja lebih dari satu. tapi, kali ini saya mau bicara sifat yang terburuk dan terfatal (dalam konteks hari-hari belakangan ini).

ketika saya memutuskan untuk menulis postingan ini, otak saya sedang penuh dengan segala macam to do list yang harus segera dikerjakan, deadline-deadline yang terbengkalai, pergumulan-pergumulan yang masih pending, keputusan-keputusan yang tertunda, relasi-relasi yang 'mulai' tak terjaga dengan baik, dan masih banyak lagi pikiran-pikiran lainnya yang disebabkan oleh satu sifat fatal, yang pada pagi ini saya deklarasikan sebagai penyakit yang fatal

Saya tau saya manusia biasa, belum punya sayap dan lingkaran putih diatas kepala macam mailakat. saya tau, manusia tidak ada yang sempurna, tapi, sifat ini benar-benar fatal. saya terlalu sering dan terlalu memberikan banyak toleransi untuk diri saya sendiri. yak, satu kalimat "saya terlalu sering menunda-nunda" dan saya sama sekali tidak bangga akan hal ini. 

Dari awal kalimat hingga paragraf diatas ini, mungkin kalian sering menemukan kata 'fatal'. yak, saya tidak berlebihan dan tidak sedang mengawang-awang. kebiasaan buruk ini telah menciptakan beberapa kefatalan, dan tentu saja sifat buruk ini tidak memuliakan Allah.

...
Hemmmm *tariknapas* oke, setelah menulis beberapa baris, hati saya semakin tenang (inilah keindahan seni menulis). paling tidak, pertama "saya masih diberikan kesempatan untuk sadar bahwa sifat menunda itu adalah sifat yang buruk", kedua "saya tidak bangga sama sekali dengan sifat ini", ketiga"saya cenderung menganggapnya fatal, secara tidak langsung saya menganggap ini serius", keempat "saya mau berubah(mau banget)", dan kelima "saya tau, kalian yang membaca ini akan dukung dan doakan saya"

Pada akhirnya, saya mau bilang... menyadari sifat buruk kita adalah suatu hal yang penting. jujur, sebenarnya saya menyadari ini sejak lama, tapi tidak saya akui dengan tegas. malahan saya menyalahkan 'keadaan' yang membuat saya menunda-nunda ini dan itu. oke, berarti setelah disadari, diakui, maka harus ditindaklanjuti dengan tegas. setelah postingan ini saya post, saya yakin sifat tersebut masih ada (tidak tiba-tiba hilang) tapi paling tidak, ada semangat baru, ada gairah untuk melawan dengan tefas sifat menunda-nunda ini :)

dan akhir kalimat, selamat menemukan sifat buruk guys, menyadarinya, lalu berusaha membasminya! :)

dalam perjalanan

jika dalam perjalanan yang kamu tempuh,
tiba-tiba hatimu meragu, berhentilah sejenak untuk bertanya.

jika ia yang kau tanyai tak dapat memberi jawaban pasti,
maka berhentilah sejenak untuk berdiam diri.

jika jalan yang kautempuh tetap tak tentu arah,
segeralah berbelok- mungkin engkau sudah salah jalan.

terimakasih untuk kamu, karena telah meluangkan waktu berjalan bersama.
sampai disini cerita kita, mungkin memang kita tak harus bersama

bersahabatlah karena butuh

Saya baru saja dikejutkan dengan pernyataan sahabat dekat saya yang isinya begini ''sebagai sahabat, aku ga diperlakuin sebagai sahabat, aku ngerasa dicari kalo lagi butuh doang''

Pernyataan yang memaksa mata saya terbuka lebar-lebar itu tidak muncul begitu saja. ada sebab, hingga pembicaraan kami berakhir di pernyataan macam itu.

Awalnya, saya dan dia sedang chatting . Lalu, karena ada keanehannya yang saya rasakan(memang rasanya ada yang sedang tidak beres diantara kami), saya lantas bertanya dengan pertanyaan yang menukik tajam, ''kenapa kamu?'' dia diam, hening. Saya menunggu beberapa waktu sambil terus menanyakan hal yang sama. tak ada hasil, lalu saya bertanya lagi ''kenapa kamu selalu diam, selalu tertutup?'' dia hening. Lalu, saya lanjutkan dengan satu kalimat tanya ''gimana ya rasanya kalo seorang sahabat diperlakukan tidak sebagai sahabat?'' lantas, dia menjawab ''sebagai sahabat, aku engga diperlakuin sebagai sahabat, aku dicari kalau lagi butuh aja'' ini adalah pernyataan yang frontal, tidak kalah menukik dibanding dengan kalimat tanya yang saya lontarkan.

Saya spontan menjawab,

Sahabat bukannya ada untuk membutuhkan dan dibutuhkan ya? bukannya harusnya semakin merasa senang kalau dibutuhkan? Dan, bukannya memang pada kodratnya manusia hidup saling membutuhkan? Kasarnya, kalau tidak ada kebutuhan, justru terasa hampa bukan? ironisnya, mungkin bisa jadi kehilangan topik pembicaraan, atau bingung apa yang akan dilakukan, betul tidak ?

Saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan pernyataan yang dianggap frontal tersebut. Justru saya merasa sepaham dengan hal tersebut. Saya memang begitu.

Saya mencari sahabat saya dikala butuh. Secara kasat mata, ketika saya butuh pendapat, butuh dibantu ini itu, butuh didengar,dsb saya akan mencari sahabat saya. Tapi, jangan lupa ! ada kebutuhan tersirat yang tidak bisa dimaklumi secara asal. Ketika saya peduli, ketika saya ingin tau keadaan mereka, ketika saya memperhatikan mereka walau hanya dari kejauhan, ketika saya mau ikut campur dengan urusan mereka, kala itu saya butuh merasa dibutuhkan sebagai sahabat. Sahabat yang memang berperan sebagai 'sahabat'. kala itu pula saya butuh mengaktualisasikan diri sebagai sahabat yang sesungguhnya.

Misalkan sebaliknya, ada sahabat yang justru jarang mencari sahabatnya, untuk hanya sekedar sharing pun tidak. nampak tidak ada kebutuhan akan kehadiran sahabatnya. Lalu, bagaimana kira-kira rasanya sebagai sahabatnya? Merasa tidak dibutuhkan? merasa jangan-jangan saya bukan sahabatnya? Betul tidak?

Jadi, menurut saya, bersahabatlah karena butuh. merasa dibutuhkan itu penting, merasa membutuhkan juga tidak kalah penting, dan seorang sahabat harus tau kalau ia merangkap keduanya, sebagai orang yang membutuhkan dan dibutuhkan :)

...

Walau barangkali hanya bisa menatap dari kejauhan, walau barangkali mereka tidak menyadari ada sepasang bola mata yang terus memperhatikan, tidak apa-apa. Saya tau, sudah sejak jauh hari hati ini mengatakannya: aku butuh mereka, aku sayang mereka, dan mereka akan tetap menjadi sahabat sampai selama-lamanya.

Regards, joey :')  

tangga

Tangga

Sederhana saja kita menyebutnya, tangga. namun fungsinya tidak pernah sesederhana itu. Ia, yang selalu pasrah membawa kita naik-turun-naik-turun, seringkali menjadi saksi bisu pertemuan antar dua manusia.

Entah berapa kali dalam hidup saya, atau paling tidak setahun belakangan ini terjadi banyak pertemuan tak terduga di sebuah ruang polos yang kita namai tangga. Seringkali menjadi pertemuan biasa saja, tapi beberapa diantaranya menorehkan makna seperti halnya pertemuan singkat sore tadi, dengan seorang yang tidak saya sangka.

***
sore tadi seusai kelas di lantai 4, saya bergegas menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Karena satu dan lain hal, saya turun seorang diri saja tanpa teman. Dengan percaya diri satu persatu anak tangga saya lalui, hingga di anak tangga kesekian di lantai 2 saya bertemu dengan seseorang. Ia, seorang Bapak dosen yang dulu pada awal perkuliahan pernah mengajar saya. Dosen unik yang tidak biasa. Benar, ia adalah orang  yang dulu pernah menarik perhatian saya.

sudah lama saya tak bertemu dengannya. Mungkin hampir setahun. sudah lama saya tak lagi pernah mengingat-ingat orang yang dulu saya kagumi itu. Tiba-tiba saja pertemuan tadi sore terjadi, dengan begitu alami.

pertemuan sederhana itu meninggalkan kesan mendalam setelah sebuah kalimat keluar dari mulutnya ''kamu sekarang kelihatan tambah dewasa ya'' kalimat ini terucap dengan polosnya, dibumbui dengan senyum, dan sorot mata hangat.Kemudian saya membalas dengan cepat ''ah, makasih loh pak'' ditambah senyum tentunya. Lalu saya berpamitan, dan berjalan menuju arah yang berbeda.

Percakapan sore tadi begitu singkat. Namun setidaknya dengan satu kalimat tersebut ia berhasil membuat saya tersenyum. setidaknya saya tau, ia adalah orang yang dulu menyaksikan keberadaan saya, dan sekarang ia pun menyaksikan sebuah perubahan yang baik.